Menjemput Marwah Tanah dalam Ayat-Ayat Kauniyah, Catatan Pengukuhan Prof. Uswah Hasanah

kreasi ai

MENYIMAK sepotong orasi ilmiah Kak Uswah yang beredar di sosial media, banyak orang terkesima. Orasi itu meninggalkan gema yang panjang di benak pendengarnya. Di grup WA, diskusi tentang orasi ini seakan menjadi saling berbagi refleksi tentang betapa sains dan agama sebenarnya adalah dua sayap dari satu burung yang sama, yang jika dikepakkan bersamaan, mampu membawa peradaban pada kemuliaan yang hakiki.

Akhir pekan lalu, di sela-sela Halalbihalal Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia, saya menemui dan menyapanya setelah terlebih dahulu mengirim pesan WhatsApp. Lama tak bersua, tak banyak yang berubah darinya. Intonasinya tetap terjaga dan aura keilmuannya mengalir deras dari setiap tutur katanya.

Saya meminta salinan orasi ilmiahnya, namun awalnya ia sempat mengelak. Begitu saya menggunakan ‘jurus’ junior kepada senior, barulah  bersedia. ‘’Nanti tiba di rumah saya kirim,’’ sahutnya sembari mengakhiri perbincangan kami malam itu.  Minggu siang, notifikasi WA saya berbunyi. Kak Uswah akhirnnya mengirim  naskah dalam format PDF. ”Tabe dek, ini orasinya – syukron” tulisnya.

 Menjadi Pengingat di Tengah Krisis Lingkungan

Di bawah langit Palu yang terik dan garang  sebuah narasi besar tentang hubungan antara pencipta, manusia, dan tanah baru saja dibacakan. Prof. Ir. Uswah Hasanah, M.Agr.Sc., Ph.D, kami menyapanya Kak Uswah, berdiri di podium di depan para sekondannya memulai orasi ilmiahnya dengan dua ayat yang dahsyat. Suaranya lantang membentur tembok-tembok kaku Gedung Auditorium Universitas Tadulako.

Di sana, Prof Uswah berdiri di atas podium terhormat tidak saja menerima gelar akademik tertinggi sebagai Guru Besar Bidang Fisika Kesuburan Tanah, tetapi sekaligus untuk membuktikan sebuah janji lama. Bahwa antara sains dan Al-Qur’an, tidak pernah ada pertentangan.

Orasi ilmiahnya yang bertajuk “Fisika Tanah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Ilmu Tanah Modern” seolah menjadi muara dari perjalanan panjang hidupnya. Bagi mereka yang mengenal sosoknya, keteguhan ilmiah ini bukanlah hal yang mengejutkan. Prof. Uswah adalah seorang aktivis Islam sejak masa mudanya, yang tumbuh besar dalam dekapan orang tua yang sangat taat.

Nilai-nilai ketauhidan itulah yang membawanya pada titik ini,  bahkan sejak jenjang tesis, ia telah mendedikasikan pemikirannya untuk membedah bagaimana semesta bekerja dalam harmoni wahyu.

Ia membawa hadirin, para guru besar yang menghadiri momen pengukuhan ini, menembus lorong waktu 14 abad silam melalui Surah Al-Baqarah ayat 265 dan Surah Al-A’raf ayat 58. Ia membedah metafora “kebun di dataran tinggi” bukan sekadar sebagai pemanis rima, melainkan sebuah manifestasi teknis tentang dinamika air dan stabilitas agregat tanah. Dalam perspektifnya, tanah bukanlah benda mati yang bisu. melainkan sistem pori yang dinamis, sebuah arsitektur ruang tempat udara dan air berinteraksi dalam harmoni untuk menopang kehidupan.

Orasi ini menjadi pengingat yang tajam di tengah krisis lingkungan yang kian nyata. Prof. Uswah memperkenalkan konsep “Marwah Tanah”, sebuah upaya untuk kembali memuliakan pedosfer yang kini kian rapuh akibat tangan manusia.

Baginya, degradasi lahan, pemadatan tanah dan hilangnya bahan organik adalah luka pada ekosistem yang harus disembuhkan melalui rekayasa berbasis bahan organik dan teknologi spasial yang tetap berpijak pada prinsip Sustainable Soil Management.

Namun, di balik angka-angka riset dan data sensor, esensi dari orasi ini adalah tentang keberpihakan pada keseimbangan atau mizan. Prof. Uswah mengajak dunia akademik untuk tidak melampaui batas dalam mengelola bumi. Menurut dia, setiap lapisan tanah yang ia teliti adalah lembaran “ayat-ayat kauniyah” yang tertulis di hamparan pedosfer atau lapisan paling atas  permukaan bumi, menunggu untuk dibaca dan dijaga keberlangsungannya.

Ia menyebut, pengukuhan ini tidak berakhir saat palu senat diketuk. Gema yang tertinggal di ruangan itu  membawa kesadaran baru. Bahwa gelar Guru Besar bukanlah puncak pendakian, melainkan amanah dakwah untuk terus menyuarakan kebenaran ilmu pengetahuan yang bersumber dari sumber yang sama dengan iman. Di tangan Prof. Uswah, tanah tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas, melainkan sebagai titipan yang harus dijaga marwahnya demi masa depan. ***

Penulis: yardin hasan

Tinggalkan Balasan