Laolita Danau Poso, Ingatan yang Tak Boleh Tenggelam

LAOLITA – Tiga tokoh budaya Pamona, Iin Hokkey (kiri) Helmi Kalengke (tengah) Hajai Ancura (kanan) membawakan laolita dan pengalaman hidup berdampingan dengan alam Danau Poso, 22 Oktober 2026

TIM Jelajah Danau Poso tak hanya menyelami dunia bawah air, mengamati biota endemik, dan menyimak penjelasan ahli geologi. Mereka juga menyerap pengetahuan lokal melalui laolita (cerita rakyat) serta pengalaman para tokoh yang telah lama berinteraksi dengan alam Danau Poso.

Pada malam 23 Oktober, tiga budayawan Tana Poso berbagi cerita dengan peserta jelajah. Mereka adalah pemerhati budaya Poso Iin Honkey, pencerita Helmi Kalengke, dan Ketua Dewan Adat Sawidago, Hajai Ancura. Dari tuturan mereka, Danau Poso ternyata bukan semata bentang alam, melainkan ruang hidup yang menyimpan ingatan, kearifan dan warisan budaya masyarakatnya.

Iin Hokkey, putri budayawan Poso Yustinus Hokkey, mengenang bagaimana sejak kecil mereka diajarkan menghormati sungai dan danau melalui perilaku sehari-hari. Bahkan, ketika mencuci piring, remah sisa makanan tidak boleh dibuang ke air.

Bagi orang Poso, air diperlakukan dengan adantana (penghormatan). Air bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan entitas yang hidup dan bernapas. Sungai dan danau pun dipahami sebagai bagian yang saling terhubung, memiliki relasi yang tak terpisahkan. ‘’Inilah ingatan yang tidak boleh hilang,’’ katanya.

DISKUSI – Lian Gogali memoderasi diskusi tentang laolita di Dodoha, 22 Oktober 2026

Dari pemahaman itu, pengetahuan diwariskan antargenerasi, air harus dihormati, dijaga kemuliaannya, dan tidak diperlakukan semena-mena. Helmi Kalengke, yang akrab disapa Oma Kalengke, membagikan pengalaman masa kecilnya pada 1960-an tentang berbagai peristiwa unik yang dianggap memiliki nilai sakral.

Salah satunya adalah fenomena lampu danau, yang telah lama menjadi cerita di kalangan warga di lingkar danau. Oma Kalengke mengaku pernah melihat jejeran cahaya dari kejauhan di atas danau. Warna-warni cahaya itu tampak indah, mengembang di kegelapan. Mereka lalu mendayung perahu mendekati sumber cahaya. Namun, setibanya di sana, yang tersisa hanya nyala kecil dari sabut kelapa, yang perlahan meredup hingga padam.

Para tetua adat berpesan, ketika menyaksikan kejadian tak lazim di danau atau menghadapi angin kencang, mereka tidak boleh menggerutu ataupun memprotes keadaan. Bagi orang Pamona yang tumbuh bersama alam Poso, peristiwa semacam itu bukan sekadar kejadian alam. Di dalamnya, mereka diajarkan untuk melihat bagaimana Inang Semesta mewujud melalui berbagai gejala alam. Baik berupa api seperti lampu danau maupun angin.

Karena itu, menurut Oma Kalengke, menghormati air danau maupun sungai merupakan keharusan. Penghormatan itu bukan sekadar tradisi, melainkan cara merawat relasi antara manusia dan semesta.

MENYIMAK – Para guru menyimak cerita rakyat yang sarat pesan moral di Dodoha, 22 Oktober 2026

 

SERIUS – pengalaman mistis yang disampaikan Helmi Kalengke selama hidup berdampingan dengan alam Danau Poso mendapat perhatian serius peserta jelajah.

Hajai Ancura berbagi kisah tentang berbagai aktivitas masyarakat di Danau Poso yang menyimpan filosofi kehidupan. Salah satunya, saat menombak ikan menggunakan galah, warga tidak boleh menghentakkannya terlalu keras karena dapat mematikan kerang yang hidup di dasar danau. Kearifan ini mengajarkan bahwa mengambil hasil alam harus tetap mempertimbangkan kehidupan lain di dalamnya.

Namun, menurut Hajai, nilai-nilai itu kini tergerus, bukan hanya oleh sikap abai sebagian warga, melainkan juga oleh aktivitas alat berat yang mengeruk dasar sungai untuk meningkatkan debit air demi memutar turbin perusahaan swasta.

Hajai juga menceritakan sejumlah tradisi danau yang masih berusaha dipertahankan. Salah satunya inanco, yakni memasang perangkap dengan menyediakan rumah ikan di perairan dangkal. Ada pula mosango, tradisi menangkap ikan yang mengandung filosofi berbagi di air dari hasil tangkapan yang dilakukan dengan secara serempak.

Namun, tradisi mosango kini menghadapi tantangan. Kompo Dongi di Kota Tentena, ruang terbuka tempat warga berkumpul dan menjalankan tradisi tersebut, tak lagi dapat difungsikan karena tertutup material reklamasi.

Heri Yogaswara Kepala Organisasi Penelitian, Arkeologi Bahasa dan Sastra di  BRIN  sekaligus Tim Ahli Ekspedisi Poso, menjelaskan dalam konteks cerita rakyat seperti laolita yang dibagikan tiga tokoh kebudayaan Poso tersebut, negara tidak cukup hanya mengakui cerita rakyat sebagai warisan budaya. Negara juga berkewajiban mencatat, melindungi, mengembangkan, dan memastikan pewarisannya kepada generasi berikutnya.

Indonesia memiliki dasar hukum untuk itu, terutama UU Nomor 5/ 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2007 yang mengesahkan Konvensi UNESCO 2003 tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda.

Saat berbincang di kompleks Taman Anggrek Bancea 23 Oktober lalu, Yogaswara menuturkan, cerita rakyat termasuk dalam domain tradisi lisan dan ekspresi. Pemerintah mendokumentasikannya melalui rekaman tuturan, transkripsi, terjemahan serta pencatatan konteks sosial dan maknanya. ”Dokumentasi penting agar cerita tidak hilang ketika para tetua atau penutur yang menguasainya meninggal dunia,” katanya.

INANCO – Salah satu metode menangkap ikan suku Pamona di Desa Bancea bernama inanco tanpa menggunakan pestisida.

Ia menyarankan, Pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan sekolah, budayawan, komunitas adat dan peneliti untuk membawa cerita rakyat ke ruang pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Cerita dapat diajarkan melalui muatan lokal, kegiatan mendongeng, dokumenter, buku atau arsip digital. ‘’Tujuannya bukan hanya membuat cerita tetap dikenal, melainkan juga menjaga pengetahuan dan nilai yang dikandungnya,’’ tutup Yogaswara. ***

penulis: yardin h
foto-foto: amar sakti/institut mosintuwu

 

 

,

Tinggalkan Balasan