WAWANCARA – Fredi Kalengke dan istrinya Sritati Rakota memberikan keterangan pers kepada wartawan di kediamannya pekan lalu

PERLAWANAN Fredi Kalengke (45) terhadap PT Poso Energy bak Daud versus Goliath dalam cerita Alkitab. Fredi Kalengke pemilik pagar sogili (Waya Masapi), di mulut Sungai Poso adalah sosok sederhana yang menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan sidat alias sogili. Ia harus kuat-kuatan melawan perusahaan raksasa milik Kalla Group, PT Poso Energy yang mengepung bangunan bambu dengan alat berat dan kapal penarik yang mengeruk material di dasar mulut sungai Poso. Buih ombak dari hentakan lambung kapal menghempas pagar sogili – terasa mengintimidasi. Seolah mengirim perlawanan terhadap bapak tiga anak ini.

Jika Daud mampu mencampakan Goliath  – maka untuk seorang Fredi masih harus dilihat seperti apa kelak akhir perlawanannya. Di depan wartawan yang menemuinya di kediamannya di Tentena Selasa 13 September 2022, ia masih belum menyerah. Otot bisepnya menyembul di antara kaos ketatnya, mengindikasikan nyala api perlawanan yang terus berkobar.

Beberapa waktu lalu, katanya ia bahkan melompat di atas kapal milik PT Poso Energy. Ia memberitahu pengerukan tidak boleh mendekat ke bangunan Waya Masapi  miliknya. ‘’Saya naik ke kapalnya, saya lihat sudah dekat dengan pagar sogili. Saya bilang stop di sini saja, jangan lewat,’’ katanya menirukan ucapannya saat berhadapan dengan operator alat berat.

KERUH – Fredi membersihkan waya masapi dengan air keruh

Di sekililing bangunan perangkap sidat itu, ia memberi batas 30 meter sebagai batas yang tak boleh dikeruk. Ia tidak merinci detail apa yang dilakukannya jika garis demarkasi itu dilanggar.  Ia khawatir pengerukan terus menerus dengan kedalaman 6 – 8 meter oleh PT Poso Energy di sekitar Waya Masapi miliknya akan mengenggelamkan aset berharganya itu.

Sepanjang wawancara, ia tak banyak menjawab pertanyaan. Istrinya, Sritati Rakota (46) yang banyak merespons pertanyaan. Termasuk menjelaskan koleganya sesama pemilik Waya Masapi berjumlah delapan yang hengkang setelah mendapat uang tebusan dari PT Poso Energy sebesar Rp325 untuk Sembilan orang.

Namun ia dan suaminya, menolak kompensasi dari perusahaan PLTA tersebut. Setiap orang menerima Rp36 juta lebih. Sedangkan bagiannya menurut Sritati tidak diambil. Praktis, kini Waya Masapi yang terletak di sekitar 70 meter dari jembatan Bukaka  (bekas jembatan Yondo mPamona) menjadi milik Fredi Kalengke sekeluarga. Jembatan Bukaka – adalah sematan baru, beberapa warga Tentena yang ditemui belum lama ini.

Ia menjelaskan, pemilik pagar sogili tersebut adalah dirinya. Ini berdasar surat wasiat orang tuanya sebagai pemilik bangunan itu sebelumnya. Namun dalam tradisi turun temurun kepemilikan Waya Masapi selalu berkelompok dengan jumlah yang ganjil. Maka mereka bersama sembilan kolega lainnya menjadi pemilik Waya Masapi selama bertahun tahun. Namun setelah delapan orang lainnya menerima uang kompensasi dari PT Poso Energy, praktis kepemilikan mereka pada aset tersebut sudah hilang sama sekali. ‘’Orang-orang ini datang sama saya, mereka menyesal telah menjual hak dan kepemilikan di waya Masapi,’’ terang Sritati kepada wartawan di kediamannya.

Fredi mengaku, sebelum kedatangan alat berat mengaduk-aduk dasar sungai, pendapatannya bisa mencapai 30 – 45 kilogram semalam, jika sedang musim sogili. Saat ini untuk mendapat 8 – 10 kilogram itu sudah cukup. Sebelumnya bahkan hanya 5 – 7 kg semalam. Ia menuding, kehadiran PT Poso Energy tak hanya mematikan mata pencahariannya melainkan juga tradisi budaya yang telah berlangsung beratus tahun.

Bagaimana pihak PT Poso Energy merespons sikap Fredi Kalengke ini? Manager Lingkungan dan CSR PT Poso Energy, Irma Suryani pada meeting zoom dengan wartawan, Rabu 14 September 2022, mengatakan, PT Poso Energy tidak bermaksud menghilangkan budaya warga setempat. Namun ia mengakui, pembangunan akan selalu membawa dampak. Baik negatif maupun positif. Waya Masapi katanya akan selalu ada bahkan setelah pengerukan selesai.

PENGERUKAN – Fredi mengingatkan alat berat tidak mengeruk material jarak 30 meter dari propertinya agar sidat tetap masuk dalam perangkap rumah sogili miliknya

Irma Suryani mengatakan, mereka sedang menata mulut Sungai Poso itu agar tidak terlihat kumuh.  Pengerukan dengan kedalaman 4 – 6 meter (bukan 6 – 8 meter) menurut dia, telah sesuai dengan analisis dampak lingkungan. Diakuinya, saat ini masih ada pihak-pihak yang menolak karena masih ada bangunan Waya Masapi di lokasi yang dikeruk. ‘’Kami akan terus melakukan pendekatan persuasive,’’ katanya.

Fredy sendiri sepanjang wawancara, mengatakan sekalipun pada kedalaman 4 – 6 meter, membuat Waya Masapi tidak efektif.  Seperti yang pernah diucapkannya dengan penulis saat menemuinya pada Mei 2022 silam, baginya mempertahankan waya masapi bukan semata soal mata pencaharian. Tapi soal mempertahankan warisan leluhur. Dia adalah generasi ketiga. Sebentar lagi generasi keempat, anak bungsunya akan meneruskan tradisi menangkap sidat tersebut.

Usaha mempertahakan hak hidup di atas tanahnya termasuk hak mempertahankan warisan budaya diakuinya, kini amat berat. Kehadiran pemodal yang sangat eksesif terhadap orang-orang kecil seperti dirinya, membuat ia merasa sedang berjuang sendiri. Pemerintah juga dianggapnya tak berpihak kepada orang-orang seperti dirinya. ***

 

Penulis     : Amanda
Foto-foto  : Amanda

Artikel terkait:
Fredi Kalengke, Melawan Hingga Titik Terakhir

 

 

 

Tinggalkan Balasan