Serba Serbi

Gadis Kretek dan Drama Dua Malam di Terminal 3 Bandara Soeta

TERSESAT DIKERAMAIAN – Gadis Kretek setia menemani selama dua malam di kerumunan orang banyak di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Banten 7 Mei 2024

DI bandara, di tengah hiruk pikuk keramaian, ada kisah-kisah yang tak tersurat pada tiket keberangkatan. Orang-orang yang ketinggalan pesawat, mereka adalah para penenun mimpi yang sejenak tersandung waktu. Dalam ketergesaan, ada kepingan harap yang masih bergelora, terbungkus dalam raut kekecewaan plus penyesalan. Sambil berdiri masygul menyaksikan loket yang lengang dan sunyi.  Sadar semuanya sudah terlambat, berikutnya mencoba menghibur diri. Bahwa ketelodoran ini memiliki hikmah di baliknya. Apa itu? Bahwa pada menit-menit berikutnya akan ada pengalaman baru, cerita baru, yang siap dituliskan.

Selain Novel Gadis Kretek & buku Koran Kami With Lucy In The Sky-nya Bre Redana, waktu dua malam satu hari di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta saya gunakan untuk memelototi potongan adegan The Terminal, film garapan Steven Spielberg yang dibintangi Tom Hanks. Film yang diangkat dari kisah nyata pria asal Iran bernama Mehran dimainkan dengan sangat apik oleh Tom Hanks. Untuk film ini Spielberg membayar 250 ribu US Dollar kepada pria yang wafat di Prancis 2022 silam, demi mengangkat kisahnya itu. Film ini berkisah tentang pria stateless, terpaksa tinggal di Bandara Charles De Gaulle, Perancis, selama 18 tahun karena ditolak di negaranya. Bahkan, tak satu pun negara di dunia yang mau menampungnya.


Tanggal 6 Mei 2024, bersama sejumlah kawan berangkat dari Palembang menuju Palu dengan maskapai Super Jet. Tiba sore hari di Bandara Soeta, Banten. Pesawat transit baru berangkat malam harinya tanggal 7 Mei (dini hari) dengan Batik Air. Masa transit terasa panjang, saya memilih tidur di terminal 1 usai mengantar koper seorang kawan asal Ambon yang malam itu menuju Pasar Minggu – Jakarta.

Terbangun, saya kemudian menuju Terminal 2, untuk persiapan berangkat ke Palu. Rasa kantuk yang menyerang terasa mengganggu. Merasa jam berangkat masih lama, saya kembali tidur di kursi di luar terminal. Kantuk adalah  bisikan alam yang mengajak jiwa untuk beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Termasuk hiruk pikuk helatan di Kota Bumi Sriwijaya sejak tanggal 1 hingga 6 Juni yang menguras tenaga. Selama helatan, tidur malam di atas pukul 02.00. Pulang jalan kaki disambut siulan dan tindakan agak ‘’beringas’’ saat memasuki pelataran hotel.

Helatan lima hari di Kota Palembang yang membetot stamina hanya menunggu waktu untuk balas dendam. Ketika kantuk menyelimuti, seakan semesta berbisik lembut, mengajak jiwa untuk beristirahat dalam hangatnya ruang tunggu bandara yang berisik. Saya pun tidur dengan harapan panggilan ke penumpang yang memekakkan telinga bisa membantu membangunkan saya.  Selebihnya  dunia terasa ringan, indah dan tenang. Keriuhan orang di terminal tiba-tiba hilang. Derit ban mobil yang direm mendadak mengejar penerbangan tak lagi terdengar. Suara menggoda penjaja kuliner di lapak bandara  terdengar lamat-lamat, lalu hilang.

Dan…!!! suara panggilan yang ditunggu-tunggu ternyata tidak ada. Jika ada, suaranya mungkin terlalu pelan –  tak cukup kuat menggedor dinding telinga. Saya terbangun,  menggamit tas berisi kaos kongres dan kemasan pempek yang terasa berat, berlari menuju antrean loket. Bertanya ke petugas bandara, ia menunjuk loket paling ujung. ‘’Untuk keberangkatan ke Palu, loket paling ujung. Lari cepat dek,’’ ucap petugas menyemangati.  Tiba di sana, loket lengang. Seorang petugas dengan gaya santai mengemasi barangnya.

Saya menghampiri petugas itu. Dia merespons santai dengan menyuruh saya beli tiket baru. Dia juga terlihat tidak ingin disibukan dengan pertanyaan penuh selidik  dari saya. Selebihnya, ia hanya menunjuk bagian pelayanan tiket yang jaraknya sekira 40 meter.  Setengah berlari, mendatangi costumer service  mencari kepastian dengan harapan ada keajaiban setidaknya dalam 3 – 5 menit ke depan. Sesampai di sana, responsnya standar saja. ‘’Reschedule saja Dek. Maksudnya  beli tiket baru, untuk flight ke Palu,’’ ucapnya enteng. Selebihnya ia tidak lagi melayani pertanyaan. Selain menawarkan penerbangan lain dengan harga yang tidak mungkin saya jangkau.

Charger HP, termasuk ATM semua sudah di lambung pesawat.  Saya mundur beberapa langkah,  bersandar di dinding  mencoba berfikir tenang.  Batrei HP makin melemah tinggal 15 persen. Membuka aplikasi penjualan tiket, dengan notif WAG yang bersahutan makin menguras tenaga HP.  Seorang petugas menghampiri dan menawarkan untuk mencari penjualan tiket. Sekira 20 menit ia mengutak atik beberpa aplikasi tiket, termasuk menghubungi koleganya, hasilnya nihil.  Tidak ada pesawat yang berangkat pada siang hari,  7 Mei 2024. Penerbangan ke Palu, baru terjadwal tanggal 8 Mei dinihari pukul 02.30.  Itu berarti dua malam harus wara wiri di seputar bandara. ‘’Ini ada penerbangan ke Palu, tapi harus ke Makassar dulu. Dari Makassar beli tiket lagi ke Palu,’’ ujarnya menyarankan. ‘’Ini opsi tidak masuk akal. Uang tidak ada, ATM sudah di pesawat,’’ saya membatin.

Dalam kegelisahan yang memuncak saya merogoh kantong celana. Upss ada amplop. Saya teringat reimburse yang saya terima untuk tiket keberangkatan dari Palu – Jakarta. Setelah dihitung, cukup untuk tiket sekalipun berangkat besok malam (dinihari). Petugas tersebut, menyuruh secepatnya membayar tiket sebelum dilego orang lain. Dengan uang di tangan, saya disuruh ke salah satu tokoh retail membayar tiket melalui dompet digital. Tiba di sana, sebelum membayar saya bertanya ke kasir apakah petugas itu tidak menipu, mengingat saya tidak punya aplikasi dompet digital yang dia sebutkan. ‘’Oh jangan Pak, jika aplikasi itu bukan milik Bapak, jangan nanti ketipu,’’ ujarnya dengan nada serius. Dengan tas yang terasa makin berat, saya balik arah menunggu shuttle bis menuju Terminal 3 membeli tiket di loket Citilink. Di dalam bus, petugas itu menelpon. Ia kirim chat, meminta segera uang segera disetor ke aplikasinya. Saya cuek. Nomornya saya blokir.

DUA MALAM MODAL Rp410 RIBU

Setelah mengantongi tiket pulang, belanja makan/minum di bandara adalah tantangan berikutnya.  Bermaksud pinjam charger, saya memaksakan pesan ayam, nasi dan jeruk hangat. Pas bayar, alamaak Rp120 ribu. Setelah itu tidak berani pesan menu lagi, kecuali roti dan air mineral. Jajanan di luar bandara jauh minta ampun. Selama dua malam satu hari di bandara, nyaris semua lekak lekuk terminal 3, tidak ada yang terlewat. Lantai dasar hingga lantai tiga semua dilalui. Labirin, koridor panjang hingga sejumlah mushola disinggahi. Empat pintu masuk utama saya lalui, sempat pula celingukan di ruang keberangkatan internasional. Mengamati pergerakan ribuan orang dengan aneka rupa motif perjalanannya. Sambil membayangkan apakah di antara mereka ada yang ketinggalan pesawat seperti saya.

Letih menjelajahi bangunan dengan fasad  tinggi megah, saya duduk menuntaskan novel Gadis Kretek dan bukunya, Bre Wedana. Di sela itu, pandangan saya tertuju pada gadis-gadis muda semampai di kafe, menyesap  sari kafein, mengunyah roti mahal sambil menyulut rokok. Imajinasi liar saya melayang jauh kebelakang. Apakah gadis-gadis kota ini, adalah karakter Jeng Yah di novel yang ditulis Ratih Kumala itu?

Di depan mushala mungil, saat memandangi keriuhan manusia di atas lanskap infrastruktur megah berbalut kaca,  saya mengulik potongan film The Terminal. Tokoh utama Viktor Navorsky (Tom Hanks) yang memerankan tokoh Mehran, terjebak 18 tahun di Bandara Internasional Charles De Gaulle, Perancis.  Bandara menjadi ‘’penjara’’ mewah yang tidak mengenakan bagi seorang individu yang merdeka.

Bukan bermaksud menyama-nyamakan.  Dan memang tidak sama. Tapi tinggal di bandara seramai apa pun itu, tetap bukan pengalaman yang ingin diulangi. Untungnya, Mehran mendapat 250 US Dollar dari Sutradara Steven Spielberg yang membuat masa depannya terjamin. Di malam kedua, usai chek in, dalam perjalanan menuju gate 28, saya merapal doa syukur untuk staf AJI Indo, yang menitip tebusan tiket, Jika tidak, maka persoalan akan makin runyam.

Di lambung pesawat saat flight attendant memeragakan standar keselamatan penerbangan sipil saya belum kepikiran untuk menebus kembali uang ini.  Dan ternyata sampai pengalaman ini ditulis, belum sempat dikembalikan ke kas AJI Palu. Hihihiiii…..!!! ***

 

 

Roemah Kata
the authorRoemah Kata
Anggaplah ini adalah remahan. Tapi kami berusaha menyampaikan yang oleh media arus utama dianggap remah-remah informasi. Tapi bisa saja remah remah itu adalah substansi yang terabaikan akibat penjelmaan dari politik redaksi yang kaku dan ketat. Sesederhana itu sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: