Wartawan Palu Bersolidaritas, Persma Belajar dari Risiko Jurnalistik

Anggraeni (kanan) dan kawan-kawannya dari LPM Qalamun pada doa bersama malam tadi di Palu, Senin 14 September 2026

Rompi.
Almamater.
Lilin.
Diam.

Mereka berdiri di antara wartawan arus utama. Membawa lilin. Mengenakan identitas kampus dari lembaga pers masing-masing. Sesekali terlihat berbicara. Tapi lebih banyak diam. Lilin semakin pendek. Nyalanya makin meredup. Hingga akhirnya prosesi sederhana beritel ‘’Doa Bersama’’ untuk keselamatan 5 jurnalis di Selat Sunda benar-benar selesai. Para mahasiswa ini adalah partisipan di Panggung Solidaritas Palu, di Taman Nasional Senin 14 Sepptember 2026 tadi malam.

Mereka adalah Lembaga Pers Mahasisw (LPM) dari Universitas Tadulako dan LPM Qalamun UIN Datokarama Palu. Dari pelantang, anggota Pewarta Foto Nur Soima Ulfa, memberi apresiasi khusus pada kehadiran LPM dari Perguruan Tinggi di Palu itu.

‘’Terima kasih teman-teman dari Persma sudah hadir bersama kami. Menyalahkan lilin, memperpanjang harapan,’’ ucap Uki menyapa para aktivisi kampus itu. Di tengah para wartawan yang sedang mengenang rekan mereka, jurnalis muda dari lembaga pers mahasiswa itu menyaksikan satu wajah lain dari pekerjaan jurnalistik.

Risiko.
Kehilangan.
Dan solidaritas.

Anggraeni dari LPM Qalamun UIN Datokarama Palu, datang bersama empat temannya. Kedatangannya selain karena undangan juga ingin bersolidaritas atas pengorbanan jurnalis yang melaporkan peristiwa dengan mendekati  ‘’titik api’’ demi laporan yang otentik tentang erupsi Anak Krakatau.

PETUAH BAGI JURNALIS MUDA – Jurnalis senior Erick Yessiah Tamalagi mengingatkan tentang risiko jurnalis di medan liputan pada Doa Besama untuk keselamatan lima jurnalis di Taman Nasional Palu, Senin 14 September 2026

Gadis yang pernah magang di SCTV ini mengaku, mendengar dan menyimak testimoni jurnalis senior malan itu, menyadari pekerjaan ini sangat berisiko. Tak hanya soal keberanian tapi juga fisik dan mental sementara jurnalis sendiri tak ada yang memikirkan keselamatan mereka di medan liputan.

Beberapa anggota Persma yang ditemui malam tadi, menyadari bahwa tugas-tugas jurnalis memiliki risiko tinggi, salah satunya adalah seperti yang sedang terjadi pada liputan Anak Krakatau di Selat Sunda itu.

Anggota LPM dari Untad, ia menolak merinci namanya mengaku tersentuh dengan pernyataan jurnalis senior salah satu dedengkot IJTI Pusat Erick Yessiah Tamalagi. Malam tadi, Erick mencoba membangunkan alam bawah sadar jurnalis muda dengan kalimat provokatif.  ‘’Menjadi jurnalis adalah kesalahan terbesar,’’

Jika motivasi menjadi jurnalis hanya mengandalkan privilege yang melekat itulah kesalahan besar. Di balik kemewahan yang melekat pada profesi itu menurut mantan Jurnalis Mercusuar ini, di sana ada risiko. ‘’Peristiwa di Anak Krakatau adalah contoh gambling soal itu,’’ katanya.

Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tengah, Muhamad Iqbal, menyampaikan pesan tentang pentingnya membedakan kerja jurnalistik dengan aktivitas pembuatan konten di tengah situasi bencana.

Menurut Iqbal, para jurnalis dan kru kapal yang berada di lokasi erupsi Anak Krakatau datang untuk menjalankan tugas jurnalistik. Bukan membuat konten demi kepentingan pribadi atau mengejar eksposur dari sebuah peristiwa bencana.

“Mereka datang ke sana sebagai jurnalis dan kru kapal, bukan content creator yang membuat konten demi kepuasan diri dan mengejar eksposur dari peristiwa bencana,” kata Iqbal.

“Mereka adalah jurnalis, profesi yang setengahnya merupakan bentuk volunterisme. Mereka bekerja untuk memenuhi mandat menyampaikan informasi berbasis peristiwa, langsung dari titik terdekat dengan sumber kejadian,” kata Iqbal dalam testimoninya.

Menurut dia, mandat tersebut tetap memiliki konsekuensi yang mahal ketika jurnalis harus berhadapan dengan risiko di lapangan. “Itulah jurnalis dengan kesejatiannya,” ujar Iqbal.

INFORMASI UNTUK PUBLIKKetua AMSI Sulteng Muhamad Iqbal mengingatkan jurnalis bukan content creator untuk mendapatkan validasi hal ini disampaikannya pada Doa Besama untuk keselamatan lima jurnalis di Taman Nasional Palu, Senin 14 September 2026

Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Palu, Muhamad Rifky, berharap tim SAR gabungan terus melakukan pencarian hingga lima jurnalis yang hilang ditemukan dan dapat kembali kepada keluarga. Ia berharap operasi pencarian tersebut memberikan hasil terbaik.

Pada kesempatan yang sama, Pemimpin Redaksi Harian Mercusuar Tasman Banto membaca puisi berisi harapan keselamatan.  Kepala LKBN ANTARA Biro Sulawesi Tengah Muhammad Zulfikar mengatakan ANTARA menyampaikan apresiasi kepada PFI Palu dan organisasi jurnalis lainnya atas prakarsa mala mini. Termasuk kepada Basarnas atas keputusan memperpanjang operasi pencarian selama tiga hari ke depan.

Relasi yang Baik

Kehadiran anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dan Pers Mahasiswa (Persma) tadi malam  juga memperlihatkan hubungan yang selama ini terbangun antara pers mahasiswa dan komunitas jurnalis di Palu. Mereka adalah bagian dari generasi yang sedang belajar mengenal kerja jurnalistik. Sebagian di antaranya kelak mungkin memilih profesi sebagai jurnalis. Sebagian lainnya bisa saja menempuh profesi berbeda.

Namun, dalam bincang ringan selepas acara malam tadi, mereka bilang pengalaman berada di tengah para jurnalis dan mendengarkan kesaksian tentang risiko kerja jurnalistik memberi mereka pengetahuan tentang bagaimana profesi itu dijalankan. Termasuk pentingnya disiplin verifikasi, keberanian menguji informasi, serta tanggung jawab menyampaikan fakta kepada publik.

Hubungan antara Persma dan organisasi profesi jurnalis di Palu selama ini juga berlangsung baik. Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) memiliki ruang interaksi dengan kelompok-kelompok pers mahasiswa, baik dalam kegiatan jurnalistik maupun forum-forum yang berkaitan dengan kebebasan pers dan profesionalisme media.

FOTO BERSAMA – Jurnalis dan Persma melakukan foto bersama usai Doa Besama untuk keselamatan lima jurnalis di Taman Nasional Palu, Senin 14 September 2026

Khusus AJI, hubungan dengan Persma memiliki akar yang lebih panjang. Sejak awal berdirinya AJI, pers mahasiswa menjadi salah satu ruang yang memiliki kedekatan ideologis dengan gerakan jurnalisme independen. Tradisi tersebut terus berlangsung hingga kini melalui hubungan dan kegiatan bersama di berbagai daerah, termasuk Palu. Anggraeni mengaku  melihat secara langsung bagaimana komunitas jurnalis merespons sebuah peristiwa yang menyentuh profesi mereka.

Anggraeni mengaku, Kelak di antara mereka tidak semuanya mungkin menjadi jurnalis. Tetapi setidaknya mereka pernah berada cukup dekat dengan dunia jurnalistik. Mengenali nilai yang menjadi dasarnya. Bekerja berdasarkan fakta. Melakukan verifikasi dan mempertanggungjawabkannya kepada  publik. ***

Penulis: Yardin
Foto-foto: Adi Pranata/PFI Palu, LPM Qalamul UIN Palu

Tinggalkan Balasan