SANG PENJAGA - Tadulako panglima perang sendiri di kesunyian. Memastikan alam kaya tidak digerayangi tangan jahil.

Behoa Tampoku Kabilai…
To matanta  hangko’i bekiringku…….!!!

 

Syair syarat makna dari Lagu Ngamba Behoa mengalun syahdu. Memecah hening langit sore. Hujan rintik jatuh membasuh alam Bumi Behoa. Mengantar senja yang sebentar lagi redup. Seliweran orang berbusana adat, tak hirau walau hujan menghajar sedari siang. Alunan musik bambu dan lagu Ngamba Behoa, mengalun menembus cakrawala yang tertutup kabut. Ini adalah sepenggal prosesi pembukaan Kemah Budaya di Kompleks Patung Megalit Tadulako, Desa Bariri.

Pada sore itu, kawasan patung Tadulako disesaki seratusan peserta kemah budaya. Hajatan yang digagas Komunitas Baku Bantu berlangsung 19-21 Maret 2021. Kemah Budaya ini, menghadirkan mahasiswa dan warga setempat. Tak pelak keriuhan ini membuat kawasan sunyi menjadi ramai seketika. Patung Tadulako seorang pahlawan perang, dalam tiga hari itu, tak sendiri lagi.

Beribu tahun berdiri tegar.
Sejak belantara hingga kini membentuk savanah luas.
Sejak purbakala hingga usia semesta memasuki industri 4.0.
Ia tetap di sana. Sendiri dikesunyian menatap landscape alam bumi tua Behoa.

GENERASI PENERUS – Anak-anak Besoa siap memikul tanggungjawab melanjutkan amanat para leluhur

Sosok yang dalam hikayatnya adalah pemimpin perang tetap kokoh hingga hari ini. Berdiri kaku. Tak bergerak. Menatap landscape alam yang sejak kehadirannya entah telah berapa kali berubah bentuk. Tokoh Adat Behoa, Sandi Tolise menyebut eksistensi patung megalit Tadulako – tidak bisa maknai sesederhana memandang batu pahatan yang teronggok tanpa makna.

 

Eksistensi Tadulako adalah simbol keteguhan dan komitmen menjaga alam Lembah Besoa dari tangan-tangan jahil yang hati dan otaknya disesaki, tentang bagaimana mengeruk untung dari perut bumi dan alam Behoa.

Tadulako adalah panglima.
Tadulako adalah penjaga.

Menjaga orang-orang yang hati dan pikirannya tergoda membabat hutan di Bumi Behoa.
Menjaga orang yang hati dan pikirannya tergoda mengeksploitasi kandungan di perut Bumi Behoa.
Menjaga orang-orang yang hati dan pikirannya tergoda memburu artefak dan menyusupkannya ke pasar gelap.
Menjaga orang-orang yang miskin atitude, norak bin udik, saat memperlakukan aset langka.

Semangat Tadulako ini ungkap Tolisi telah terpatri di benak generasi Behoa secara turun temurun. Sudah banyak orang-orang yang mencoba masuk. Menggunakan kekuatan modalnya. Menggoda warga menjual tanahnya di dataran ini. Namun tak pernah berhasil.

”Tapi entahlah kedepannya,” ucapnya membatin.

Tolisi melanjutkan, Tadulako tetaplan patung. Namun sosoknya mengirimkan pesan soal semangat, kearifan dan kebajikan khas warga Behoa secara turun temurun. Misalnya, bagaimana setiap jengkal tanah di alam lembah Behoa adalah harta warisan yang terus dijaga. Secuil artefak yang tersembunyi di sudut-sudut alam Behoa harus diperlakukan dengan arif. Warga yang menemukan peninggalan bersejarah di kebunnya. Atau di halaman rumahnya. Tetap memberlakukannya dengan sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.

Bagi Tolisi, sikap arif warga adat di lembah yang kaya peninggalan purbakala itu, adalah modal penting yang bisa menjamin seperti apa kelak benda-benda langka itu di tangan generasi selanjutnya.

SEPI – Beribu tahun sendiri di padang sunyi.

Melewati bentangan zaman bersama harta karun peninggalan bersejarah telah dilakukan warga dengan turun temurun. Sayang totalitas warga menjaga keasrian landcape alam Behoa tidak dilihat sebagai sebuah ikhtiar yang harus dihargai. Setidaknya, begitu pengakuan Sandi Tolise di depan wartawan. ”Masyarakat tidak dilibatkan secara penuh dalam mengelola aset purbakala,” curhatnya.

Walau eksistensi mereka belum direken secara memadai. Namun menyadari posisinya sebagai pintu terakhir penjaga warisan bersejarah itu, warga adat tetap melaksanakan tanggungjawabnya. Inilah tanggungjawab moral terhadap leluhur. ”Padahal pelibatan warga adalah keniscayaan,” tambah Tolisi.

Tolisi mengaku, generasinya kini tak muda lagi. Sementara tantangan menjaga keasrian ekosistem Lembah Behoa dan memelihara situs makin kompleks. Termasuk penjarah yang mengincar warisan langka itu. Ia bersyukur, generasi baru di belakangnya yang menjaga alam di bumi kaya itu terus bertumbuh.

Seperti yang terlihat, pada momentum pembukaan Kemah Budaya. Puluhan anak-anak dengan koreografi apik, bertelanjang kaki berloncatan lincah. Menari energik di atas rumput basah. Kilau pernik busana adat berpadu dengan nuansa lembayung senja, tampak lusuh diterpa hujan ringan. Anak-anak Behoa ini tetap semangat. Mereka seolah tak kekurangan energi. Energi nan kunjung padam, yang oleh Sandi Tolisi diwarisi dari semangat pahlawan mereka Tadulako. Tokoh pahlawan yang ribuan tahun telah membersamai mereka. Menjaga alam. Menjaga tanah pusaka. ***

 

Penulis     : Amanda
Foto-foto  : Rahman(Odie) & Amanda

Tinggalkan Balasan