LingkunganSeni Budaya

Festival Tampo Lore dalam Rekaman Lensa

FESTIVAL Tampo Lore telah rampung. Festival yang memadukan alam dan kebudayaan adalah perayaan harmonisasi antara manusia dengan alam serta warisan budaya yang memukau. Mengambil tempat di kawasan situs megalit Pokekea, gemuruh musik tradisional dan derap kaki tarian yang menggugah jiwa hingga kreasi tangan tangan trampil dari warga setempat, mengisi festival selama tiga hari, 28 – 30 Juni 2024.

Setiap sudut festival dipenuhi dengan gemerlap kostum adat, suara musik bambu hingga seni kerajinan tangan yang memancarkan kearifan lokal. Gambar berikut ini, merangkum semua peristiwa pada festival yang diinisiasi oleh Relawan Orang dan Alam yang berlangsung di Desa Hanggira, Lore Tengah – Poso.

KEPALA Dinas Pariwisata Provinsi Sulteng Diah Agustiningsih Entoh mewakili Gubernur Sulteng Rusdi Mastura, menyampaikan pentingnya melestarikan warisan budaya dan keindahan alam. Festival Tampo Lore adalah simbol harapan dan komitmen untuk merawat kekayaan yang telah diwariskan leluhur. Kehadirannya bukan hanya sebagai pesta rakyat, tetapi juga sebagai pengingat bahwa sinergi antara alam, budaya dan perilaku kita yang bijak adalah kunci menuju masa depan yang berkelanjutan dan harmonis.  Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulteng Diah Agustiningsih Entoh dan Bupati Poso, Verna GM Inkiriwang meninjau situs Pokekea, Jumat 30 Juni 2024

BUPATI Poso, Vena GM Inkiriwang berdiri penuh kekaguman di tengah megalit warisan leluhur. Dalam sambutannya, menyiratkan rasa hormat dan apresiasi yang mendalam.  Di hadapan keindahan yang abadi ini, Verna mengakui  betapa agungnya kebijaksanaan nenek moyang yang telah meninggalkan jejak sejarah yang penuh makna. Keindahan yang jauh mengalahkan pesona Swiss yang pernah dikunjunginya bertahun lalu.  Verna mengatakan pentingnya melestarikan warisan ini, agar generasi mendatang dapat terus mengenang dan menghormati karya besar yang telah diwariskan. Kehadirannya yang baru pertama kali di situs megalit ini adalah  penghormatan yang tulus, sekaligus seruan untuk menjaga dan memuliakan warisan leluhur yang tak ternilai harganya.

MOHAMAD Soebarkah (tengah) Direktur Relawan Orang dan Alam (RoA) penggagas festival kebudayaan bertema alam ini,  berhasil memadukan keindahan alam dengan kekayaan budaya dalam sebuah harmoni yang indah. Festival Tampo Lore edisi ketiga  hadir untuk menghidupkan kembali tradisi. Menyulapnya  menjadi perayaan yang penuh warna dan warga masyarakat sebagai pemain penting di dalamnya. Festival ini menjadi ajang untuk menyatukan masyarakat, merayakan warisan leluhur dan memperkuat ikatan dengan alam. Kehadiran RoA sebagai motor utama  festival adalah simbol dari ketekunan dan komitmennya  terhadap budaya dan alam, yang menginspirasi banyak orang untuk ikut serta menjaga dan merawat warisan.

DUA lansia ini adalah generasi tertua pembuat kain dari kulit kayu. Mereka penerus warisan yang penuh kebijaksanaan dan ketekunan. Dalam setiap helai kain yang mereka hasilkan, terkandung cerita-cerita masa lalu yang terukir melalui tangan  terampil mereka. Keduanya adalah jembatan antara masa kini dan masa lampau. Membawa serta tradisi dan teknik tempo dulu yang diwariskan dari nenek moyang. Dengan dedikasi yang luar biasa, mereka memelihara seni yang hampir terlupakan. Menjadikannya sebagai simbol kekuatan dan identitas budaya. Setiap serat kain adalah hasil dari harmoni antara manusia dan bumi. Generasi ini mengajarkan kita untuk menghargai dan merawat warisan yang telah ada, agar kekayaan budaya ini tetap hidup dan menginspirasi generasi mendatang.

MUSIK tradisional yang dihasilkan dari seruling bambu melahirkan nada yang harmonis. Mengalun lembut di ajang festival. Setiap tiupan menghasilkan melodi yang menenangkan jiwa, seakan membawa pendengarnya kembali ke pangkuan alam. Dalam setiap nada yang dimainkan, terkandung cerita-cerita tentang kehidupan, cinta, dan alam yang abadi. Musik tradisional ini adalah perwujudan dari kesederhanaan dan keindahan, mengingatkan manusia akan kekayaan tradisi yang harus dijaga dan dihormati.

DUA gadis Vany dan Ningsih,  sedang meracik rempah kuliner tradisional. Daging ayam dan kecombrang dimasak menggunakan medium bambu – namanya Pewo Manu. Hasilnya, cita rasa yang otentik dan sarat akan kenangan tentang bagaimana manusia tempo dulu meracik kuliner yang merdeka dari hegemoni micin. Setiap hidangan menggambarkan kearifan lokal dan kekayaan budaya. Diracik dengan resep-resep yang diwariskan turun-temurun. Harmoni rasa yang memanjakan lidah. Melalui setiap suapan, kita akan merasakan sentuhan tangan halus nenek moyang yang penuh ketulusan, serta aroma dan rasa yang membangkitkan nostalgia.

PERACIK kopi gratis yang menyebarkan kehangatan dan kebaikan melalui setiap cangkir kopi yang disajikan.  Setiap tetes kopi yang dituangkan bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga simbol dari kepedulian dan kemurahan hati. Selama festival, panitia menyediakan lapak kopi yang bisa dinikmati dengan gratis.

KEMILAU pakaian adat yang dikenakan para bocah itu memancarkan keanggunan dan keindahan yang memikat. Setiap helai kainnya bersinar dalam harmoni warna-warni. Mereka  menari dengan lembut di atas rerumputan basah oleh rintik hujan sore hari. Busana tradisional yang elok mencerminkan warisan budaya yang penuh makna. Dalam keceriaannnya, anak-anak itu  melangkah lincah, membawa cerita leluhur dalam setiap gerakannya. Pakaian adat itu tidak hanya membalut tubuhnya. Tetapi juga menonjolkan kecantikan dari dalam, menyatu dalam keselarasan yang sempurna.

JURNALIS Sea Today, Rahman alias Odhie, menjadi pemandu pelatihan videografi bagi 20 remaja. Di dalamnya, peserta belajar untuk menangkap momen, mengolah gambar dan suara menjadi sebuah narasi visual yang mendalam dan bermakna. Setiap frame yang direkam adalah potret kehidupan yang berbicara dalam bahasa estetika. Menangkap esensi dari setiap momen yang berharga. Pelatihan ini bukan hanya sekadar memahami teknik-teknik kamera, tetapi juga mengeksplorasi batas-batas kreativitas diri. Termasuk memvisualisasikan alam indah Behoa. Pelatihan videografi mengajarkan mereka untuk menghargai keindahan yang tersembunyi di sekitar mereka dan merangkul kekuatan visual dalam menyampaikan cerita-cerita yang memukau.

GADIS-gadis remaja yang sedang ikut pelatihan ini antusias menyimak paparan jurnalis Sea Today, Rahman yang mengajak mereka mengeksplorasi dunia baru sebagai videografer. Di balik senyum mereka yang cerah, tersembunyi tekad untuk memahami dan menguasai seni baru itu. Ini membuktikan bahwa konten kreator di era 4.0 tak semata ajang narsistik. Dan passion serta usaha adalah kunci untuk menjadi videographeryang mumpuni

LELAKI perajin anyaman menjaga warisan  di setiap bilah rotan yang ia rajut. Dengan setiap gerakan tangan yang penuh pengalaman, ia menghadirkan karya yang tak hanya indah secara fisik, tetapi juga penuh makna dan sejarah. Di balik kerutan wajahnya, tersemat cerita-cerita tentang kebijaksanaan dan keuletan, menjadikannya penjaga warisan budaya yang tak ternilai. Penampilannya sore itu, juga untuk mengilhami generasi muda untuk menghargai dan melanjutkan tradisi yang telah  ia jaga dan jalankan sepanjang hidupnya.

MUSIK tradisional perlu mendapat pengakuan publik dan hak cipta. Karena itu adalah simbol kebanggaan bagi komunitasnya serta mengukuhkan keberadaannya dalam arus musik modern. Dengan memperoleh perlindungan hak cipta, melodi-melodi yang telah mengalir dari generasi ke generasi kini diakui sebagai warisan tak ternilai yang harus dijaga dan dihargai. Ini bukan hanya sebagai pencapaian hukum, tetapi juga sebagai penghormatan mendalam terhadap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap irama dan liriknya. Di gambar ini, pemusik tradisional mendapat pemahaman tentang perlindungan hak cipta.

FESTIVAL tak hanya menawarkan pertunjukan gerak tari atau ajang pesta pora warga di tingkat tapak. Mereka juga membekali dirinya dengan pengetahuan mutakhir. Literasi keuangan non tunai oleh Bank Indonesia, Perwakilan Sulawesi Tengah serta pengelolaan homestay, telah membawa sudut pandang baru bagi warga di daerah tujuan pariwisata ini, tentang bagaimana mengelola hunian yang nyaman serta bijak mengelola keuangan.

KEMAH yang telah usai meninggalkan jejak-jejak kebahagiaan dan kenangan indah di bawah langit yang perlahan berganti warna. Cerita-cerita petualangan dan tawa riang masih menggema di telinga. memanjangkan bayang-bayang kebersamaan di antara para pewarta Festival Tampo Lore. Kemah bukan hanya tempat beristirahat. Tetapi juga petualangan jiwa untuk lebih terikat dengan semesta. Saat mereka membongkar tenda, orang-orang membawa pulang lebih dari sekadar cerita. Tetapi juga membawa pengalaman selama tiga malam di bawah bintang, rintik hujan dan awan hitam yang datang silih berganti.

KAWASAN megalit ini kembali sunyi, setelah tiga hari dihiasi gegap gempita dalam selebrasi festival yang intens. Alam kembali membiarkan kesunyian menyatu dengan benda benda purbakala itu. Dengan aroma masa lalunya yang kuno, karya agung itu akan kembali akrab dengan rimbunnya pepohonan, rinai hujan, panas yang menghunjam serta tiupan angin lembut,  yang semakin menegaskan keabadiannya. Karya masterpiece itu adalah saksi bisu dari perjalanan zaman, mengingatkan akan kebesaran peradaban yang telah menghiasi alam Bumi Behoa. Dalam kesunyiannya, kawasan ini memancarkan kekuatan spiritual yang membangkitkan rasa kagum dan keheningan yang memikat hati.  Mengajak untuk merasakan kedamaian dan menghormati karya leluhur yang agung.

Sampai bertemu di Festival Tampo Lore berikutnya.  ***

Teks: Yardin Hasan
Foto-foto: Yardin, Basri, Amar, Eddy, Amalia

 

Roemah Kata
the authorRoemah Kata
Anggaplah ini adalah remahan. Tapi kami berusaha menyampaikan yang oleh media arus utama dianggap remah-remah informasi. Tapi bisa saja remah remah itu adalah substansi yang terabaikan akibat penjelmaan dari politik redaksi yang kaku dan ketat. Sesederhana itu sebenarnya.

Tinggalkan Balasan