Habis ini kong apa…?
Pertanyaan sederhana itu diajukan oleh seorang ibu pengungsi di Desa Sepe, Kecamatan Tagolu, Poso. Pertanyaan itu terus menghantuinya. Menimbulkan kegelisahan yang menyayat ulu hati laksana belati baru diasah. Hingga akhirnya memutuskan meninggalkan pekerjaandi Jogja demi menuntaskan pertanyaan seorang ibu di pengungsian.
Sekira dua dekade lalu, Lian muncul di tengah padatnya pengungsian Desa Sepe. Dengan ambisi besar, ia mewawancarai siapa saja. Perempuan, laki-laki, hingga para tokoh masyarakat dan adat. Ia merasa jemawa. Yakin bahwa data otentik ini sepertinya akan menjadikannya peneliti pertama yang menguak konflik Poso ke mata dunia.
Melambungkan namanya, sekaligus memuluskan jalan menuju kemudahan-kemudahan lainnya. Namun, pertanyaan Ibu di pengungsian membuat meninggalkan lubang besar di hatinya. Kebanggaannya runtuh seketika. Pertanyaan sederhana namun penuh selidik itu seketika mengubah sudut pandangnya menjadi perulatan batin yang panjang tentang arti sebuah kehadiran.
Lian melanjutkan pertanyaan itu terus menghantuinya. Ia menyadari betapa banyak orang, termasuk dirinya, meraih gelar akademik lewat penelitian di kamp-kamp pengungsian. Buku-buku diterbitkan dan meraih nilai komersial, namun warga yang menjadi subjeknya seolah terlupakan. “Bagi saya, ini bukan sekadar tidak elok, tapi sangat tidak adil,” ucapnya di depan kami malam itu. Pertanyaan sang ibu pulalah yang memulangkannya ke Poso. Ia balik pulang kampung memilih menanggalkan pekerjaannya di Jogja.
Kilas balik yang reflektif kontemplatif itu disampaikan Lian Gogali di teras Nemu Buku, Jumat malam 1 Mei 2026, saat peluncuran memoar miliknya, bertitel ‘’Yang Datang Setelah Jawaban,’’. Melalui buku ini, kita menelusuri jejak panjang Lian termasuk pilihan melabuhkan pengabdiannya di Institut Mosintuwu, Tentena. Dalam proses yang penuh kelok itu, ia mengakui betapa banyak tanda tanya muncul, menuntutnya untuk terus mencari cara-cara baru dalam merespons realitas di Poso.
Malam sebelumnya, Lian Gogali sukses meluncurkan buku tersebut di Ke:Kini Ruang Bersama, Cikini, Jakarta. Hadir dalam acara itu Seno Gumira Ajidarma, Penulis dan ilmuwan sastra sekaligus Ketua Akademi Jakarta yang menulis kata pengantar buku ini. Rekan sesama aktivis dari Palu, Rahmadiyah Tria Gayathri, juga terlihat hadir.
Antusiasme pembaca begitu besar hingga stok buku ludes terjual, menyisakan antrean untuk cetakan berikutnya pada pertengahan Mei. Alhasil, para peminat di Palu pun harus bersabar. ”Buku ini baru tersedia di display penjualan Nemu Buku pertengahan Mei ini,” ucap Neni Muhidin, sang provokator hajatan malam itu.
Sederhana dan Akrab
Buku ini diluncurkan melalui sebuah syukuran sederhana di Nemu Buku. Puluhan orang hadir menyaksikan momen istimewa ini bersama Nemu Publishing sebagai pihak yang membidaninya. Pilihan sajian kuliner tradisional malam itu, dui alias papeda menegaskan bagian krusial dari visi seorang Lian. Sebuah ajakan untuk kembali ke akar di tengah derasnya arus pangan instan dan produk beku hari ini.

Sebelum menjelaskan Lian bukunya, Rini, Jana dan Nisa tampil membacakan kisah penggalan dalam buku bertebal 478 halaman itu. Diantar oleh lembut piano yang memantul dari pelantang mungil, ketiganya membacakan kisah tentang ibu satu anak ini, yang dinukil dari cerita awal hingga halaman epilog. Pada sesi ini, suasana Jalan Turuka 17 Palu, home base Nemu Publishing hening.
Puluhan pasang mata tertuju pada ketiga pembaca yang membawakan narasi dengan begitu hangat, hingga terasa menghunjam ulu hati. Keheningan begitu terjaga. Tak ada suara yang terdengar selain denting belanga yang beradu saat Lian Gogali sibuk meracik dui. Sesekali, kesunyian itu hanya terusik oleh suara knalpot menjengkelkan dari kendaraan yang melintas di jalanan ramai itu. ‘’Bagus Kak Neni bikin acara. Deep banget,’’ celetuk Eka, pengunjung malam itu, mewakili perasaan banyak orang yang hadir. Suasana makin hidup saat Icong, punggawa Guritan Kabudul, musisi asal Tentena membawakan deretan lagu hitsnya, Merayu, Bahagialah hingga Peluk Aku Ibu. Meski meriah, keakraban tetap terasa kental di setiap nada.
Sementara itu, aroma kopi dari Rumah Tiara membuat atmosfer peluncuran buku di beranda Nemu Buku kian bergairah. Kerumunan orang seolah tak ingin cepat-cepat pulang. Mereka masih asyik menyesap Robusta dan Arabika, membiarkan percakapan terus mengalir hingga malam jauh. ***
Penulis: amanda
Bagikan ini:
- Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak




