Identitas Buku:
Judul: Jejak Perjuangan Rusdy Toana
Editor: Tasman Banto, dkk.
Tebal: 158 Halaman
Penerbit: Intelegensia Media
KALAU ada satu nama yang jejaknya bisa kita temukan di setiap sudut kemajuan Sulawesi Tengah, nama itu salah satunya mungkin Rusdy Toana. Buku ini menceritakan dengan apik bagaimana beliau ‘menenun’ masa depan kita, dari gema stensilan Koran Mercusuar hingga langkah kakinya sebagai Tentara Pelajar nun jauh di sana. Di Yogyakarta.
Buku ini tentu saja bukan catatan sejarah yang kering, atau sekadar upaya mengapungkan citra mendiang lewat ingatan para penulisnya. Sebaliknya, buku ini menjadi pengingat bahwa dedikasi itu nyata adanya.
Saat buku ini mulai ramai di lini masa, antusiasme saya langsung tersulut. Maklum, kita sering kehilangan kompas sejarah karena banyak tokoh hebat tak sempat menitipkan catatan perjuangan mereka. Begitu melihat sosok mendiang dengan baret merahnya di sampul buku yang berseliweran di media sosial, saya segera memburu editornya. Saya mendatanginya di kostnya, berniat membeli jika perlu, namun ternyata buku ini digratis dengan semangat berbagi.
Ekspektasi saya sebenarnya sangat besar. Saya berharap buku ini bisa menghidupkan kembali sosok Rusdy Toana secara utuh dalam benak kita. Namun, begitu masuk ke bab pembuka, saya agak terbentur. Ada testimoni dari Anwar Hafid, Longki Djanggola hingga Rusdy Mastura, tapi entah kenapa rasanya terlalu formal.
Tone-nya seragam, penuh pujian normatif tanpa sentuhan relasi personal yang benar-benar menggigit. Saya tidak menemukan ‘nyawa’ hubungan mereka dengan mendiang di sana, sampai-sampai saya memilih untuk langsung melompat ke bab berikutnya.
Beranjak dari sana, saya menaruh harapan pada Arus Abdul Karim. Sebagai politisi yang kini duduk di kursi DPRD Sulteng, testimoninya tentu punya beban sejarah yang penting, mengingat mendiang Rusdy Toana pernah menjadi Anggota DPRD Sulteng di bawah bendera Golkar di masa kepemimpinan Gubernur Abdul Galib Lasahido. Saya membayangkan akan ada ulasan mendalam tentang prinsip siyasah (politik) dan dakwah yang bagi beliau haruslah seiring sejalan.
Namun, lagi-lagi harus menelan kekecewaan. Sosok Rusdy Toana yang menjadikan politik sebagai instrumen dakwah sama sekali tak terdengar nyaring di bagian ini. Narasi yang saya cari tentang bagaimana nilai spiritualitas menuntun langkah politik beliau terasa absen, meninggalkan ruang kosong dalam potret besar Sang Tokoh.
Mosaik Kesaksian dari Para Penulis
Untungnya, kekosongan itu terobati di bab-bab selanjutnya. Ada puluhan kontributor yang urun rembug memberikan kesaksian dalam bunga rampai ini. Latar belakang mereka sungguh berwarna. Mulai dari jurnalis, politisi, akademisi, birokrat, hingga para pensiunan yang menyimpan memorinya bersama almarhum.
Gaya bercerita mereka pun beragam. Ada penulis yang hadir dengan perspektif orang pertama, membawa kita masuk ke dalam kenangan personal yang sangat intim. Namun, ada pula yang memilih berjarak dengan sudut pandang orang ketiga, merangkai kembali kepingan sejarah melalui riset pustaka dan data otentik. Perpaduan inilah yang akhirnya membuat sosok Rusdy Toana mulai terlihat jejaknya dari berbagai sisi.
Ada pula tulisan Andi Madukelleng yang memutar kembali memori masa kecil almarhum, termasuk saat Rusdy Toana menjabat sebagai Sekretaris di pengurusan Alkhairaat. Sayangnya, Madukelleng tidak mengupas bagian ini lebih dalam. Padahal, bagi saya, ini adalah turning point yang sangat penting.
Tanpa rincian waktu dan lokasi yang jelas, pembaca kehilangan konteks sejarah yang berharga. Padahal, keterlibatan beliau di Alkhairaat adalah bukti otentik bagaimana Rusdy Toana mampu merajut kemajemukan menjadi jembatan yang kokoh di antara dua ormas besar. Sangat disayangkan, fragmen sejarah yang seharusnya menjadi potret kebesaran jiwa beliau ini justru terasa kurang ‘tebal’ dan terlewat begitu saja.
Tulisan Jamrin Abubakar, seorang penulis sejarah Kaili sekaligus jurnalis senior di Media Alkhairaat, adalah salah satu bagian yang saya baca sampai dua kali. Jamrin mengupas tuntas bagaimana Rusdy Toana membangun Harian Mercusuar dari nol.
Ternyata, karier wartawan beliau sudah dimulai sejak usia 17 tahun di Harian Pelopor Yogyakarta pada 1948, lalu berlanjut ke Harian Abadi, hingga menjadi Sekretaris Redaksi di Panji Masyarakat. Jamrin menuliskan dengan sangat detail bahwa Mercusuar bukan sekadar koran yang tiba-tiba ada, melainkan buah manis dari perjuangan panjang yang ditempa lewat proses yang berliku.
Saya juga tak melewatkan tulisan Fery el Shirinja dan sang editor, Temu Sutrisno. Meski harus bertemu lagi dengan ulasan berdirinya Sulawesi Tengah yang jujur saja, bagian pengulangannya saya lewati, ada poin lain yang sangat menarik. Tentang keterlibatan mendiang membidani tiga kampus besar, Untad, Unismuh dan STAIN (kini UIN Datokarama Palu). Tulisan Mas Temu tentang ‘Sang Tadulako HMI’ juga mengungkap fakta seru bahwa nama Universitas Tadulako ternyata lahir dari diskusi yang sangat tajam dan mendalam.
Representasi perempuan dalam buku ini salah satunya hadir lewat Jeis Montesori. Mantan jurnalis Suara Pembaruan ini mengeja kembali ingatannya saat menjadi awak redaksi Mercusuar medio 1991–1993. Jeis merekam satu fragmen keberanian Rusdy Toana yang sulit dilupakan.
Pada pertengahan 1992, redaksi mendapat tekanan hebat dari sebuah institusi setelah menurunkan laporan investigasi kayu eboni yang melibatkan oknum aparat. Berita itu memicu kegelisahan di Palu, hingga membuat Rusdy Toana selaku Pemimpin Redaksi ‘dipanggil’ oleh pimpinan institusi tersebut.
Almarhum datang memenuhi panggilan itu, namun bukan untuk tunduk. Dengan tenang, beliau menjelaskan bahwa artikel tersebut sudah memenuhi prinsip keberimbangan. Jeis menirukan pernyataan tegas almarhum saat itu, ‘’Jika masih keberatan, silakan ajukan hak jawab. Kami akan terbitkan sebagai berita lanjutan.’’ Sebuah sikap ksatria yang membuat Jeis kagum akan integritasnya sekaligus melindungi karya jurnalistik anak buahnya. (hal. 108).
Secara khusus, saya harus menyebut tiga kontributor. Basir Cyio, Takbir Launtina dan Jafar G. Bua. Ketiganya menulis dengan perspektif orang pertama. Mereka pernah bertatap muka langsung dengan mendiang, sehingga narasinya terasa sangat otentik. Hal ini mengingatkan saya pada buku Cindy Adams tentang Bung Karno, sebuah narasi yang jujur karena berasal dari obrolan langsung.
Takbir Launtina mengenang almarhum dengan nada yang sedikit sentimental. Ia menuliskan kegelisahan terdalam Rusdy Toana tentang siapa yang akan meneruskan estafet Mercusuar. Kala itu, sempat ada rasa gundah karena nampaknya belum ada anak-anaknya yang berminat mengelola koran yang beliau rintis dengan susah payah tersebut.
Namun, kegundahan itu akhirnya terobati. Anak ketiganya, Tri Putra Toana, terbukti mampu menjaga suluh Mercusuar tetap menyala. Di tangan Tri Putra, Mercusuar tak hanya warisan orang tua, melainkan mampu bertahan di tengah hantaman disrupsi media yang begitu kencang hari ini.
Pada bagian lain, meski ulasannya tidak terlalu ‘tebal’, Basir Cyio berhasil memotret fragmen perdebatan antara Rusdy Toana dengan Profesor Matulada, Rektor pertama Untad, dengan gaya reportase yang sangat hidup. Jika ada membaca bagian ini, mari kita bayangkan sejenak suasana kampus di zaman Orde Baru, saat teks jurnalistik harus tunduk pada selera penguasa jika tak ingin dicap subversive atai antipembangunan. Mengeritik birokrasi kampus saat itu adalah sesuatu yang nyaris tabu.
Cyio menulis, usai adegan berpelukan antara kedua tokoh besar tersebut, almarhum berpesan dengan tenang. “Wartawan itu memang pekerjaan berisiko, tapi sepanjang niatnya untuk memperbaiki, kamu jangan mundur. Rezeki dan nasibmu insya Allah di tangan Tuhan. Teruslah menulis,” tulis Cyio (hal. 85).
Sikap almarhum adalah cermin dari prinsip editorial yang seharusnya tak boleh lekang oleh waktu. Sebuah sikap yang sayangnya mulai pudar di hari-hari ini. Saat seorang reporter tersandung sengketa jurnalistik, tak jarang pimpinan redaksi justru abai, malah sibuk memenuhi ajakan makan siang, terjebak dalam lobi-lobi komersial. Sengketa tersebut bahkan sebagai alat bargaining untuk kompensasi tertentu. Akhirnya, masalah yang seharusnya diselesaikan di ruang sidang etik, berakhir manis di meja makan sebagai kesepakatan yang menguntungkan.
Saat menulis bagian ini, tiba-tiba indera saya seolah kembali mendengar suara baritonnya yang khas. Ingatan saya melayang pada momen-momen saat menemuinya di Jalan Suprapto Nomor 87. Di sana, beliau biasanya duduk dikelilingi kader muda Muhammadiyah seperti Hamdi Rudji, almarhum Ta’ruf Matu hingga Tofan Samudin.
Tema obrolannya tak pernah jauh dari urusan persyarikatan, masa depan Unismuh, sampai obrolan ringan tentang anak cabang Muhammadiyah di sudut-sudut terjauh Sulawesi Tengah. Saya ingat betul momen saat menyodorkan map permintaan sumbangan untuk beliau tandatangani.
“Ini surat apa lagi? Rasanya baru kemarin ada yang saya tanda tangan,” selorohnya, namun tangannya tetap bergerak membubuhkan tanda tangan dengan tulus. Bahkan, pernah suatu kali beliau berujar pendek namun sangat membekas: “Pakai saja nama saya kalau mau cari dana buat masjid.” Sebuah kalimat sederhana yang menunjukkan betapa beliau rela ‘meminjamkan’ nama besarnya demi kepentingan umat.
Usai menuntaskan buku ini, saya menarik kesimpulan. Pada akhirnya, Rusdy Toana bukan sekadar deretan bab dalam sebuah buku, apalagi sekadar nama ruas jalan di depan Kampus Unismuh Palu, yang kini raib entah kemana.
Terlepas dari kelebihan dan kekuarangannya, beliau adalah sebuah ‘’standar’’ tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia bagi manusianya. Lewat buku ini, kita diingatkan bahwa menjadi pejuang tak harus selalu dengan tinju yang mengepal, tapi bisa dengan pena yang tajam, suara bariton yang mengayomi dan nama besar yang rela dipinjamkan demi tegaknya amal.
Membaca jejaknya di buku ini adalah cara kita untuk pulang, sekaligus menemukan kembali nurani yang mungkin sempat tersesat oleh sikap pragmatisme. Di Bumi Tadulako ini, beliau telah selesai ‘’menenun’’ tugasnya. Kini giliran kita, merawat dan melanjutkan kain peradaban yang telah susah payah ia bentangkan. ***
Peresensi: Yardin Hasan
Penggemar isu-isu liputan humaniora di Palu
Tulisan ini republikasi dari radarpalu.id
Bagikan ini:
- Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak




