Kisah Watu Mpogaa, Penanda Perpisahan Sekaligus Pengikat Janji untuk Pulang

PENCERITA - Helmy Kalengke, , pensiunan guru SD, Tokoh majelis adat di Pamona, menceritakan kisah Watu Mpogaa kepada rombongan Ekspedisi Geopark Poso di halaman Gereja Bethel Tentena

Di halaman Gereja Jemaat Bethel, Kota Tentena, berdiri tujuh batu. Orang-orang menyebutnya watu mpogaa. Tujuh batu itu dipercaya sebagai tanda perpisahan, sekaligus penanda janji. Mereka adalah lambang perjalanan orang-orang Pamona yang menyebar keempat penjuru mata angin, membawa nama dan warisan bangsanya.

DULU, sebelum wilayah ini dikenal sebagai Tentena, tempat batu-batu itu berdiri disebut Bukit Pamona. Di sinilah pusat kekuasaan berada. Di puncaknya berdiri istana, rajanya bernama Rumbenunu.

Namun, sebelum Kerajaan Pamona terbentuk, ratusan tahun sebelumnya, hidup seorang tokoh penting bernama Belobandera. Dialah orang pertama yang menemukan api melalui gesekan batu. Penemuannya menjadi titik awal bagi perubahan kehidupan masyarakat. Istrinya bernama Olamani.

Temuan  Belobandera, peradaban membaik, maka berdirilah Kerajaan Pamona. Raja pertamanya bernama Datu Rumbenunu, dengan permaisuri bernama Memetu. Sang raja dikenal bijaksana, dihormati rakyatnya dan hidup dengan aturan yang dijaga ketat.

Raja ini spesial. Makanannya  hanya dari bahan pangan halus, lauknya otak ikan, dikenal sebagai ikan kosa oleh orang Pamona. Minumannya dari sari pinang muda. Air untuk mandinya diambil langsung dari tengah Danau Poso, tempat yang tidak pernah disentuh siapa pun selain dirinya.

Kehidupan Sang Raja bahkan diabadikan dalam syair:

“Ri Pamona tuwu Datu pangkooninya,

otak kosa uenainunya air pinang muda”

Setelah Datu Rumbenunu wafat, kekuasaan dilanjutkan oleh Raja Ndori, bersama permaisuri Rai Gononggo. Mereka dikaruniai lima anak, yang kelak semuanya akan menjadi raja. Berikutnya, tampillah Raja Opu Mokole sebagai raja ketiga, didampingi istrinya Rai Nggeli. Mereka pun memiliki lima orang anak yang dipersiapkan untuk melanjutkan pemerintahan. Raja keempat adalah seorang perempuan, bernama Rumungi. Ia menikah dengan Lasaeo, pria yang dipercaya bukan berasal dari bumi, tetapi turun dari kayangan.

Mereka memiliki lima anak, salah satunya adalah Sawerigading. Dalam banyak cerita, Sawerigading dikukuhkan sebagai Datu Luwu Palopo, yang berkedudukan di Palopo. Seiring waktu, Kerajaan Pamona mengalami kekosongan kekuasaan. Tidak ada lagi raja yang memerintah. Bukito, adik dari Sawerigading, seharusnya menggantikan, tetapi ia menolak. Ia merasa malu karena memiliki cacat fisik. Kulit tubuhnya berbintik-bintik.

Untuk mengisi kekosongan itu, Sawerigading, sebagai Datu Luwu Palopo, diangkat pula sebagai penguasa Pamona. Sejak saat itu, kekuasaan atas tanah Pamona dipegang penuh oleh Luwu. Rakyat Pamona diwajibkan menyetor upeti ke Palopo.

Sawerigading memiliki seorang anak bernama Manderitana, yang kemudian dikirim ke Pamona sebagai wakil kerajaan Luwu. Manderitana diberi wewenang memerintah atas nama Luwu di tanah itu. Ia memiliki tiga orang anak, Ampu Lembah, Taru Mampu, dan Balailo.

Ampu Lembah, anak sulung, menggantikan ayahnya sebagai pemimpin. Anak kedua, Taru Mampu, diangkat menjadi pemimpin adat Pamona dan dinobatkan di Pakiroa Tandokayupu, sebuah bukit kecil di mulut Sungai Poso. Tempat ini kemudian dikenal sebagai lokasi berdirinya Hotel Intim, yang melegenda di Tentena.

Anak ketiga, Balailo, kelak menggantikan saudaranya sebagai penguasa Pamona, meski kekuasaannya masih berada di bawah bayang-bayang Datu Luwu Palopo.

Saat Balailo memimpin, keresahan rakyat Pamona memuncak. Mereka menolak tunduk pada Luwu dan menuntut hak atas tanah sendiri. Maka digelarlah Gonggobangke, sebuah rapat akbar yang disertai mogawe bangke—pesta besar sebagai tanda perpisahan dan pengambilan keputusan bersama. Dalam pesta itu, Balailo memanggil seluruh pemuka rakyat. Ia berdiri di hadapan mereka dan berseru, “Hai rakyatku, siapkan batu. Batu ini akan menjadi tanda perpisahan dari tanah yang kita cintai ini.”

Empat orang dituakan dipanggil ke depan. Kepada mereka, Balailo berkata. “Kalian adalah wakil rakyat. Saat tanah ini ditinggalkan, kalian harus memilih ke mana kalian akan pergi.” Masing-masing memilih arah: timur, barat, utara, dan selatan. Mereka mengangkat batu dan menancapkannya condong ke arah tujuan masing-masing.

ANTUSIAS – Peserta jelajah budaya mengunjungi situs Watu Mpogaa di Halaman Gereja Bethel Tentena

Setelah keempat batu ditancapkan, Balailo maju ke tengah. Ia membawa batu kelima. Ia menancapkannya lurus di tengah, dan berkata. “Batu kelima ini aku sendiri yang tancapkan. Di sini. Di tengah-tengah. Batu ini bukan tanda perpisahan, tetapi tanda pertemuan.”

Batu kelima menjadi pengingat bahwa meski mereka akan menyebar ke berbagai penjuru, suatu hari nanti, keturunan mereka akan berkumpul kembali di tanah leluhur. “Kita belum tahu kapan waktunya,” ucap Balailo, “tapi sekali kelak, anak-anak kita, keturunan To Pamona, akan kembali bertemu di sini.”

Setelah itu, Balailo menyampaikan tujuh wasiat, yang kemudian ditandai dengan dua batu tambahan. Batu keenam dan ketujuh ditancapkan di sisi-sisi barisan batu sebelumnya. Ketujuh batu inilah yang kemudian dikenal sebagai Batu Mpogaa, batu penanda perpisahan, sekaligus pengikat janji untuk pulang.

Tujuh Wasiat Raja Balailo dan Asal Usul To Bajo

Setelah menancapkan batu ketujuh, Balailo berdiri tegak di hadapan rakyatnya. Angin yang bertiup dari danau seakan ikut mendengar. Dengan suara lantang, ia menyampaikan tujuh wasiat, yang kelak menjadi pegangan bagi anak cucu Bangsa Pamona, ke mana pun mereka pergi.

Wasiat pertama, ia sampaikan sambil berdiri di tengah, memegang batu kelima. “Walau berjauhan, ke mana pun kalian melangkah, jangan lupa ada Pue Ntala Guru, Tuhan semesta. Batu ini menjadi saksi.” Wasiat kedua, ia berpindah ke batu yang condong ke arah timur. “Hormati setiap pemimpin agama, apapun keyakinanmu. Karena cahaya kebenaran datang dari banyak arah.”

Wasiat ketiga, disampaikan dari batu yang mengarah ke selatan. “Peliharalah rasa kesatuan. Itulah bekal hidup di negeri orang. Jangan mudah tercerai.” Wasiat keempat, ia beralih ke batu yang menghadap barat. “Cintai dan lestarikan Bahasa Pamona. Bahasa adalah jiwa, jika ia hilang, maka hilang pula ingatan bangsa.”

Wasiat kelima, ia berdiri di utara. “Di mana pun kamu berada, jaga dan hidupkan adat Pamona. Itu adalah jati diri kita.” Wasiat keenam, ia sampaikan di hadapan batu keenam. “Pelihara rasa kebersamaan. Dalam senang dan susah, jangan saling meninggalkan.”

Wasiat ketujuh, Balailo melangkah ke batu terakhir, lalu berseru: “Pegang teguh istiadat To Pamona. Termasuk adat perkawinan, yang berpijak pada Sang Papitu—angka tujuh. Angka ini sakral, pengikat antara langit, tanah dan manusia.”

Setelah ketujuh wasiat dituturkan, Balailo mempersilakan rakyatnya berangkat, menuju tanah baru sesuai arah batu masing-masing. Namun di tengah pembagian tanah dan penentuan arah, ada satu kelompok yang tidak hadir. Mereka tidak mengikuti rapat akbar, tidak turut serta dalam penancapan batu, dan tidak menyatakan arah tujuan mereka.

Orang-orang bertanya-tanya, ke mana mereka? Mengapa mereka tak datang?  Kelompok itu memilih hidup di laut. Mereka tidak mendiami satu pun arah mata angin yang ditunjuk. Mereka justru membangun kehidupan di antara gelombang dan arus. Di mana daratan berakhir, di sanalah mereka memulai.

WATU MPOGAA – Tujuh batu berdiri di halaman Gereja Bethel Tentena, cerita tentang asal usul suku Pamona

Mendengar kabar itu, Balailo hanya mengangguk perlahan. “Kalau begitu,” katanya, “biarlah lautan menjadi tanah airmu. Di antara riak dan badai, kalian akan hidup. Air asin akan menjadi halaman rumahmu dan langit akan menjadi atapmu.”

Kelompok inilah yang kelak dikenal sebagai To Bajo atau Suku Bajo,  pengembara laut, anak-anak ombak yang lahir dari ketiadaan arah dalam satu peristiwa bersejarah. Mereka bukan lupa, bukan tersisih, tetapi berada di luar batas—karena memang telah ditakdirkan untuk berlayar selamanya. Sejak saat itu, Kerajaan Pamona resmi kosong. Balailo mundur dan dengan itu pula, selesailah hubungan struktural dengan Kerajaan Luwu Palopo. Tanah Pamona dibiarkan sunyi, seolah menanti sesuatu.

Hingga hari ini. Batu-batu itu tetap berdiri di tempatnya. Menjadi saksi dari janji dan perpisahan. Tapi seperti yang telah dikatakan Raja Balailo, bahwa suatu hari, keturunan To Pamona akan berkumpul kembali di tanah ini. Ucapannya bukan isapan jempol.

Pelan-pelan, orang-orang mulai datang kembali. Mereka mendirikan rumah, membuka ladang dan membangun perkampungan. Banyak dari mereka datang melalui misi penginjilan yang dibawa oleh AC Kryut, seorang pelayan Tuhan yang merambah pelosok membangkitkan harapan. Dari situlah permukiman baru mulai terbentuk di kawasan yang dulu ditinggalkan.

Kini, tempat yang dahulu kosong telah ramai kembali. Di sanalah berdiri Kota Tentena, dengan watu Mpogaa masih berdiri tegak di halaman gereja. Tidak lagi sebagai tanda perpisahan, tetapi penanda sebuah pulang yang dijanjikan. Tujuh batu itu tetap diam. Tapi di dalam diamnya, tersimpan gema tujuh wasiat dan satu kebenaran. Bahwa bangsa yang besar tak hanya tahu dari mana ia datang, tetapi tahu pula ke mana ia akan kembali. ***

Tinggalkan Balasan