Catatan Diskusi May Day Komunitas Semesta, Sofianti Bantara Meracik MBG dari Kocek Sendiri

DISKUSI - kika, Sofi Bantara, moderator dan Vivi Widyawati saat diskusi tentang May Day di Palu belum lama ini

MEMPERINGATI May Day 2026, Solidaritas Perempuan Muda untuk Kedaulatan Tubuh dan Keadilan Ekologi (Semesta) menggelar diskusi bertajuk “Mengapa May Day Adalah Urusan Kita” di Tobaco Café, Palu, baru-baru ini.

Forum yang didedikasikan untuk Hari Buruh Sedunia tersebut menghadirkan dua pembicara: Vivi Widyawati dari Perempuan Mahardika dan Sofianti Bantara. Nama terakhir merupakan seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI) sekaligus pegiat literasi yang aktif di Kota Palu.

Dalam sesi tersebut, Sofi membagikan kisah emosional tentang keputusannya meninggalkan zona nyaman. Selama satu dekade, ia mengabdi di sebuah PAUD bonafide tempat para pejabat di Sulawesi Tengah menitipkan anak-anak mereka. Namun, setelah 13 tahun mengakrabinya, Sofi memilih langkah drastic. Meninggalkan segala kemapanan itu demi sebuah sekolah dengan fasilitas seadanya di sudut terjauh punggung gunung. Di Pinembani – Sigi.

Kini, demi menyapa dan mendidik anak-anak di Pinembani, ia harus memaksa kendaraan roda duanya meraung meniti jalan terjal yang baru saja dibeton rabat. Meski hanya dibayar Rp200 ribu sebulan, Sofi tetap bertahan.

“Disiplin ilmu saya di sini. Tentang parenting, saya juga sangat mencintai anak-anak. Terlebih lagi, saya terlalu mencintai Sigi,” ungkapnya sembari tersenyum, merespons pemantik dari moderator.

Makanan Bergizi dari Kocek Sendiri

Riuh rendah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melanda tanah air akhirnya sampai juga ke telinga anak-anak di pelosok Pinembani. Sofi menceritakan, saat berkunjung ke Kota Palu, murid-muridnya sempat melihat mobil logistik MBG menurunkan muatan makanan di salah satu sekolah. Pemandangan itu memicu naluri polos mereka untuk bertanya.

“Bu, kami mau juga makanan seperti itu,” ujar Sofi, menirukan permintaan spontan anak-anak didiknya.

Mendengar permintaan tersebut, Sofi seketika memberikan jaminan. Ia berjanji bahwa anak-anaknya di gunung akan menikmati makanan yang tidak hanya gratis, tetapi juga jauh lebih bergizi. Bahkan, ia optimis kualitas asupan yang ia siapkan akan lebih baik daripada program pemerintah yang belakangan memicu kontroversi akibat kasus keracunan massal di sejumlah daerah.

Belasan peserta diskusi menyimak testimoni perempuan muda itu dengan khidmat. Suara Sofi yang memantul dari pengeras suara mungil seolah menjadi penyambung lidah bagi anak-anak Pinembani. Suara-suara yang selama ini hanya melengking sunyi di ketinggian 1.300 mdpl.

Sofi membuktikan janjinya. Anak-anak didik di punggung gunung itu akhirnya bisa menikmati makanan bergizi secara cuma-cuma. Hebatnya, tak ada bayang-bayang kekhawatiran di benak orang tua akan risiko keracunan, seperti yang menghantui proyek MBG pemerintah, sebuah program yang ironisnya tampak lebih efektif membuat para vendor kaya mendadak ketimbang menjamin keamanan konsumsi pesertanya.

Tak Diakui sebagai Pekerja Formal

Di balik dedikasinya di pelosok, Sofi memendam kegelisahan menahun yang ia perjuangkan bersama rekan sejawatnya, namun hingga kini belum juga diamini oleh pemerintah. Ada kegelisahan di sana. Keberadaan pengajar PAUD belum diakui secara penuh, baik dalam UU Ketenagakerjaan maupun UU Guru dan Dosen.

Kesenjangan ini terasa nyata jika dibandingkan dengan guru TK yang telah diakui negara sebagai tenaga kependidikan formal. Sebaliknya, pengajar PAUD seperti Sofi dipaksa menelan pil pahit dengan dikelompokkan sebagai pekerja informal. Ketidakadilan status ini membuat hak-hak profesi mereka sering kali terabaikan oleh sistem.

Dikotomi yang timpang ini terus ia suarakan melalui konsolidasi dengan sesama pengajar. Mereka tak henti mengetuk niat baik pemerintah agar profesi mulia ini mendapatkan legalitas hukum yang setara. Perjuangan tersebut bahkan telah merambah hingga ke tingkat nasional.

“Kami sudah mendatangi Kementerian hingga DPR RI. Sempat ada janji manis, namun belakangan usulan kami justru tidak masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas),” ungkapnya getir.

 Vivi: Perjuangan Buruh Perempuan Belum Usai

Pembicara berikutnya, Vivi Widyawati dari Perempuan Mahardika, mencoba membesarkan hati Sofi. Di hadapan audiens, ia menekankan bahwa di tengah sikap negara yang sering kali abai, perjuangan kaum buruh memang seolah ditakdirkan meniti jalan yang terjal dan berliku. Namun, baginya, menyerah bukanlah pilihan.

Vivi lantas menyodorkan sebuah bukti kemenangan kolektif. Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT). Setelah penantian panjang selama 22 tahun, regulasi ini akhirnya resmi disahkan pada April 2026.

Pengesahan ini ia sebut sebagai tonggak sejarah baru yang memberikan kepastian hukum, hak, serta perlindungan bagi jutaan Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Indonesia. UU ini menjamin setidaknya 14 hak dasar, mulai dari jaminan sosial melalui BPJS, upah yang layak, hingga perlindungan dari segala bentuk eksploitasi.

“Sabar, Mbak Sofi,” pungkasnya singkat, memberikan semangat agar perjuangan guru PAUD pun bisa membuahkan hasil serupa.

Vivi menyebut, mengapa May Day adalah urusan kita? Menurut dia, banyak yang mengira May Day hanyalah soal turun ke jalan atau sekadar angka upah minimum. Namun bagi kita, perempuan pekerja, May Day adalah urusan personal.

Ini adalah tentang hak kita untuk pulang ke rumah dengan aman tanpa takut dilecehkan, hak untuk tidak kehilangan pekerjaan saat harus mengandung dan hak untuk diakui bahwa kerja-kerja domestik serta pengasuhan yang selama ini dianggap ‘gratis’ adalah fondasi ekonomi yang nyata.

May Day adalah momentum untuk mengingatkan bahwa kedaulatan tubuh dan keadilan ekonomi tidak bisa dipisahkan. Jika perempuan belum berdaulat atas dirinya sendiri, maka perjuangan buruh belumlah selesai.

Ketua Perempuan Mahardika Sulawesi Tengah, Stevi Papuling mengatakan, di Sulawesi Tengah, wajah perjuangan buruh perempuan adalah potret ketangguhan yang sering kali terabaikan oleh kebijakan formal. Dari hamparan perkebunan sawit di Morowali dan Pasangkayu hingga ruang-ruang kelas PAUD di pelosok Pinembani, perempuan adalah tulang punggung ekonomi yang masih terjepit dalam kerentanan status kerja.

‘’Bagi kami, isu buruh perempuan di Sulteng adalah tentang pengakuan hakiki. Masih banyak kawan-kawan kami yang bekerja di sektor informal tanpa kepastian hukum. Terpapar risiko kesehatan di sektor pertambangan, hingga menghadapi beban ganda yang menguras energy,’’ katanya.

Pihaknya menuntut ruang kerja yang aman dari kekerasan seksual dan kebijakan yang melindungi hak reproduksi tanpa ancaman pemutusan hubungan kerja. Hadirnya Ibu Sofi Bantara dan Mbak Vivi Widyawati menurut Stevi menegaskan bahwa May Day merupakan panggung kedaulatan perempuan.

Kehadiran Ibu Sofi untuk membuktikan bahwa setiap pekerjaan baik di ruang kelas maupun rumah tangga adalah martabat pekerja. ”Kami menuntut pengakuan negara atas status dan perlindungan hukum yang setara bagi seluruh perempuan,” tutup Stevi. ***

Penulis: Yardin Hasan
Penyunting: Amanda

 

Tinggalkan Balasan