SAAT itu saya berada puluhan kilometer di dalam hutan belantara di Desa Simpangan Kabupaten Banggai. Terisolasi oleh banjir Sungai Ongkaam yang tidak kunjung surut. Tidak punya televis tabung, tidak ada surat kabar. Dan tidak ada akses untuk menonton Piala Dunia 1986 yang sudah memasuki fase perempat final.
Namun di tengah keheningan berburu madu, damar dan rotan saat itu, lewat cerita seorang teman yang baru kembali dari kampung membawa logistik ikan kaleng dan biskuit Khong Guan, kami semua akan mendengar sebuah momen sepak bola yang baru sepenuhnya saya pahami bertahun-tahun kemudian.
Empat puluh tahun kemudian hari ini, Estadio Azteca di Mexico City kembali menjadi palagan pembukaan Piala Dunia 2026. Tempat yang sama di mana Diego Maradona mencetak gol ‘Tangan Tuhan’ yang legendaris itu.
Mendengar cerita tentang Argentina dan Maradona, kami bertekad tidak membiarkan fase babak 8 besar berlalu begitu saja. Sehari sebelumnya menjelang kick off Senin, 23 Juni 1986 pukul 02.00 WITA, kami semua memutuskan meninggalkan lapak buruan di jantung belantara.
Target kami satu. Mencapai kampung di depan sebuah televisi tabung berukuran 14 inci yang telah menunggu di kampung. Di Stadion Azteca, laga final itu sebenarnya dimainkan pada hari Minggu siang 24 Juni 1986.
Sepupu saya menegaskan bahwa banjir yang merendam Sungai Ongkaam hari itu harus ditaklukkan. Apa pun risikonya. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk menyaksikan Diego Maradona berada di puncak supremasi kariernya.
Sepanjang perjalanan kaki yang melelahkan itu, sepupu saya terus berbicara tentang politik dunia. Ia mengingatkan bahwa laga ini berlangsung kurang dari lima tahun setelah berakhirnya Perang Falklands atau Perang Malvinas yang berakhir dengan kekalahan memilukan Argentina dari Inggris. Nasionalisme Maradona dan kawan-kawan makin melecut akibat perang di masa Perdana Menteri Margaret Tatcher itu.
Malam hari, kami akhirnya berhasil menyentuh bibir kampung. Tubuh kami basah kuyup, menyisakan dingin setelah bergelut dengan banjir Sungai Ongkaam yang mencapai sebatas dada orang dewasa.
Di bawah siluet temaram lampu petromak dari rumah-rumah papan tanpa cat yang kami lalui, suasana Piala Dunia terasa nyata. Bendera negara-negara peserta yang terbuat dari kertas minyak berwarna-warni tampak menempel di dinding-dinding kayu. Dari kegelapan jalanan, kami bisa mendengar pekikan anak-anak belia yang terus meneriakkan nama Maradona dan Argentina.
Saat itu, taktik sepak bola atau negara peserta lain tidak terlalu penting bagi saya. Namun, mendengar nama Maradona dan menjadi bagian dari keriuhan komunal ini adalah hal yang sangat penting.
Setiba di rumah, kami bergerak cepat mengganti pakaian yang basah. Sekitar pukul 20.00 WITA, kami sudah harus bergegas jalan kaki lagi menuju desa tetangga. Di kampung kami, Simpangan, tidak ada satu pun televisi. Satu-satunya harapan kami adalah sebuah televisi hitam-putih milik warga transmigran asal Bali di Desa Kospakarya atau yang lebih dikenal sebagai Bali Dua.
Malam itu, saya pergi dengan setelan seadanya. Celana pendek pinjaman dari seorang saudara. Sementara di sepanjang jalan, tetangga-tetangga lain tampak bangga mengenakan kaus oblong bertuliskan “Maradona” yang mereka lukis sendiri dengan cat seadanya.
Jatuh dari Pohon Jambu
Kami akhirnya tiba di tujuan. Tempat itu adalah sebuah rumah kios kecil yang sudah mulai disesaki warga. Padahal pertandingan baru akan dimulai beberapa jam lagi. Layaknya rumah warga transmigran Bali, tata ruangnya khas.
Antara ruang induk dan dapur dipisahkan oleh sebuah area terbuka yang agak lapang. Di sanalah sebuah televisi hitam-putih diletakkan. Menjadi magnet bagi semua orang.
Tua, muda hingga perempuan mengambil posisi masing-masing. Halaman tanah di depan kios, yang luasnya seukuran lapangan bola voli, mendadak tak mampu menampung gelombang penonton yang terus berdatangan dari kampung-kampung sekitar.
Pada masa itu, teknologi pengeras suara tambahan belum ada. Audio bawaan televisi tenggelam oleh bisingnya obrolan penonton. Layar lebar atau teknologi proyektor juga masih menjadi kemewahan masa depan. Akibatnya, ratusan kepala manusia terpaksa berdesakan, berebut mendekati layar hitam-putih yang terasa makin mengecil di hadapan ratusan orang.
Ketika peluit tanda pertandingan dimulai, saya langsung kehilangan tempat ideal. Atmosfer di sekitar saya mendadak riuh. Protes massal meracau dari segala sudut setiap kali Maradona ditekel keras.
Dan halaman kios sontak bergemuruh murka ketika wasit dianggap membiarkan pelanggaran para pemain Inggris. Malam itu, mayoritas dari kami berdiri di belakang Tim Albiceleste.
Dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi, saya harus memutar otak. Saya berlari ke sana kemari mencari celah, hingga akhirnya memutuskan untuk memanjat sebuah pohon jambu demi mendapatkan sudut pandang yang ideal. Dari atas dahan, layar kecil itu akhirnya terlihat jelas.
Namun, keberuntungan kami tidak bertahan lama. Belum genap paruh pertama pertandingan berjalan, dahan pohon jambu tiba-tiba patah. Kami semua berlompatan ke tanah, menyelamatkan diri di tengah tawa dan kepanikan kecil, tepat saat Maradona sedang berjuang di lapangan hijau ribuan mil dari sana.
Gol yang Masih Diperdebatkan Hingga 40 Tahun Kemudian
Setelah terjatuh dari dahan pohon jambu, saya pasrah berdiri di barisan paling belakang. Dari sudut itu, mustahil bagi saya untuk menyaksikan detail dari apa yang terjadi di televisi.
Namun, tepat pada menit ke-51, halaman kios itu mendadak meledak. Ratusan orang berdiri serentak, berteriak dan berlompatan. Rumah papan milik warga transmigran itu bergemuruh hebat dalam sebuah selebrasi massal yang tidak bisa dikontrol. TV mendadak buram, tiang antena bergoyang warga yang dirasuki kegembiraan.
Pada dinihari gerak tubuh orang-orang yang melompat kegirangan itu bergerak rancak, sekilas tampak magis, menyerupai dinamika tarian Bali yang dinamis dan penuh energi.
Di tengah gemuruh yang datang dari berbagai sudut itulah, sebuah mitos lahir. Momen yang kelak oleh Maradona sendiri disebut sebagai La Mano de Dios, Tangan Tuhan.
Bola melayang, melengkung turun oleh tarikan gravitasi di area penalti Inggris. Diego Maradona melompat, berduel udara dengan kiper kawakan Peter Shilton. Di atas kertas, dengan tinggi badan yang hanya berkisar 165 sentimeter, pesepak bola gempal Argentina itu mestinya kalah telak oleh jangkauan dan lompatan sang penjaga gawang Inggris. Namun ternyata sejarah ditulis oleh kecerdikan yang nekat.
Keputusan wasit Ali Bin Nasser asal Tunisia untuk mengesahkan gol kontroversial tersebut langsung menjadi salah satu keputusan paling diperdebatkan dalam sejarah peradaban sepak bola.
Posisi badan Maradona yang cerdik berhasil menghalangi pandangan sang pengadil dan hakim garis, meninggalkan skuad Inggris yang marah dan mengubah wajah sepak bola dunia selamanya.
Di tengah kekacauan yang tak terkendali setelah dahan pohon jambu itu patah, saya berhasil menyusup kembali ke dalam kerumunan. Kali ini nasib baik berpihak pada saya. Saya mendapatkan posisi tepat beberapa meter di depan layar televisi, tanpa ada satu kepala pun yang menghalangi pandangan.
Melalui tayangan ulang yang bersemut, mata saya terpaku menyaksikan gerak lambat (slow motion) tangan Maradona yang mengepal di atas kepalanya. Di depan layar hitam-putih itulah, pandangan saya terhadap Diego Maradona dan sepak bola Argentina terkunci sampai hari ini.
Bertahun-tahun kemudian, dalam berbagai kesempatan, Maradona melontarkan kalimatnya yang paling terkenal. Bahwa gol itu tercipta, sedikit oleh kepala Maradona, dan sedikit oleh tangan Tuhan. Sejak malam di bulan Juni empat puluh tahun lalu itu, istilah “Gol Tangan Tuhan” resmi menjadi mitologi yang tak lekang oleh waktu.
Namun, keajaiban malam itu tidak berhenti di sana. Hanya empat menit setelah gol kontroversial tersebut, sebuah mahakarya lahir. Menit ke-55, Maradona menggiring bola sendirian sejauh 60 meter.
Meliuk melewati kepungan pemain Inggris dalam waktu kurang dari 11 detik. Gol itu kelak dinobatkan sebagai “Gol Abad Ini” (Goal of the Century). Sebuah hantaman telak yang memaksa Inggris mengepak koper mereka malam itu juga.
Tapi, di halaman kios di Desa Kospakarya itu, orang-orang hampir tidak membicarakan kejeniusan gol kedua tersebut. Perhatian semua orang telanjur tersita oleh kecerdikan terlarang di gol pertama. Sentuhan tangan yang menjadi bahan perdebatan.
Setelah peluit panjang berbunyi dan memastikan kemenangan Argentina, kami membubarkan diri dengan teratur, berjalan kaki kembali menuju Desa Simpangan. Tidak ada jam tangan, tidak pula terdengar dengung suara tahrim dari kubah masjid penanda subuh telah tiba. Keheningan fajar itu hanya ditemani oleh bentangan hijau sawah dan gemericik air bendungan di kanan-kiri jalur yang kami lalui.
Sepanjang jalan pulang, kami semua tertawa senang. Ada rasa syukur yang mendalam atas kebaikan hati saudara-saudara kami, warga transmigran Bali di Kospakarya, yang telah membuka pintu rumah mereka lebar-lebar demi membiarkan kami menyaksikan lahirnya salah satu legenda terbesar di lapangan hijau.
Hari ini, empat puluh tahun kemudian, Piala Dunia edisi ke-23 sedang berlangsung di tiga negara. Meksiko, Amerika Serikat dan Kanada. Di atas lapangan modern saat ini, Lionel Andress Messi mungkin baru saja menghipnotis dunia dengan hattrick memukau di laga perdana, disusul sepasang gol ke gawang lawan di pertandingan berikutnya.
Namun, semua sihir modern itu tetap tidak mampu mengecilkan jejak masa lalu. Maradona tetap terlalu megah untuk sekadar dibandingkan dengan Messi. Hari-hari ini, setiap kali selesai menyaksikan pertandingan Piala Dunia di layar kaca, ingatan saya selalu melompat kembali ke malam di tahun 1986 itu.
Di hadapan teman-teman sepantaran yang merupakan pendukung setia tim nasional Inggris, saya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk kembali mengungkit gol-gol ikonik Maradona. ‘’Kalau zaman itu sudah VAR, gol itu pasti tidak sah,’’ sergah Ibrah, fans fanatik The Tree Lions di Paskop Bumi Nyiur sore tadi.
Peristwa bersejarah seperti ingatan untuk sebuah pembalasan telak yang melintasi ruang dan waktu. Jawaban sepadan dari kami di pedalaman di Desa Simpangan di Banggai saat itu, atas keangkuhan Margaret Thatcher dalam Perang Malvinas. ***
Penulis: yardin hasan
Penyunting: amanda
Bagikan ini:
- Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak




