Jelajah Danau Poso, Para Guru Diajak Membaca Jejak Geologi dan Kisah Leluhur

CERITA RAKYAT – Pemimpin rombongan Lian Gogali membacakan kisah legenda Pada Marari Desa Taipa. 23 Oktober 2026

KESERUAN ekspedisi Jelajah Danau Poso tidak hanya berlangsung di bawah permukaan danau. “Setelah mendanau, kita mendarat,” kelakar Lian Gogali, koordinator ekspedisi sekaligus Direktur Institut Mosintuwu, saat mengajak peserta mengalihkan perhatian ke situs-situs geologi di sekitar Danau Poso.

Jika di danau peserta mengamati biota endemik, di darat mereka diajak menelusuri jejak geologi yang membentuk bentang alam kawasan tersebut. Reza Permadi, geolog sekaligus anggota tim ahli Ekspedisi Poso, memandu peserta membaca kisah masa lalu melalui batuan. Dengan penjelasan sederhana, ia memperkenalkan proses geologi yang turut membentuk lanskap Danau Poso kepada para guru.

Salah satu tujuan mereka adalah Gua Pamona, yang terletak tepat di hulu Sungai Poso, hanya beberapa meter dari Jembatan Bukaka, bekas jembatan legendaris Yondo mPamona. Gua ini terbentuk pada batu gamping Formasi Poso, batuan sedimen karbonat yang menjadi bagian dari sejarah geologi kawasan Danau Poso.

GUA PAMONA – Reza Permadi menjelaskan jenis batuan di Gua Pamona dan fakta geologi terbentuknya Danau Poso akibat sesar tektonik formasi Tokoronda dan Pompangeo, 22 Oktober 2026

Permadi, yang sehari-hari berkiprah sebagai akademisi di BINUS Jakarta, menjelaskan bahwa Danau Poso terbentuk akibat aktivitas tektonik sekitar 2,5–3 juta tahun lalu. Untuk memudahkan peserta memahami proses tersebut, ia melibatkan tiga mahasiswa dalam sebuah peragaan sederhana.

Ketiganya memeragakan pergerakan formasi Pompangeo dan Tokorondo. Melalui peragaan itu, Permadi menjelaskan bagaimana proses tektonik membentuk cekungan yang kemudian menjadi Danau Poso seperti yang dikenal saat ini.

Penjelasan tersebut menarik perhatian para guru. Muhamad Amirudin dari SDN Kasiguncu, Poso, bahkan melihat peragaan itu sebagai metode pembelajaran yang bisa diterapkan di sekolah. “Bagus ini kalau kita terapkan ke siswa,” ujarnya.

Dari jejak batuan dan proses pembentukan danau, perjalanan berlanjut ke jejak kehidupan manusia masa lalu. Tim ekspedisi menyambangi situs Watu Mpoga’a di halaman Gereja Betel, Pamona. Di sana, mereka disambut Helmi Kalengke, pensiunan guru sekolah dasar yang membawakan cerita rakyat tentang Watu Mpoga’a.

Kisah itu merupakan cerita epik tentang tujuh batu yang menjadi penanda perpisahan sekaligus pengikat janji untuk pulang bagi leluhur suku Pamona.

Cerita Helmi menghadirkan kejutan di bagian akhir, ketika ia mengisahkan keterkaitan cerita tersebut dengan keberadaan etnis Bajo. Alur yang tak terduga itu membuat peserta terperangah, sekaligus menunjukkan bagaimana cerita rakyat menyimpan ingatan kolektif tentang perjalanan dan hubungan antarkelompok masyarakat.

Dari sisi arkeologi, Iksam Djorimi, arkeolog Sulawesi Tengah, menjelaskan di zamannya batu menhir memiliki beragam fungsi dan makna. Salah satunya sebagai penanda wilayah atau batas suatu kelompok maupun komunitas. Sedangkan Menhir di Gereja Bethel, adalah menhir (batuan tegak) symbol perpisahan leluhur.

Penjelasan tersebut memberi perspektif lain terhadap cerita Watu Mpoga’a. Kisah Helmi tentang tujuh batu sebagai penanda suku-suku Pamona yang pergi, kemudian berjanji untuk kembali dan membentuk entitas baru, memiliki kaitan dengan fungsi menhir sebagai penanda kelompok masyarakat. Di titik ini, cerita lisan dan pembacaan arkeologis bertemu dalam upaya memahami jejak leluhur Pamona.

KISAH SUKU PAMONA – Helmi Kalengke seorang pencerita sedang membawakan hikayat suku-suku Pamona melalui tujuh buah bati menhir di halaman Gereja Bathel, Tentena, 22 Oktober 2026

Berdasarkan sejumlah sumber, batuan yang berada di halaman Gereja Bethel merupakan batuan monolit jenis andesit, yakni batuan beku vulkanik bertekstur halus hingga sedang. Karena sifatnya yang kokoh dan tahan terhadap pelapukan, batuan andesit banyak dimanfaatkan masyarakat pada masa Megalitikum, termasuk di wilayah Sulawesi Tengah, untuk membuat berbagai tinggalan megalitik.

Selanjutnya, tim Jelajah menyambangi situs geologi di Kelurahan Petirodongi. Di kawasan ini, terdapat dua jenis batuan yang tersingkap saat Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Poso melakukan pembangunan jalan. Namun, makna geologis dari singkapan tersebut baru terungkap ketika tim Jelajah Danau Poso edisi 2019 mengunjungi kawasan itu.

Kini, tebing curam tersebut dikenal sebagai Ketidakselarasan Petirodongi (unconformity), istilah geologi yang merujuk pada bidang yang menandai adanya jeda dalam rekaman pembentukan batuan. Situs ini menurut Reza Permadoi telah ditetapkan sebagai warisan geologi oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Yunita Sara’u, pengajar Bahasa Inggris di SMA Harmoni Sulewana, mengaku kagum dengan fenomena geologi tersebut. Selama ini, ia kerap melintasi jalan itu, tetapi tidak mengetahui makna  yang tersingkap di balik tebing tersebut.

Selanjutnya, tim Jelajah menyambangi situs geologi di Kelurahan Petirodongi. Di kawasan ini, terdapat dua jenis batuan yang tersingkap saat Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Poso melakukan pembangunan jalan. Namun, makna geologis dari singkapan tersebut baru terungkap ketika tim Jelajah Danau Poso edisi 2019 mengunjungi kawasan itu.

Kini, tebing curam tersebut dikenal sebagai Ketidakselarasan Petirodongi (unconformity), istilah geologi yang merujuk pada bidang yang menandai adanya jeda dalam rekaman pembentukan batuan. Situs ini telah ditetapkan sebagai warisan geologi oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

KETIDAKSELARASAN PETIRODONGI – Dua jenis batuan yang tidak selaras ini adalah salah satu ikhwal pembentuk Danau Poso. Reza Permadi sedang menjelaskan proses geologi kepada peserta jelajah, 22 Oktober 2026

Yunita Sara’u, pengajar Bahasa Inggris di SMA Harmoni Tentena, mengaku kagum dengan peristiwa alam tersebut. Ia mengaku, kerap lewat di sepanjang jalan ini, namun tidak mengerti apa-apa di balik peristiwa geologi itu.

Dengan antusiasme yang sama, Reza Permadi kembali mengajak peserta menyelami peristiwa geologi yang berlangsung jutaan tahun lalu. Kali ini, perhatian mereka tertuju pada Ketidakselarasan Petirodongi. Di balik tebing setinggi sekitar delapan meter itu, ada jejak waktu yang hilang dalam rekaman pembentukan batuan.

Pendiri Atourin, platform pariwisata digital di Indonesia, itu meminta peserta mengamati tebing dan menyebutkan apa saja yang mereka lihat. Beragam jawaban pun bermunculan. Ada yang menunjuk garis pembatas antara lapisan atas dan bawah, garis miring, hingga perbedaan warna yang mencolok. Ada pula yang hanya melihat tanah miring yang mulai terkikis erosi.

Permadi kemudian menjelaskan bahwa tebing tersebut memperlihatkan dua lapisan batuan sedimen yang berbeda. Lapisan bawah merupakan Formasi Puna, sedangkan lapisan atas adalah Formasi Lage. Perbedaan kedua lapisan itu menjadi petunjuk untuk membaca proses geologi yang terjadi di kawasan tersebut.

Namun, penjelasan itu belum sepenuhnya menjawab rasa ingin tahu peserta. “Maksudnya apa ini, Bang?” celetuk Eril, guru SDN Dulumai. Pertanyaan itu membuka jalan bagi Permadi untuk menjelaskan makna ketidakselarasan (unconformity), yakni adanya jeda dalam rekaman geologi yang menunjukkan bahwa proses pembentukan batuan tidak berlangsung secara berkesinambungan. Fenomena ini menjadi salah satu petunjuk penting untuk memahami sejarah pembentukan lanskap Poso, termasuk bentang alam di sekitar danau purba ini.

Kepiawaian Permadi menjelaskan istilah-istilah geologi dengan bahasa sederhana kembali diuji saat tim ekspedisi tiba di puncak tertinggi Pada Marari, Desa Taipa. Puncak ini adalah spot terbaik untuk menyaksikan bahwa sesar Poso itu ada. Permadi mengajak peserta berputar 360 derajat mencari penanda sesar bagian barat yang pernah terjadi jutaan tahun lampau.

Salah satu petunjuk yang menonjol adalah bidang segitiga (triangular facet), yakni bentang alam berupa lereng yang membentuk bidang menyerupai segitiga. “Bentukan ini dapat menjadi petunjuk adanya sesar yang mengangkat atau menggeser blok batuan,” jelas Permadi.

GUA LATEA – tengkorak di Gua Latea dikenal sebagai kuburan kedua nenek moyang suku Pamona. Pemandangan serupa banyak dijumpai diceruk alam sekitar lingkar danau.

Persinggahan terakhir tim Jelajah Danau Poso adalah Watu Yano, di Desa Dulumai, Kecamatan Pamona Puselemba. Lima perahu yang membawa rombongan mengitari batu yang kerap disebut batu apung itu. Dari kejauhan, Watu Yano tampak seperti mengapung di permukaan danau. Batu ini hanya terlihat saat air surut dan kembali tersembunyi ketika air pasang.

Watu Yano juga menyimpan legenda lokal tentang seorang ibu dan bayinya. Kisah simbolis itu dituturkan Lian Gogali melalui laolita (cerita) di atas perahu, sebelum Reza Permadi mengambil alih penjelasan untuk menguraikan jenis batuan yang membentuk situs tersebut.

Watu Yano tersusun dari batu gamping, jenis batuan yang banyak ditemukan di sekitar Danau Poso. Batuan ini dapat larut secara perlahan oleh air dan mengalami pelapukan serta erosi. Proses tersebut, dalam jangka waktu panjang, dapat mengubah bentuk batuan. Sementara itu, kemunculan dan hilangnya Watu Yano dari permukaan danau berkaitan dengan perubahan tinggi muka air.

Di Watu Yano, perjalanan berakhir. Lian kemudian mengunci. Perjalanan selesai tetapi cerita tentang peristiwa dan pembentuk Danau Poso belum selesai. Para guru harus membawa pulang pekerjaan baru. Meneruskan cerita tentang danau dan segala kekayaannya kepada anak-anak di sekolah.***

penulis: yardin h
foto-foto: amar sakti/institut mosintuwu

 

Tinggalkan Balasan