Jelajah Danau Poso dalam Rekaman Lensa

SELAMA 22–24 Oktober 2026, Institut Mosintuwu bersama Sulawesi Keepers menyelenggarakan Jelajah Danau Poso, sebuah perjalanan belajar yang mempertemukan guru-guru di Kabupaten Poso dengan kekayaan alam dan budaya di sekitar danau. Didukung relawan mahasiswa Perikanan Universitas Tadulako, kegiatan ini menelusuri berbagai sisi Danau Poso, mulai dari bentang geologi dan jejak arkeologi, keberadaan biota endemik, hingga legenda dan pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Setiap lokasi menyimpan cerita dan pengetahuan yang saling terhubung. Bentuk bentang alam merekam proses geologi yang berlangsung dalam waktu panjang. Situs-situs arkeologi menyimpan jejak kehidupan masa lalu. Biota endemik memperlihatkan kekhasan ekosistem danau yang perlu dipahami dan dijaga. Sementara itu, cerita rakyat dan tradisi masyarakat Pamona menghadirkan cara pandang leluhur dalam memaknai alam serta hubungan manusia dengan lingkungannya.

Jelajah ini untuk  menghimpun pengetahuan yang dapat dibawa kembali ke ruang kelas. Pengalaman lapangan diharapkan menjadi bahan bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran muatan lokal (mulok), dengan mengintegrasikan geologi, arkeologi, keanekaragaman hayati, dan cerita rakyat ke dalam proses belajar di sekolah.

Melalui perjalanan ini, Danau Poso dipandang sebagai bentang alam dan ruang belajar yang menyimpan pengetahuan, ingatan dan nilai-nilai kehidupan. Pengetahuan itu penting diwariskan kepada generasi muda agar mereka semakin mengenal, menghargai dan ikut menjaga kekayaan alam serta budaya daerahnya.

Takarir: yardin h
Foto-foto: amar sakti/institut mosintuwu

 

Dr. Herry Yogaswara, M.A. peneliti ahli utama di bidang antropologi di BRIN, menikmati pemandangan Pada Marari
peserta jelajah melakukan mulai melakukan snorkeling
peserta mencoba naik di atas Watu Pangasa Angga
Marketa dari Sulaweso Keepers saat berada di Watu Pangasa Angga       

 

Ibu Helmi Kalengke membacakan legenda suku Pamona di Gereja Bethel
Reza Permadi menjelaskan jenis batuan di Gua Latea 
Heri Yogaswara menjelaskan tentang posisi cerita rakyat (WBTB) dalam perspektif negara 
Lian Gogali (kanan) peserta jelajah (tengah) dan Marketa (kiri) bersama Eki – sebagai mata jalan sedang santai usai menuntaskan misi penjelajahan 

 

peserta harus tekun mencatat apa saja, cerita rakyat, peristiwa geologi hingga biota danau  
lagi lagi tentang Reza Permadi. setiap ucapannya selalu berharga – harus diabadikan dalam catatan peserta  

 

Dikawal aparat, Babinsa dan Babinkamtibmas mengawal peserta jelajah di Tando Bancea – Desa Bancea  

Menikmati kuliner khas Desa Bancea 

Hasil pengikisan air dalam waktu yang sangat lama, membuat bebatuan di sekitar Watu Yano, Dulumai menyerupai hewan   

 

Wuriri alias siput kaya nutrisi menjadi sajian yang melengkapi makan siang peserta di Desa Dulumai
Di situs Watu Yano sambil mendengarkan cerita rakyat tentang batu mengapung ini yang dibawakan Lian Gogali, serta penjelasan geologi dari Reza Permadi

 

Watu Yano selain legendanya, spons hijau tampak tumbuh di sekitar batu ini menandakan air yang belum tercemar
peserta membuat kesimpulan atas hasil perjalanan selama tiga hari bertempat di Banua Molimbu Desa Dulumai      
Menjelang sore, warga berbondong-bondong membawa kuliner khas dari rumah masing-masing untuk persiapan molimbu ( makan bersama)   
Seorang ibu sedang memastikan setiap orang mendapatkan bingkisan makanan yang diletakkan di depannya.   
Di acara molimbu, tugas menata makanan juga menjadi tanggungjawab pria   

 

Sebelum memulai makan, tarian Tendo Bomba dibawakan oleh perempuan dan pria dewasa, tarian ini adalah bagian dari memuliakan tamu  
Dengan harmonisasi suara yang padu serta koreografi yang terukur, tarian ini melengkapi jelajah hari terakhir yang finish di Desa Dulumai  
Molimbu bersama warga desa berlangsung dalam suasana yang guyub  
Peserta jelajah tiba di Dermaga Dodoha sekaligus melengkapi perjalanan tiga hari menyusuri danau dalam ekspedisi Jelajah Danau Poso 2026

Tinggalkan Balasan