Serba Serbi

Warga: Selama Lima Tahun Ibu Verna Kerja Apa?

BERI SAMBUTAN: Janji Bupati Poso Verna GM Inkiriwang untuk membangun infrastruktur pariwisata di situs Pokekea dipertanyakan warga. Tampak Verna memberi sambutan di Festival Tampo Lore, Jumat 28 Juni 2024.

JANJI  Bupati Verna GM Inkiriwang yang akan memperbaiki akses jalan dari Desa Bariri menuju pintu masuk Situs Pokekea di Desa Hanggira, Poso  ditanggapi sinis oleh warga setempat.  ‘’Selama lima tahun Ibu Verna kerja apa. Kenapa nanti sekarang baru ada rencana seperti itu. Kenapa tidak dari dulu,’’ kritik salah warga Aprianus T, merespons sambutan Verna di pembukaan Festival Tampo Lore Desa Hanggira, Lore Tengah, Jumat 28 Juni 2024.

Ia menduga, janji yang disampaikannya itu, tak terlepas dari keinginan putri sulung, mantan Bupati Poso Piet Inkiriwang untuk mencalonakn kembali  menjadi Bupati Poso periode kedua. Menurut dia, janji yang disampaikan di hadapan ratusan warga Desa Hanggira, Bailura dan Desa Bariri serta para undangan, adalah untuk meraih simpati warga untuk Pilkada Oktober 2024. Pada Pilkada 2019 lalu, Verna meraih suara signifikan disejumlah desa di Lembah Behoa.

Verna Inkiriwang saat menyampaikan sambutan di arena Festival Tampo  Lore, berjanji akan memperbaiki akses jalan dari Desa Bariri menuju situs megalit Pokekea yang berjarak tiga kilo meter lebih. Pada Tahun Anggaran 2025,  Pemerintah Kabupaten Poso, akan fokus pada beberapa sektor, di antaranya pertanian dan pariwisata. ‘’Pada tahun anggaran 2025, saya sudah  anggarkan untuk  pariwisata, salah satunya fokus di situs Pokekea ini. Hanya pagunya berapa miliar saya lupa,’’ ucapnya. Verna yang mengaku baru sekali ke situs Pokekea akan melibatkan beberapa instansi terkait untuk mengerjjakan proyek-proyek pariwisata. Pada kesempatan yang sama, ia menyatakan komitmennya pada penyelenggaraan Festival Tampo Lore yang sekarang sudah memasuki edisi ketiga.

Kepala Dinas Pariwisata, Provinsi Sulawesi Tengah, Diah Agustiningsi Entoh, saat membuka Festival Tampo Lore, mengatakan, momentum festival ini untuk memperkuat komitmen kolektif terhadap pelestarian alam dan  terhadap tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Karena itu, festival ini ungkap mantan Kadis Pariwisata Kabupaten Sigi, ini tak semata untuk pesta rakyat,  melainkan menjadi titik tolak untuk meningkatkan komitmen menjaga nilai nilai dan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Diah mengatakan, Sulawesi Tengah adalah episentrum tempat di mana alam dan budaya  saling  berpadu dan melengkapi.

Ketua Panitia Festival sekaligus Direktur Relawan untuk Orang dan Alam (RoA) Mohammad Soebarkah inisiator Festival Tampo Lore, mengatakan, kehadiran festival  yang sudah memasuki edisi ketiga, diharapkan mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif dan menumbuhkan komitmen untuk menjaga alam Lembah Behoa. Dengan pengalaman tujuh tahun bekerja dalam pendampingan dan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Poso, event semacam ini diharapkan memberi stimulan untuk tumbuhnya ekonomi di tingkat tapak melalui kegiatan kebudayaan dan kunjungan wisatawan.

Festival  yang berlangsung, tiga hari, 28 – 30 Juni 2024 dimeriahkan dengan panggung budaya, diskusi ekonomi kreatif dan workshop yang melibatkan kelompok adat, perempuan dan pemuda disejumlah desa  di lingkar situs megalit.

Penulis: Yardin
Foto: Taufan Bustan/MI

 

Roemah Kata
the authorRoemah Kata
Anggaplah ini adalah remahan. Tapi kami berusaha menyampaikan yang oleh media arus utama dianggap remah-remah informasi. Tapi bisa saja remah remah itu adalah substansi yang terabaikan akibat penjelmaan dari politik redaksi yang kaku dan ketat. Sesederhana itu sebenarnya.

Tinggalkan Balasan