Basri Marzuki, Menulis Geliat Ekonomi dan Lensa Perekam Ritme Manusia

KEJAR DEADLINE - Pak Basri sedang mengirim foto usai liputan Festival Tampo Lore IV, Juni 2025 lalu. (f-lia)

SAYA mengenalnya sekitar medio 2001, saat ia bernaung di Harian Mercusuar (JPNN) jauh sebelum berubah nama menjadi Radar Sulteng (JPNN). Pertemuan awal kami bermula di sebuah kamar kos di Jalan Lasoso, Palu Barat. Sebagai sesama jurnalis, obrolan kami pada  pagi hari 25 tahun lalu itu tak jauh dari  dunia liputan.

Saat itu, Pak BMZ – akronim dari Basri Marzuki  memegang desk ekonomi, setelah sebelumnya sempat mencicipi dinamika di Bagian Pemasaran. Cukup lama Basri Marzuki mengawal desk ini, hingga namanya begitu identik dengan denyut bisnis lokal.

Di Harian Mercusuar, ia mengelola satu halaman full yang harus berbagi space dengan mitra komersil. Separuh ruang untuk iklan dan separuhnya lagi untuk tulisannya. Bahasanya  gurih. Angka statistik siaran pers dari lembaga keuangan perbankan menjadi mudah dipahami. Tak heran,  halaman yang diasuhnya menjadi magnet. Pelaku usaha lokal berebut agar profil bisnis mereka bisa mejeng di sana. Baik dalam bentuk iklan advetorial (soft selling) pun iklan display.

Liputannya sangat luas. Mulai dari dinamika organisasi bisnis mapan sekelas KADIN, Gapensi, Aspekindo, hingga Inkindo dan berbagai asosiasi kontraktor yang terus beranak-pinak, semua terekam rapi dalam catatannya.

Seingat saya, ia juga memotret masa kejayaan UKM di sepanjang Pantai  Talise sebelum mereka akhirnya direlokasi ke Kelurahan Layana Indah. Ketika gelombang penolakan relokasi mencuat dan dimotori oleh berbagai organisasi sipil, Basri tetap setia mengawal isu tersebut lewat pemberitaannya.

Tak sampai di situ, nadi perekonomian kota di dua pasar terbesar, Pasar Inpres Manonda dan Masomba, tak pernah luput dari amatannya. Termasuk ketika kedua pusat kegiatan UMKM itu didera polemik kepemilikan.

Bahkan jauh sebelumnya, ketika bisnis aviasi domestik masih dirajai oleh maskapai legendaris seperti Bouraq, Sempati dan Merpati,  Pak Basri pun tetap ada di sana. Tulisannya ikut mengantar maskapai yang telah mati itu mengangkasa di langit Indonesia.

Saya ingat betul laporannya tentang bisnis binatu yang mendadak menjamur di Kota Palu. Kemunculannya, bak cendawan  (sayang kota kita jarang hujan). Tulisan itu begitu detail hingga menjadi rujukan oleh dinas pemungut retribusi, padahal saat itu dasar hukum untuk menarik retribusi memang belum ada.

Patut dicatat pula, Pak Basri adalah salah satu jurnalis yang berhasil merekam transformasi lanskap industri telekomunikasi di Kota Palu, bahkan Sulawesi Tengah. Laporannya setia mengikuti kronologi zaman.

Mulai dari era ketika telekomunikasi masih berada di bawah kontrol penuh PT Telkom lewat telepon kabel, telepon umum koin, telepon kartu (Telepin) hingga warung telekomunikasi (wartel). Kemudian  pager oleh Motorola yang  bermarkas di Jalan Setia Budi, Palu Timur,  hingga kemunculan ponsel CDMA. Ia juga detail mengabadikan era keemasan Nokia berbasis Symbian serta masa jaya BlackBerry.

Namun, begitu fajar smartphone Android dan iOS  merebak, Pak Basri tidak banyak lagi menulis tentang isu tersebut. Sesekali ia masih menuliskannya di halaman ekonomi Harian Radar Sulteng.  Beberapa tahun sebelumnya konsentrasinya  ke dunia fotografi. Sebuah profesi sekaligus gairah yang terus didekap erat hingga menghembuskan napas terakhir malam tadi di IGD Anutapura Palu.

Hingga akhir hayatnya, Pak Basri tercatat aktif sebagai Jurnalis Foto di LKBN Antara Biro Sulawesi Tengah. Di samping dedikasi formalnya itu, ia juga terus merawat idealismenya dengan mengasuh sebuah media independen, beritapalu.com.

Seperti halnya dalam untaian tulisan, totalitas Pak Basri juga terpancar sepenuhnya di dunia fotografi, khususnya foto jurnalistik. Dedikasinya di bidang ini bahkan mendapat apresiasi luas, hingga karya-karyanya kerap menghiasi halaman depan media-media terkemuka dunia.

Saya ingat suatu ketika, saat kami belum bernaung di bawah atap media yang sama. Pak Basri menjadi satu-satunya jurnalis foto yang berhasil mengabadikan jenazah turis asal Italia yang menjadi korban penembakan. Foto itu terasa sangat ”hidup” sekaligus sentimentil.

Jawa Pos, induk dari Radar Sulteng memajang foto tersebut dengan sangat mencolok di halaman utama berukuran empat kolom. Foto itu menangkap momen dari arah belakang, memperlihatkan sang istri yang sedang mencium jasad suaminya di dalam peti mati. Sebuah visual yang membawa pesan duka yang amat dalam.

Sebagai fotografer jaringan Jawa Pos Group, secara aturan korporat Pak Basri wajib menyerahkan foto itu secara eksklusif hanya untuk grup medianya sendiri. Namun, aturan baku itu ia dobrak. Di saat yang bersamaan, foto peristiwa tersebut dengan sudut pandang (angle) berbeda justru muncul di berbagai surat kabar besar di Eropa, Amerika, dan Australia. Manajemen Jawa Pos pun meradang. Protes keras karena hak eksklusivitas mereka “bocor” ke media luar.

Beberapa tahun kemudian, dalam sebuah perjalanan liputan ke luar kota, saya sempat menanyakan keputusannya yang berani mengabaikan teguran manajemen tersebut. Bagi Pak Basri, logika bisnis media tidak bisa dicampuradukkan dengan kedukaan.

Beliau menegaskan bahwa ini adalah isu kemanusiaan global yang harus disebarluaskan ke seluruh dunia, sehingga tidak boleh dimonopoli atau disekap hanya demi alasan eksklusivitas pasar.

Jawaban itu seketika menyadarkan saya. Beliau tahu betul bahwa secara aturan kerja tindakannya dianggap keliru. Namun bagi seorang Basri Marzuki, boundaries atau batas-batas kontraktual  perusahaan harus dilewati jika nurani kemanusiaan memanggil  untuk bersuara. Prinsip teguhnya itu kerap saya ingat setiap kali menyaksikannya berdiri memberikan materi fotografi.

Pandangan saya ini mungkin subjektif. Tidak sepenuhnya tepat. Namun, jika diamati secara mendalam, sebagian besar bingkai (frame) yang dihasilkannya selalu berpusat pada pergerakan manusia. Genre yang menjadi atensi almarhum ini piawai menangkap interaksi, derap  langkah kaki, gestur, hingga ritme hidup manusia di berbagai sudut ruang. Pendekatan ini terasa sangat kontras dengan fotografi lanskap yang cenderung sunyi dan statis.

Pak Basri menjadikan dinamika pergerakan manusia sebagai kunci utama untuk menyampaikan cerita, letupan emosi, atau potret kondisi sosial-ekonomi tertentu. Fokus utamanya adalah sisi kemanusiaan (human interest), di mana denyut aktivitas dan peluh pekerjaan sehari-hari manusia menjadi motor penggerak visual yang menghidupkan seluruh karya fotonya.

Perhatikan saja foto-fotonya, terutama dokumentasi pasca-tragedi September 2018 di Palu yang sarat akan pesan kemanusiaan. Ironisnya, mahakarya yang merekam sejarah kelam kota kita itu hilang digondol maling. Kehilangan aset sejarah yang tak ternilai tersebut agaknya menjadi beban pikiran yang terus membuatnya gelisah, hingga maut menjemputnya.

Di suatu waktu, kami juga pernah berbagi forum di salah satu instansi di Kabupaten Parigi Moutong. Saat itu, beliau hadir untuk membawakan materi fotografi. Menariknya, selama hampir dua jam berbicara, Pak Basri tidak banyak mengulas soal teori kaku atau utak-atik teknik kamera. Baginya, urusan teknis seperti itu sangat mudah dipelajari secara otodidak lewat berbagai platform yang hari ini bertebaran. Bagi seorang Basri Marzuki, ada hal yang jauh lebih fundamental. Etika.

Beliau sempat menyebutkan deretan istilah teknis yang kala itu asing di telinga saya. Exposure triangle, aperture, shutter speed, ISO, komposisi, focusing, hingga lighting. Ia tidak menampik bahwa kompetensi teknis tersebut memang wajib dikuasai oleh seorang fotografer. Namun, semua itu bukan segalanya. Di atas semua teori visual tersebut, etikalah yang menjadi panglima tertinggi.

“Sehebat apa pun fotomu, kalau mengabaikan etika, resultantenya tetap nol!” ucapnya telak. Pernyataan menohok tersebut merupakan bentuk keprihatinan mendalam terhadap dunia foto jurnalistik hari-hari ini, yang  kian barbar, menerabas batas privasi dan makin miskin etika.

Keteguhannya pada etika visual ini ia pegang teguh saat dipercaya menjadi salah satu fotografer resmi dalam liputan Asian Games Jakarta-Palembang 2018 silam. Kala itu, Pak Basri memilih untuk tidak mengeksploitasi foto atlet senam perempuan asal Malaysia atas permintaan langsung dari atlet yang bersangkutan, mengingat dalam kehidupan sehari-harinya sang atlet mengenakan jilbab. Bagi Pak Basri, menghormati martabat manusia jauh lebih bernilai ketimbang memburu sudut pandang (angle) kamera yang sensasional.

Menjadi Ahli Dewan Pers

Pengalaman organisasinya juga panjang dan penuh liku. Ia memulainya dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu, duduk sebagai Dewan Etik. Cukup lama ia mengawal etik di  AJI Palu, sebelum hijrah di Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Palu, dimana beliau sendiri sebagai pendirinya. Kini, ia masih duduk di Dewan Etik PFI Kota Palu.

Seolah makin mengukuhkan prinsip hidupnya, beberapa tahun lalu ia mengemban amanah sebagai  Ahli Dewan Pers di Sulawesi Tengah. Tugasnya  krusial. Menjadi perpanjangan tangan intelektual dan hukum Dewan Pers pusat dalam menyelesaikan berbagai sengketa jurnalistik di daerah.

Menengok dedikasinya yang begitu panjang di profesi ini, pilihan untuk menutup lembar pengabdian jurnalistiknya sebagai Ahli Dewan Pers jelas bukan pilihan kebetulan. Ini adalah muara dari panggilan idealismenya. Sebuah ikhtiar terakhir untuk memperbaiki wajah bopeng jurnalisme kita yang kian buram. Entah karena  pragmatisme maupun hilangnya kompas etika di tengah pusaran transformasi digital.

Innalilahi wainailahi rojiuun
Selamat Jalan Pak Basri……!!!. ***

Penulis: yardin

Tinggalkan Balasan