BERJASA - Buya Hamka berjasa membawa dakwah Muhamadiyah di Sulawesi Tengah

HARI ini 108 tahun yang lalu tepatnya 18 November 1912, Muhammadiyah lahir di panggung dakwah tanah air. Hadir sebelum bayi Indonesia lahir, membuat gerakan ini menjadi pemain penting dalam mengawal dan membentuk moral bangsa. Gerakan Islam modernis yang didirikan KH Ahmad Dahlan alias Muhammad Darwis di kota santri di Kauman Yogyakarta ini, akhirnya merambah juga ke Sulawesi Tengah.

 

Tak butuh waktu lama bagi Muhamadiyah yang dibesut di  Kauman Yogyakarta itu hadir di panggung dakwah di Sulawesi Tengah. Delapan belas tahun kemudian atau tahun 1930, gerakan ini pun masuk di Sulawesi Tengah.

Mungkin tidak banyak yang tahu. Jika masuknya Muhammadiyah di Bumi Tadulako dibawa oleh seorang tokoh besar nasional, Buya Hamka mantan Ketua PP Muhammadiyah seorang ulama besar asal Padang – Sumatera Barat.

Buya Hamka adalah seorang ulama, politisi dan sastrawan besar yang tersohor dan dihormati di kawasan Asia. Hamka adalah akronim namanya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Lahir di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981.

Dialah yang memperkenalkan dakwah Muhammadiyah tepatnya pada 1930 silam. Menurut mantan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah Syamsudin Hi Halid, saat itu, Buya Hamka masih menjadi koordinator Muhammadiyah wilayah Indonesia Timur.

Memang belum ada pembagian wilayah secara geografis Indonesia Timur, Indonesia Tengah dan Indonesia Barat. Bahkan nama Indonesia masih dikenal dengan Hindia Belanda. Namun Hamka dipercaya bertanggungjawab terhadap wilayah yang hari ini dikenal sebagai kawasan Indonesia Timur.

Dalam kapasitasnya itu, Buya Hamka masuk ke Sulawesi Tengah menyampaikan dakwah pembaharuan. Ia mendakwahkan Muhamadiyah, saat cara beragama nyaris di seluruh Indonesia masih kental dengan unsur kepercayaan lokal.  Perlahan dan pasti,  tokoh masyarakat mulai menerima ajaran pembaharuan yang ditawarkan Muhamadiyah melalui Buya Hamka tersebut.

PENGADERAN – Sistem pengaderan yang dilakukan IPM dan IMM membuat dakwah Muhamadiyah lebih terarah

Namun dinamika gerakan Muhamadiyah di Sulawesi Tengah, benar-benar menggeliat menjelang tahun 1960-an. Ini ditandai dengan datangnya gelombang warga Minang yang di tanah kelahirannya telah menjadi pengikut Muhammadiyah. Bahkan Halid menyebut, salah satu dari warga Minang itu menjadi kepala kantor Urusan Agama di Kabupaten Donggala.

Di Sulawesi Tengah, daerah yang menjadi basis gerakan dakwah Muhamadiyah pada 1960-an adalah Desa Wani – Kabupaten Donggala. Kala itu para mubalig dari Jokya menyelenggarakan pendidikan sebagai media dakwah.

Pada perkembangannya kemudian, ada juga tokoh dari provinsi tetangga Gorontalo dan Sulawesi Selatan (Bugis) yang membawa Muhammadiyah ke Sulawesi Tengah. Hingga akhirnya, gerakan yang dikenal dengan pemberantasan tahyul, bid’ah dan khurafat pada tahun 70-an semakin mengepakkan sayap dakwahnya.  Walau demikian resistensi dari internal umat Islam sendiri cukup terasa.

Kedatangan pendakwah Gorontalo dan Sulawesi Selatan menurutnya, berhasil membuat wajah Muhammadiyah di Sulawesi Tengah lebih familiar . Ini karena, warga Bugis cukup banyak tak hanya di Desa Wani, melainkan di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah. Hal ini  makin memudahkan jalannya dakwah. ”Perlahan dan pasti, gerakan ini akhirnya bisa diterima oleh warga,” urainya.

Menurut Syamsudin Halid, gerakan dakwah mulai tertata baik pada 1965. Ini ditandai hadirnya sistem pengaderan Muhammadiyah yang dimotori oleh Ikatan Pelajar Muhamadiyah (IPM) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Gerakan yang dilakukan bersinergi dengan para tokoh-tokoh Muhammadiyah dari luar daerah,  membuat dakwah makin diterima.

‘’Dari IMM inilah lahir bibit-bibit kader Muhammadiyah yang kemudian menjadikan Muhammadiyah seperti yang kita lihat sekarang ini. Saya juga termasuk yang dikader di wadah ini saat itu,’’ katanya.

Kebanyakan tokoh-tokoh Muhamamdiyah yang berjasa membesarkan Muhammadiyah di Sulawesi Tengah kini sudah meninggal, seperti H Madjid dan Anwar Djamal, termasuk tokoh Muhammadiyah generasi 60-an seperti Rusdy Toana dan Ishak Arif sudah wafat.

‘’Saya seangkatan dengan Pak Rusdy Toana. Saat beliau datang dari Jawa, saya juga masuk kota Palu. Jadi sama-sama,’’ jelasnya.

Diawal kehadirannya, metode penyebaran gerakan yang dikenal dengan pembaharuannya ini ada dua macam. Ada yang sembari berdagang. Namun ada pula yang datang khusus untuk menyampaikan misi Muhammadiyah di bidang pembaharuan.

Harus diakui katanya, pada saat itu tantangan Muhammadiyah memang cukup berat. Dakwah yang disampaikan selalu dihalang-halangi. Karena misi yang dibawa dianggap menggusur tradisi dan kepercayaan yang sebelumnya telah melembaga di dalam masyarakat.

Salah satunya adalah perlawanan terhadap pelaksanaan salat Id di lapangan terbuka. Saat itu warga masih salat Id di masjid. ‘’Ketika Muhammadiyah menawarkan salat di lapangan, semua protes. Kita bahkan dikawal sama aparat karena menjaga jangan sampai ada warga dari luar yang masuk memprotes. Seru juga saat itu,’’ ujarnya mengenang.

Namun lama kelamaan karena dakwah yang disampaikan selalu dilandasi dalil-dalil yang kuat, orang-orang akhirnya bisa menerima untuk salat Id di lapangan. Salah satu kunci keberhasilan dakwah saat itu adalah dakwah dari rumah ke rumah.

Ia mengungkapkan, walau telah banyak prestasi yang ditorehkan Muhammadiyah dalam pengembangan umat namun masih banyak pula yang perlu dikoreksi. Salah satunya adalah adanya kecenderungan mubaliq muda, yang hanya menyampaikan tema dakwah yang moderat. Artinya para dai muda itu, cenderung menyampaikan tema umum dan tidak ingin mengangkat tema yang berkaitan dengan tahyul, bid’ah dan khurafat. Padahal penyakit masyarakat seperti ini masih besar.

Secara fisik kemajuan amal usaha Muhamadiyah cukup menggembirakan. Saat ini pesantren, perguruan tinggi dan sekolah-sekolah Muhammadiyah sudah bertebaran di berbagai daerah di Sulawesi Tengah.

Karena itu momentum HUT kehadiran Muhammadiyah di panggung dakwah Indonesia yang merentang seabad lebih, sekaligus untuk mengintropeksi diri sejauhmana perannya dalam menggembleng akidah umat.

Ini sesuai dengan tujuan utama Muhammadiyah yakni mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi karena pembauran kepercayaan. Penyimpangan ini sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi. Gerakan Muhammadiyah yang berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat, sambung Halid harus terus fokus dalam semangat sebagaimana pergerakan ini lahir seabad lebih yang lampau.

Menampilkan ajaran Islam katanya bukan sekadar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya. ‘’Inilah yang sedang dan terus dilakukan oleh kader-kader Muhammadiyah, hari ini dan nanti,” tutupnya. ***

Penulis   : Amanda
Foto        : Dok IPM Sulteng

 

*Artikel ini tayang di Radar Sulteng dalam rangka HUT 100 tahun Muhamadiyah, 8 Mei 2010 dan mengalami modifikasi

Tinggalkan Balasan