Satu Dekade Menanti Rumah Budaya, Catatan dari Malam Memorabilia Hasan Bahasyuan

TEKAN TOMBOL- Tekan tombol secara bersama-sama menandai tour memorabilia dokumen dan arsip, mendiang Hasan M Bahasyuan di Raego Kafe, Kamis 2 April 2026.

PUBLIK Sulawesi Tengah jamak mengenal sosok Hasan M. Bahasyuan (1930-1987) sebagai sang maestro yang merajut identitas kolektif daerah melalui untaian tari, lagu, dan lakon. Namun, jarang yang menyadari bahwa langkah sang maestro tidak hanya gemulai di atas panggung budaya, tetapi juga tangkas di lintasan atletik dan lapangan tenis.

Narasi yang selama ini tersimpan rapat dalam ingatan keluarga dan lingkaran terbatas budayawan itu, akhirnya tersaji elok pada malam tadi, Kamis 2 April 2026. Melalui pameran memorabilia serta dokumentasi arsipnya, sosok Hasan Bahasyuan dihadirkan kembali secara utuh, sebagai seniman sekaligus olahragawan yang jejaknya mengabadi di hati banyak orang.

Raego Kafe, sebuah ruang seni di Jalan Kimaja, Palu, yang tak seberapa luas tampak penuh sesak oleh kehadiran puluhan pasang mata malam tadi. Mereka datang untuk menyapa kembali fragmen sejarah artefak yang tersisa setelah sebagian besar dokumentasi berharga itu hilang oleh musibah tsunami di kediaman almarhum, Jalan Diponegoro, tujuh tahun silam.

MENGAMATI FOTO – Mantan Gubernur Sulteng Rusdi Mastura mengamati foto-foto sepak terjang almarhum Hasan M Bahasyuan semasa hidupnya.

Meski agenda sempat tertunda beberapa saat sembari menanti kehadiran Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid yang menjanjikan bakal datang,  yang kemudian diwakili oleh putra beliau, Muhammad Fathur Razak. Namun kekhidmatan malam kenangan tersebut tetap terjaga, diawali dengan lantunan doa yang ‘’membasuh’’ suasana. Di tengah sesaknya orang, saya sempat merekam gerutu kekecewaan ketidakhadiran orang nomor 1 di Sulawesi Tengah itu.

Wajah-wajah yang tak asing dalam kancah kesenian Kota Palu tampak berbaur di antara para tamu. Terlihat Muhammad Yusuf Radjamuda yang akrab disapa Papa Al, seorang sineas yang karya-karyanya telah melanglang buana di festival internasional, bersanding dengan para pegiat seni, konten kreator serta jajaran tokoh publik. Mantan Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdi Mastura, pun hadir memberikan penghormatan. Beliau tampil bersahaja dalam balutan kaos putih yang senada dengan tajuk acara, Memorabilia M. Hasan Bahasyuan: Pameran Dokumentasi dan Arsip.

Suasana kian hening saat sebuah film dokumenter berdurasi 10 menit mulai memikat perhatian hadirin. Meski film tersebut lebih banyak memotret masa keemasan almarhum saat berada di puncak kreativitas seninya tanpa sempat menyentuh rekam jejaknya di lintasan olahraga. Publik tetap dibawa menyelami dalamnya dedikasi beliau. Melalui fragmen demi fragmen yang tersaji, terpancar jelas sebuah pengabdian tanpa pamrih bagi khazanah kebudayaan Sulawesi Tengah.

Suasana malam memorabilia kian berdenyut ketika Neni Muhidin, seorang aktivis literasi, menyampaikan pengantar kuratorial yang menggugah. Mengenakan syal bermotif kuffiyah Palestina, Neni mengajak masyarakat seni dan publik luas untuk menempatkan kebudayaan pada ruang perhatian yang lebih khidmat. Selama puluhan tahun, Hasan Bahasyuan Institute (HBI) telah tekun merajut beragam pertunjukan serta ruang dialog guna menghidupkan kembali karya-karya besar sang maestro.

Upaya ini mencakup advokasi hingga membawa narasi karya almarhum ke dalam dimensi yang lebih segar dan relevan dengan semangat zaman. ‘’Apa yang diikhtiarkan oleh teman-teman di HBI memiliki kemuliaan yang setara dengan perjuangan almarhum itu sendiri,’ tutur Neni dengan penuh penekanan.

Di tengah riuh rendah acara, gagasan mengenai Hasan Bahasyuan Culture House di Bumi Nyiur kembali diletakkan di atas meja diskusi. Mengenakan kaos polo yang menjadi artefak, Neni mengisahkan kembali mimpi tentang rumah budaya tersebut yang kini telah melampaui usia 14 tahun namun masih menanti wujud nyatanya.

‘’Pak Darto (Wakil Gubernur) sempat memberikan angin segar, meski akhirnya niat baik tersebut belum sempat terwujud,’’ ungkap Neni, menyisipkan setitik harapan di balik catatan yang belum usai. Neni hanya sesaat berada di podium, namun pesannya menancap kuat dalam di benak kami.

Prosesi pun berlanjut. Ditandai dengan menekan tombol secara bersama-sama, antara lain para dedengkot HBI, tokoh birokrasi dan Rusdi Mastura. Di antara mereka terselip seorang tokoh muda Muhamad Fahtur Razak, yang mengambil peran krusial dalam merevitalisasi tujuh gubahan lagu Hasan Bahasyuan. Ruang pamer yang berukuran sekira 6 x 4 meter itu serasa pengap dipenuhi antusiasme puluhan pengunjung yang ingin menyentuh lebih dekat kepingan sejarah.

Namun, begitu pandangan menengadah ke deretan foto di dinding serta barisan arsip dari medio 1950-an hingga 80-an, cakrawala pikiran mendadak meluas. Bingkai-bingkai hitam putih dan aneka dokumen yang terawat apik menjadi jendela waktu yang memesona.

Menelusuri garis waktu melalui dokumen-dokumen otentik serta guratan tanda tangan para tokoh publik di masa itu, kita sejenak tak hanya diajak menyelami riwayat sang Maestro. Lebih dari itu, kita seolah dibawa menapaktilasi perjalanan panjang pemerintahan di Sulawesi Tengah. Melalui deretan memorabilia ini, terungkap bahwa kita tidak semata sedang mengenang sosok almarhum, melainkan juga sedang mengikuti jejak langkah usia provinsi ini sendiri.

Muncul sebuah sensasi deja vu saat menyaksikan nama-nama pejabat publik yang tertera pada ratusan piagam penghargaan almarhum. Garis waktu yang tersaji secara apik ini seakan menggiring kita untuk merenungi kembali perjalanan daerah yang akan genap memasuki usia ke-62 pada 13 April mendatang.

Ternyata sejarah personal Hasan Bahasyuan dan sejarah besar Sulawesi Tengah saling berkelindan dengan begitu indahnya. Membingkai malam memorabilia dengan HUT Provinsi Sulteng, panitia dan HBI ingin menegaskan, daerah ini berdiri tak hanya oleh otot politik tapi juga dengan narasi dan laku kebudayaan.

Di  memorabilia ini, tersingkap pula beberapa faset kehidupan yang selama ini luput dari mata publik. Lembar-lembar catatan sejarah tersebut memperlihatkan sosok Hasan Bahasyuan sebagai seorang pelari (sprinter) yang tangguh, terbukti melalui piagam serta potret masa mudanya yang tampak begitu energik.

Tak hanya itu, gema perjuangan pun turut mewarnai riwayatnya. Beliau tercatat terlibat dalam konfrontasi fisik mempertahankan kemerdekaan pada rentang tahun 1945 hingga 1949.

PENGANTAR KURATORIAL – Aktivis literasi dari Nemu Buku, Neni Muhidin membawakan pengantar kuratorial pada malam memorabilia dokumen dan arsip di Raego Kafe, Kamis 2 April 2026.

Meski dokumen yang tersedia tidak merinci secara sepihak palagan gerilya yang beliau lalui, sebuah berkas lawas tertanggal Maret 1981 menjadi saksi bisu saat Bahasyuan mengisi formulir pendaftaran calon veteran RI. Tak pelak, sisi lain kehidupan sang Maestro  mengundang  rasa kagum dari para pengunjung yang menyaksikan kedua dokumen bersejarah tersebut. ‘’Beliau juga angkat senjata. Tapi kita hanya tau dia pencipa tari Pamonte,’’ celetuk salah satu pengunjung.

Ruang memorabilia ini turut menyingkap sisi lain dari proses kreatif sang maestro yang melampaui batas geografis. Meski menetap di Lembah Palu yang kental dengan budaya Kaili, kreativitas Hasan Bahasyuan tak lantas terbelenggu oleh satu warna etnis saja.

Beliau justru merawat keberagaman dengan menggubah lagu-lagu dari berbagai penjuru Sulawesi Tengah. Jejak musikalitasnya menyentuh sanubari masyarakat di luar Kaili. Mulai dari tarian khas etnis Pamona di Poso, hingga gubahan lagu yang membawa ciri kultural yang kuat dari tanah Banggai.

Dalam setiap lawatannya ke berbagai penjuru daerah, proses kreatif sang maestro seolah tak pernah berhenti berdenyut. Di mana pun kakinya berpijak, ia menenggelamkan diri untuk menyelami dinamika humaniora serta denyut nadi masyarakat setempat.

Dari persentuhan itulah, lahir karya-karya seni dengan karakter kultural yang begitu kuat. Tak sekadar menyesuaikan lirik dengan bahasa daerah, namun ruh lagu hingga falsafah gerak tarinya benar-benar berakar pada tradisi otentik masyarakat setempat.

Saat berbincang santai di kediaman Direktur Eksekutif HBI, Zulfikar Usman, kami kembali mengakui ketajaman intuisi almarhum yang luar biasa. ‘’Biasanya ciri etnis itu hanya tersirat dari liriknya. Namun, karya beliau jauh melampaui itu. Ia menangkap sukma dari tradisi tersebut,’’ tutur Zul penuh takzim.

Pameran bertajuk ‘Memorabilia Hasan M. Bahasyuan’ ini katanya kami hadirkan bukan sekadar sebagai pajangan arsip, melainkan sebagai sebuah ruang ingatan yang hangat bagi kita semua.

Saat membuka acara, Zul mengakui, bagi mereka di HBI, pameran ini sebagai ikhtiar tulus untuk terus merawat jejak hidup sang maestro. Beliau telah menapaki jalan kebudayaan dengan kesungguhan dan pengabdian yang luar biasa. Melalui dokumentasi yang tersaji hari ini, kata dia kita diajak menelusuri kembali perjalanan hidup beliau secara utuh.

Mulai dari masa muda yang menempa karakternya, fase perjuangan yang menguatkan jiwanya, hingga masa keemasan dalam berkarya yang telah memberi arti begitu besar bagi daerah kita tercinta.

‘’Seluruh kepingan sejarah ini telah terajut apik dalam barisan arsip yang kini tersaji di hadapan kita semua. Selamat menyelami kembali jejak sang maestro,’’ ucap personel Culture Project ini.

RAMAI – Pengunjung para pegiat seni, konten kreator filmmaker mengikuti malam memorabilia dokumen dan arsip, mendiang Hasan M Bahasyuan di Raego Kafe, Kamis 2 April 2026.

Malam memorabilia ini, sambung Zulfikar, merupakan langkah awal menuju ikhtiar yang lebih besar. Sebuah rumah kebudayaan Hasan Bahasyuan yang telah digaungkan sejak belasan tahun silam.

Setidaknya, dengan terwujudnya harapan tersebut, karya serta jejak langkah sang maestro akan terus menyejarah. Tidak hanya bagi keluarga, namun akan tersimpan rapi dalam lipitan pikiran generasi kini dan nanti. Menjadi kompas yang terus menuntun arah kebudayaan kita. ***

Penulis: Yardin Hasan
Foto-foto: Dok HBI

Tinggalkan Balasan