DISKUSI JURNALISME - Suasana Fesmed hari pertama membahas materi tentang melawan kabar bohong di ranah digital, Palu 9 Desember 2022

DARI panggung megah.
Dengan musik yang menghentak penuh gairah.
Dan gemerlap tata cahaya yang memukau.

Selebrasi bertajuk, Semarak Media Digital 2022 itu, ingin mengabarkan kepada semesta tentang masa depan jurnalisme di daerah ini. Selebrasi dua hari, 9 – 10 Desember 2022 itu, adalah nutrisi agar jurnalisme tetap berotot menghadapi lanskap teknologi digital yang ujungnya entah macam apa.

Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulteng, Muhammad Iqbal Rasyid bilang, Festival Media yang digagas PFI, IJTI dan AMSI ini, adalah ikhtiar untuk membincangkan kembali esensi jurnalisme, saat masa depan jurnalisme di era digital belum menemukan bentuk idealnya. Semburan kabar bohong datang dari berbagai arah nyaris tak dapat dibendung. Keberlangsungan jurnalisme di era digital hingga nasib jurnalis itu sendiri masih harus dibincangkan secara serius dan dicarikan jalan keluarnya. Fesmed 2022 katanya, adalah medium untuk membincangkan itu. Harapan serupa juga disampaikan Ketua IJTI Sulteng, Hendra – Festival Media 2022 sebagai kontribusi jurnalis di daerah ini mengatasi problem jurnalisme yang datang bersamaan di era digital sekarang ini.

Berbagai isu mendasar dibahas di forum Fesmed yang berlangsung di Yojokodi Center Palu ini. Mulai dari ajakan melawan semburan kabar bohong, pentingnya skill di ranah digital hingga lanskap budaya di media digital dibahas dengan menghadirkan figur yang kapabel sebagai pembicaranya. Tema-tema itu sangat relevan dan senapas dengan posisi jurnalis sebagai proksi bagi tugas mata, telinga dan mulut publik. Pesertanya tak hanya jurnalis. Mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi tampak berjubel selama dua hari hajatan.

ARTIFICIAL INTELLIGENCE DAN MASA DEPAN JURNALISME

Di balik keriuhan Fesmed 2022, forum dua hari itu juga menjadi medium untuk melihat kembali sejauhmana kontribusi jurnalisme kepada publik yang diwakilinya. Sekaligus menjawab pertanyaan yang terus ditembakkan ke para pegiat jurnalisme. Pertanyaan kritis ini, bahkan beredar di kalangan jurnalis sendiri. Tentang bagaimana nasib jurnalisme pada hari-hari nanti. Pertanyaan retoris macam ini, pantas direnungi sekaligus dijawab para pegiatnya. Di era digital, jurnalisme benar-benar menghadapi ujian menantang. Arikel yang dibuat dari mesin robot adalah salah satunya.

Artikel jurnalistik yang diproduksi oleh kecerdasan buatan begitu gampang ditemukan. Kantor-kantor berita dunia, kini akrab dengan artificial intelligence (AI). Teknologi ini bahkan mampu menulis artikel berdasarkan algoritma yang ditentukan sang jurnalis. Cara kerja jurnalis robot dengan mengidentifikasi trend dam memublikasikannya dalam format tertentu, membuat profesi jurnalis lambat laun akan tergantikan. Kemampuan jurnalis robot yang memiliki artifical intelligence sebagaimana yang disebut Cewall & Amran 2018, bahwa jurnalisme robot merupakan teknologi yang mampu menulis berita berdasar algoritma yang diprogram oleh sang jurnalis. Kemampuannya nyaris menyamai kemampuan manusia.

Media-media besar dunia juga sudah menggunakan teknologi AI ini. Di antaranya, Bloomberg menggunakan robot bernama Cyborg. Cyiborg mampu membedah laporan keuangan dan menuliskannya dengan baik. Berita olahraga bernama The Post memilik robot bernama Heliograf yang mampu meliput pertandingan akbar olahraga. Tulisan Heliograf, bahkan memenangkan pengargaan katagori Excellence in Use of Bots oleh Global Biggies Awards.

INTERAKTIF – Presenter TV One Brigita Manohara berinteraksi dengan audiens pada Fesmed 2022 di Palu, 9 Desember 2022

Di Forum Trusted Media Summit 2022 yang berlangsung di Denpasar baru-baru ini, masa depan jurnalisme dan artificial intelligence juga dibahas secara detail. Bidang Internet AJI Indonesia – Adi Marsela yang memoderasi diskusi membekali peserta dengan pertanyaan kontemplatif.

Misalnya, apakah zaman masih membutuhkan jurnalisme?
Atau, apakah jurnalisme kelak akan hadir dalam wajah lain?
Jika jurnalisme tetap ada, apakah cukup hanya nilai-nilainya? Tak lagi seperti yang dikenal hari ini?
Tak ada simpulan atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Selain itu, tantangan jurnalisme ternyata tak hanya soal kecerdasan buatan dan keberlansungan media. Problem lainnya, jurnalisme juga dibayangi KUHP rezim Jokowi. KUHP ini disebut sebagai kolaborasi sempurna para pendamba otoritarianisme yang mengekang demokrasi dan mengancam jurnalis. AJI Indonesia memberi catatan minus pada produk undang-undang legasi Pemerintahan Jokowi ini.

Hajatan Fesmed 2022, selama dua hari itu, tak hanya tentang selebrasi keluarga besar jurnalis. Tapi juga refleksi terhadap misi jurnalisme soal kontribusinya pada publik. Pengakuan Mohamad Iriawan (21) mahasiswa pengunjung Fesmed 2022, yang ditemui pada hari pertama, 9 Desember 2022, pantas disimak. Mahasiswa jurusan komunikasi yang intens dalam kajian jurnalisme di era digital ini bilang, trend menurunnya minat publik pada jurnalisme tak semata-mata karena media sosial yang hadir dengan kecepatannya.

Jurnalis di media arus utama tidak memberi porsi ideal pada kepentingan publik untuk disuarakan. Artikel tulisan jurnalis selalu mengambil sudut pandang elit. Entah elit masyarakat, elit kekuasaan maupun elit bisnis. ”Saya tidak punya data soal porsi pemberitaan ini. Tapi saya sering ikut diskusi dan menyimak jurnal kritis dari pengamat media. Intinya seperti itu. Media cenderung meninggalkan suara-suara publik yang diwakilinya. Apa lagi jika media itu terasosiasi dengan kekuatan elit tertentu,” ungkap Iriawan panjang lebar.

Fesmed 2022 telah usai. Gemerlap lampu telah padam. Suara musik berhenti. Panggung pun kembali sunyi. Sesunyi jurnalisme mencari jalannya sendiri.

Penulis: Amanda
Foto: Abdul Rahman & Nana Rahman

Tinggalkan Balasan