Rusdi Toana

”Mana dari Sulawesi Tengah anak buahnya Rusdy Toana. Rusdy Toana itu orang yang sangat jujur. Andai saja pemimpin Indonesia itu kayak Rusdy Toana, maka Indonesia akan maju. Hanya saja kelemahannya kita tidak bisa kaya. Karena dia terlalu jujur dan ikhlas”

Pernyataan lugas itu keluar dari mulut Noeng Muhadjir – Guru Besar Analis Kebijakan dan Filsafat ilmu di Universitas Negeri Jogjakarta. Mantan Rektor Universitas Ahmad Dahlan Jogja ini, spontan mengatakan itu, setelah sadar dirinya sedang berhadapan dengan mahasiswa asal Kota Palu, Sulawesi Tengah. Supriadi, mahasiswa pascasarjana yang menempuh studi di salah satu lembaga pendidikan bergengsi itu menuturkan testimoni dosennya tersebut.

Kenangan lain disampaikan oleh anggota remaja Islam Masjid Al-Haq kepada penulis. Di masjid yang terletak di Jalan Soeprapto No 69 Palu itu, tokoh-tokoh Muhammadiyah kawakan – seperti mendiang Rusdi Toana dan Ishak Arief, almarhum Napsi Sunusi, Sikiman Dg Malaba dan Ta’ruf Matu hingga mendiang Ibu Indosatu kerap mengisi diskusi tentang perkembangan islam kontemporer.

Di diskusi itu Rusdi Toana bilang, honornya sebagai Rektor Unismuh nyaris tak pernah diambilnya. Bukan karena ia tidak membutuhkan. Saat akhir bulan – honornya selalu defisit alias tekor. Penyebabnya, setiap saat berbondong orang datang. Mulai dari mahasiswa, pelajar, masyarakat umum maupun anggota persyarikatan dari daerah. Menemuinya di kediamannya di Jalan Soeprapto Nomor 87 Palu.

Beragam keluh disampaikan. Mulai soal kebutuhan pribadi, dinamika dakwah hingga situasi terkini persyarikatan di daerah-daerah. Saat pamit ia membekali secarik memo ditujukan kepada stafnya di Unismuh Palu. Keseringan menitip memo itulah yang membuat, sosok kelahiran Parigi 9 Agustus 1930 kerap tidak menerima haknya di lembaga Perguruan Tinggi yang dibesutnya itu.

Masih tentang Rusdi Toana. Pada siang menjelang sore di pengujung tahun 1998, usai menjadi khatib Jumat di Masjid Al Haq Palu ia tak langsung pulang. Ia duduk bersama beberapa jamaah yang mengerubunginya. Di sana ada Hamdi Rudji, Tofan Samudin, Ponidjo (Guru STM) dan mendiang Hamadi Djirimu serta Munief S Lanuna. Anak bungsunya Uki Toana sejak shaf shalat jumat bubar, sudah duduk di belakang setir zuzuki vorza berkelir hijau lumut. Uki menanti sang khatib yang tak kunjung berdiri pulang.

Menggunakan kemeja safari berkelir biru dongker, ia lantas melepas peci hitamnya. Sesaat kemudian ia bersandar di dinding. Ia berbagi dengan dinding untuk menopang sebagian berat tubuhnya. Terlihat ia sendiri seperti tak sanggup lagi memikul berat tubuhnya. Gerakan tubuhnya yang melambat mengirim pesan soal usia senja yang terus menggerogoti semangatnya. Namun seperti yang terlihat sore itu, ghirahnya tetap menyala bak dian nan tak kunjung padam.

Namanya saja diskusi lepas. Temanya bisa apa saja. Tapi tema favoritnya adalah jejak kejayaan Islam di Semenanjung Andalusia Spanyol. Tema lain yang selalu diulanginya adalah Teori Benturan Peradaban atau Clash Of Civilazation-nya Samuel P Huntington, pengajar Harvard University, Amerika. Dua tema yang selalu diulangnya itu, sebenarnya masih dalam irisan yang sama dengan visi dan nilai yang diperjuangkannya yakni, dakwah islam dan pendidikan.

Jejak islam di Cordoba – Spanyol adalah Islam yang pernah berjaya di sana namun akhirnya lenyap. Sedangkan, teori Benturan Peradaban adalah sebuah tesis yang dibangun Huntington. Lugasnya adalah tentang Islam versus Barat. Menurut dia, begitu pun dengan organisasi Persyarikatan Muhammadiyah. Ia harus tetap dijaga walau sudah berjalan baik. Setidaknya, jangan sampai menjadi puing yang tinggal dikenal dalam lembaran sejarah, seperti kejayaan Islam di Cordoba. Tesis Huntington katanya adalah gambaran nyata soal itu.

Ia menyambung lagi. Dengan jejaring pertemanan yang luas ia selalu menggunakan privilege yang dipunyainya untuk membesarkan Muhammadiyah. ”Saya pernah mengancam salah satu tokoh besar di provinsi. Saya bilang, kalau Saudara mempersulit Muhammadiyah saya akan berkampanye untuk salah satu partai di pemilu nanti”. Rusdi Toana lalu menyebut salah satu partai Islam lawan politik Orde Baru saat itu. Tekanan nadanya terdengar serak – meninggi. Mengesankan bagaimana dakwah itu harus diperjuangkan dengan gigih. Begitu pun dengan kejayaan yang harus direbut. Sebagaimana Islam di Cordoba yang baru saja diceritakannya itu.

Tak terasa nyaris dua jam lebih ia berbicara soal banyak hal. Mulai geopolitik global, kondisi gerakan Ormas Islam di Indonesia dibahas secara acak. Sesaat kemudian, ia beringsut memperbaiki duduknya. Dalam gerakan yang lambat, ia berdiri dan berjalan pelan, sambil pamit meminta menyudahi diskusi. Hamdi Rudji mendampinginya menuju mobil mungilnya yang sejak awal setia menunggu. Beberapa bulan kemudian, tepatnya 9 Agustus 1999 – ia menghembuskan napas di Makassar. Ketua Utama PB Al Khairaat almarhum KH Sagaf Aljufri menjadi imam  shalat jenazah di Masjid Al – Haq.

Dari empat peristiwa tadi, mulai dari pernyataan Guru Besar UNJ, honor yang selalu defisit, meluangkan waktu untuk diskusi, hingga menggunakan privilege untuk kepentingan umat – menunjukkan tentang bagaimana totalitas sosok sederhana ini – memperjuangkan nilai, visi dan ideologi yang diyakininya.

Hasilnya bisa dilihat. Tak hanya Persyarikatan Muhammadiyah dengan amal usahanya, yang tak henti mengalirkan manfaat pada generasi Muhammadiyah hari ini. Di luar sana, warisan peninggalannya pun berserak tak terbilang. Noeng Muhadjir – Guru Besar di UNJ yang wafat 28 Oktober 2018, dengan jitu mendeskripsikan sosok mendiang Rusdi Toana sebagai figur yang ikhlas. ”Kita bahkan tak bisa kaya, karena dia terlalu jujur,” katanya.

MUSWIL DAN KOMITMEN BERMUHAMMADIYAH

Muhammadiyah Sulteng baru saja menuntaskan Musyawarah Wilayah ke-13. Hajatan yang berlangsung di Kota Air ternyata  masih keruh. Hasilnya tak sesejuk air – julukan  kota itu. Pun, tak sebening wajah tuan rumah yang menyiapkan sarana untuk tetamu yang datang. Suara bising yang menyoal keabsahan hajatan lima tahunan itu masih terdengar. Suara itu kadang pelan. Kadang lantang dan  bergemuruh kencang.  Sebuah lembaga dengan rentang pengalaman yang panjang dan berkelok, dinamika internal adalah hal yang niscaya.

Muswil – 13 adalah wujud nyata komitmen berdakwah melalui Persyarikatan Muhammadiyah. Maka, siapa pun kader pergerakan yang berkomitmen dalam gerakan dakwah ini – perlu menoleh sebentar tentang apa yang dilakukan oleh pendirinya – mendiang Rusdi Toana. Guru Besar UNJ Noer Muhadjir telah memberi pesan tegas soal itu. Kejujuran dan keikhlasan adalah harga mati. Memang hal itu sukar digugu. Tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Hari ini kita semua membutuhkan itu. Pesan lawas dari Sang Pencerah, KH Ahmad Dahlan, hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah – tiba-tiba kembali menjadi topik utama. Topik itu seolah relate dengan suasana batin sebagian warga persyarikatan pasca hajatan di Kota Luwuk itu.

Sebenarnya, generasi muda Muhammadiyah tidak kehabisan stok tokoh-tokoh yang telah menisbatkan dirinya di jalan dakwah Muhammadiyah sebagai tokoh yang pantas diteladani. Selain Rusdi Toana, ada Yahya Mangun dari Poso dan Ustad Jaiz dari Palu. Ada pula Napsi Sunusi dan lain-lain.

Tokoh yang disebut terakhir dalam urusan kejujuran dan keikhlasan pantas dikenang. Mendiang Indosatu usai mengisi mimbar ramadhan di Masjid Al Haq pernah bilang, Pak Napsi itu, seandainya ingin kaya, dia sudah kaya sejak dulu. Dia adalah salah satu dokter hewan pertama di Palu. Keilmuannya yang masih langka memberi dia peluang mendapatkan keuntungan  materi secara lebih. Tapi menurut mantan dosen tersebut, hal itu tidak dilakukannya. Ia memilih jalannya sendiri. Jalan sunyi yang begitu sederhana sebagaimana yang kita saksikan hingga akhir hayatnya

Napsi selalu mengembalikan sisa uang perjalanan dinas ke kas kantor. Pun, saat pensiun sebagai Kepala Seksi Kesehatan Hewan di Dinas Peternakan Donggala, ia menggembalikan beberapa aset kantor. Di hari terakhir, kupon bensin dan kendaraan dinas motor zuzuki A100 yang digunakannya sebagai pejabat eselon IV (saat itu) ikut dikembalikannya. Pada  akhirnya ia harus membawa pulang motor itu setelah dipaksa oleh atasannya. Menurut putranya, Iwan Sunusi motor itu tergeletak begitu saja di kediaman mereka di Jalan Tadulako – tidak bisa lagi digunakan.

Sebagai manusia, mereka tentu ada kurangnya. Namun, jika menyaksikan, mendengar dan membaca hingga menyelami, ghirah perjuangan mereka, wajar bagi kader muda untuk memantaskan diri mengikuti  torehan mereka.

Mereka adalah penyanggah tiang langit dakwah di Sulawesi Tengah yang telah menyelesaikan urusannya di dunia.
Mereka meninggalkan warisan yang adi luhung. Bukan aji mumpung.
Mereka juga bukan hartawan yang meninggalkan kekayaan.
Mereka meninggalkan legasi. Legasi itu adalah kejujuran sebagai koridor pengabdiannya.
Dan kita yang ditinggalkan, jangan sibuk berebut remah-remah kekuasaan.

Penulis: Amanda

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan