Jelajah Danau Poso, Menyaksikan Biota Endemik, Merekam Ancaman

SNORKELING – Belasan guru dari sejumlah sekolah di Kabupaten Poso, melakukan pengamatan biota endemik Danau Poso di Watu Dua di Desa Lebonu, 22 Oktober 2026

INSTITUT Mosintuwu bersama Sulawesi Keepers menggelar ekspedisi Jelajah Danau Poso pada 22–25 Oktober 2026. Ekspedisi ini menyusuri kawasan Danau Poso, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, dengan menyinggahi 16 situs geologi, arkeologi, dan keanekaragaman hayati.

Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri atas guru-guru SD, SMP, dan SMA di Kabupaten Poso, tim pakar, anggota PGRI Kabupaten Poso, awak media, serta relawan mahasiswa Perikanan Universitas Tadulako.

Tim ekspedisi memulai aktivitas jelajah dengan mengunjungi Batu Dua di Desa Lebonu, kemudian Watu Pangasa Angga di Kelurahan Sangele. Di lokasi tersebut, peserta melakukan snorkeling untuk mengamati biota endemik Danau Poso.

Penyelaman dipimpin Markéta Rejlková dari Sulawesi Keepers, organisasi lingkungan internasional yang merupakan bagian dari jejaring kolaboratif pelestarian keanekaragaman hayati, khususnya spesies endemik air tawar di Pulau Sulawesi.

Rejlková merupakan seorang aquarist atau ahli pemeliharaan organisme akuatik, sekaligus kurator ikan, reptil, amfibi, dan invertebrata di Kebun Binatang Ostrava (Ostrava Zoo), Republik Ceko.

MENCATAT – Setiap hewan danau yang diperoleh dicatat

Pengamatan biota endemik Danau Poso dilakukan di sejumlah lokasi, yakni Desa Lebonu, Desa Bancea yang mencakup Tando Bancea dan Kompleks Taman Anggre, serta Watu Yano di Desa Dulumai.

Hasil pengamatan di lokasi-lokasi tersebut menunjukkan kondisi lingkungan perairan yang beragam. Berdasarkan temuan awal, sejumlah kawasan masih memiliki kualitas air yang relatif baik, sementara kawasan lainnya diduga telah terkontaminasi racun rumput yang digunakan di area perkebunan.

Pengamatan juga mengindikasikan semakin meluasnya keberadaan ikan introduksi yang berpotensi mengancam keberlangsungan ikan endemik Danau Poso.

 MENCATAT HASIL PENGAMATAN

Selama penyelaman, para guru dibekali catatan dan gambar ikan endemik yang diketahui hidup di Danau Poso. Hasil pengamatan bawah air kemudian dicocokkan dengan daftar tersebut untuk mengidentifikasi biota yang dijumpai.

Kegiatan ini tidak sekadar memberi pengalaman lapangan kepada para guru. Mereka juga memperoleh pengetahuan langsung tentang keanekaragaman biota endemik Danau Poso, potensi yang dimiliki, serta ancaman terhadap keberlangsungannya. Pengetahuan itu diharapkan dapat diteruskan kepada peserta didik di sekolah.

KEPITING ENDEMIK – Salah satu kepiting endemik Danau Poso diambil dari hasil pengamatan di Watua Dua, Desa Lebonu 22 Oktober 2026

Antusiasme para guru terlihat sepanjang pengamatan berlangsung. Setiap biota yang ditemukan dibawa untuk diidentifikasi melalui gambar yang tersedia. Pada saat bersamaan, relawan mahasiswa mencatat hasil pengamatan tersebut dalam buku pencatatan.

Suasana penyelaman berlangsung seru. Para guru bersemangat menemukan berbagai jenis biota danau untuk diamati dan dicatat. Bagi sebagian peserta, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda dari rutinitas di ruang kelas.

“Ini pengalaman yang seru, belajar sambil piknik,” kata Ani Dako, pengurus PGRI Kabupaten Poso. ‘’Ini asyik, bagusnya siswa kita dibuat begini juga,’’ celetuk Retno Pangesti, Guru SDN Toyado – Lage, Poso.

Di Pantai Taman Anggrek, aktivitas snorkeling juga berlangsung seru. Peserta berhasil menemukan beragam biota, mulai dari ikan, kerang, hingga udang endemik. Ikan mujair yang merupakan hasil introduksi juga ditemukan dan berhasil ditangkap.

Berbeda dengan di Pantai Taman Anggrek, perhatian peserta di Tando Bancea tidak sepenuhnya tertuju pada pengamatan biota endemik. Mereka justru tertarik pada kisah manusia yang dikutuk menjadi batu, serta sebuah batu kecil menyerupai pembaringan anak yang berada di palung air.

Keajaiban bawah air Bancea itu tidak dapat disaksikan semua orang karena tidak semua peserta mampu menyelam hingga ke lokasi tersebut. Suasana di Bancea semakin terasa ketika seorang tetua adat setempat melantunkan lagu daerah yang berkisah tentang alam dan kehidupan nenek moyang warga desa pada masa lalu.

DICATAT – Setiap hewan danau yang diperoleh dicocokan dengan data hewan endemik yang sudah disiapkan sebelumnya

Di tengah suasana itu, Markéta Rejlková tetap menyempatkan diri menyelam. Berbekal kamera bawah air, ia mengabadikan labirin di dasar danau. Di sana, atap-atap batuan metamorf berwarna putih membentuk bentang alam bawah air yang khas. Kristal-kristal yang terbentuk melalui proses alam dan pengikisan air danau menghiasi batuan tersebut, menjadi bagian dari habitat berbagai spesies endemik di sudut kecil Bancea.

Di Bancea, Markéta menemukan spons berwarna hijau yang tumbuh menempel pada bebatuan. Temuan itu disambut antusias karena keberadaan spons tersebut dapat menjadi petunjuk kondisi perairan yang masih bersih dan relatif belum tercemar.

Pengamatan biota endemik berakhir di situs Watu Yano, Desa Dulumai. Di lokasi ini, Lian Gogali, koordinator Jelajah Danau Poso sekaligus Direktur Institut Mosintuwu, membacakan legenda tentang batu yang hanya muncul ketika permukaan danau surut.

Usai mendengarkan legenda tersebut, peserta berpencar menyusuri bebatuan dan menyelam di sekitar Watu Yano. Mereka kembali menyaksikan keindahan dunia bawah air Danau Poso.

Di lokasi ini, Markéta Rejlková kembali menemukan spons hijau yang tumbuh menempel pada bebatuan. Ia menyambut temuan itu dengan senyum. Menurutnya, kondisi perairan yang belum tercemar menjadi hal penting bagi kelangsungan hidup biota danau.

SIPUT – aneka siput masih ditemukan di sepanjang pantai Danau Poso

Setelah tiga hari menjelajahi Danau Poso, Markéta mengunci pengalamannya dengan menyebut danau ini sebagai laboratorium evolusi dunia. Namun, di balik kekayaan hayati yang disaksikannya secara langsung, Marketa juga  menyimpan kekhawatiran terhadap kebijakan introduksi ikan yang dilakukan secara masif. Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi mengancam keberadaan biota endemik Danau Poso. “Ini bukan wacana, tetapi ancaman nyata. Saya menyaksikannya langsung,” kata Markéta. ***

penulis: yardin h
foto-foto: amar sakti/institut mosintuwu

 

 

Tinggalkan Balasan