KONSISTENSI - Konsistensi adalah sikap pertama yang harus diambil untuk eksis pada pilihan yang diambil, interview di kediamannya, 13 Februari 2021

KESUKSESAN seseorang selalu diikuti oleh peran orang lain di belakangnya. Sekecil apa pun peran itu, akan sangat menentukan sukses tidaknya seseorang dalam perjalanan hidupnya. Berbicara kesuksesan Grup Fladica dan The Eight, maka publik tidak boleh mengabaikan sosok yang satu ini. Selain sosok sentral Sigit Purnomo Said, di sana ada Mohamad Anshar Tandju (39) yang beken dengan nama panggung Arya Tandju. Sesekali disapa Ancha.

Profesinya dijalani dalam waktu nyaris bersamaan. Mulai master of ceremony (MC), TV host hingga radio announcer. Deretan kesibukan bapak dua anak ini, kembali bertambah, usai didapuk menjadi manager Grup Fladica dan The Eight. Dua grup besutan Sigit Purnomo Said alias Pasha Ungu yang makin moncer itu.

Sejak Pasha mendampingi Hidayat, Arya  juga dipercaya menjadi Project Manager Pasha untuk menghandle sisi keartisan seorang Pasha khusus di Kota Palu dan Sulteng. Otomatis kesibukan pria metrosexual ini makin bejibun. Atribusi terakhir dipegangnya baru setahun terakhir 2020 – 2021. Atau saat Covid-19 menjadi pandemi global.

SELAMATAN – Pasha Ungu memberikan nasi tumpeng yang dinilai sukses mengembangkan Grup Fladica dan The Eight hingga bisa mencapai level seperti saat ini, Palu, 12 Februari 2021

Dalam perbincangan yang akrab dan intens di belakang rumahnya, malam 13 Februari 2021, Arya terciduk sedang mengulik beberapa akun podcast di youtube. Sambil sarungan ia mengamati sajian podcast – dunia yang tak jauh dari profesi yang digelutinya kini.

Ngana ini sudah seperti Om Bob Sadino. Diledek seperti itu, Arya terkekeh. ”Jangan Bob Sadino – ketuaan,” balasnya mengimbangi suasana cair malam itu. Bukan soal tuanya. Tapi soal cara Om Bob menikmati kesuksesan dengan santai dan happy fun. ”oh iya-iya bolehlah,” celetuknya.

Di rumahnya yang asri, Jalan Piere Tendean – kawasan yang diera 90-an dianggap sebagai Menteng-nya Palu, di sanalah ia menjalani hari-harinya. Membersamai keluarga kecilnya. Menata jadwal, ngemsi, presenter di TVRI Sulteng hingga mengatur jadwal personel di Fladica dan The Eight. Plus mengatur jadwal dibeberapa even yang dihadiri Pasha Ungu dalam kapasitasnya sebagai artis.

Dalam kesehariannya, putra bungsu mantan Pembantu Gubernur Wilayah Barat, H. Azis Tandju ini, dituntut tampil perlente. Maklum jadwal ngemsi jebolan French Culture & Language di Universitas Hasanuddin, Makassar ini memang padat. Seminggu bisa 3 – 5 kali. Belum lagi ia harus mengampu siaran di SKIF FM. Di sana pun memegang posisi penting di radio anak muda itu. Usai dari panggung MC, jadwal sebagai presenter TVRI Sulteng saban sore menantinya.

Namun di balik pencapaiannya itu, siapa sangka jika Arya harus ”berdarah-darah” untuk membangun karirnya di panggung broadcasting Kota Palu. Ia mengisahkan, puas wara wiri menjajal radio besar di Makassar, kembali ke Palu pada 2008. Datang di Palu, melihat kawan sepantarannya sudah bekerja dan sukses. Ada yang menjadi ASN, karyawan swasta dan ada yang mempunyai usaha sendiri.

Menyadari situasi itu, Arya  berkukuh, akan menjalani dunia yang menjadi passionnya. Profesi yang sudah menjadi pilihan hidupnya. Menjadi broadcaster sekaligus job MC. Ia sadar dunia kepenyiaran pada saat itu masih jauh dari Makassar. Termasuk job MC di berbagai panggung. ”Saya sadar sekali soal fenomena ini. Sehingga tidak bikin standar tinggi untuk profesi saya,” ucapnya.

Dan betul. Awal ngemsi di pesta pernikahan, ia dibayar Rp500 ribu. Dan harga itu pun masih dianggap mahal bagi si empunya pesta. Jika dibandingkan dengan profesionalitas yang ditawarkan, waktu yang tersita untuk sekali job MC – honor segitu memang membuat sesak napas. Di titik ini, ia mencoba bersikap bijak. Inilah realitas yang harus diterima. Sebagai sebuah profesi yang terbilang baru, di sebuah entitas yang memandang job ngemsi sebagai profesi kacangan. Maka menerima honor Rp500 ribu adalah realitas yang harus dihadapi.

Saat menerima honor pertama dari ngemsi itu, seketika ia pikirannya melayang jauh. Bakal seperti apa dunia MC di Palu kelak dalam beberapa tahun kedepan dengan realitas yang macam ini. Namun karena merasa passionnya di sini, maka  ia pun menguatkan hati untuk konsisten di jalan pilihannya itu.

Hingga suatu saat, karibnya mendiang Patricia Elida Tamalagi menyambanginya di Studio SKIFF FM. Dalam perbincangan yang dalam dan intens, Elida seolah memahami suasana kebatinan sahabatnya itu. ”Kau konsisten saja di sini. Pilihanmu tidak salah. Hasilnya tidak sekarang. Tapi nanti. Profesimu ini akan menemukan mometum terbaik dan kau menjadi pemain penting di sini,” ungkap Arya menirukan percakapannya dengan Elida pada medio 2008 itu. Elida tidak salah. Elida benar. Dan ia hanya meminta bersabar sebentar.

Beberapa tahun kemudian, petuah karibnya itu akhirnya terbukti. Ucapan yang diakuinya menancap kuat dalam benaknya hingga kini. Sesekali ketika menerima honor MC, wajah Elida Tamalagi sekilas membayang di depan wajahnya.

Pertemanan Arya dan Elida dimulai sejak SMP. Sama-sama lulus dari SMP Negeri 1 Palu. Anshar menghabiskan masa SMA nya di Malang. Lulus dari SMA tak langsung kuliah. Jeda setahun merawat ibunda yang mulai sakit. Tahun berikutnya, ia masuk Sastra Prancis di Unhas. Elida punya andil di sini. Karena dialah yang ”memaksa” Arya mengambil jurusan tersebut. Saat bersamaan Elida kuliah di jurusan yang sama, di Universitas Gajah Mada.

 

PESAN YANG SELALU DIINGAT – Mendiang Patricia Elida Tamalagi, kawan karib yang membesarkan hatinya untuk tetap setiap pada jalan pilihan yang diambil di dunia broadcasting

 

Usai kuliah Elida menjadi filmaker. Sedangkan Arya mencoba peruntungannya di dunia penyiaran di Makassar. Asyik kuliah sastra Prancis di Unhas, ia kepincut adik kelasnya di SMP Negeri 1 Palu, yang sama-sama kuliah di jurusan yang sama. Beberapa tahun menjalin hubungan akhirnya memilih jalan sendiri-sendiri. ”Kita pisahnya baik-baik,” katanya mengenang.

Lulus kuliah, menjajal kemampuannya di Radio Sonata FM Makassar dan Radio Prambors FM Makassar. Talenta yang terasah di Makassar itulah, yang membuatnya percaya diri masuk di dunia broadcasting Kota Palu. Pada akhirnya, pesan Elida itu memang terbukti. Saat sebelum pandemi Covid-19, ia mendapat order 3-5 kali seminggu ngemsi di berbagai even. Itu artinya mengisi job hingga 20 – 30 kali sebulan.

Seiring pandemi yang mulai masuk di Kota Palu, job berkurang. Lalu pertengahan tahun sama sekali tidak ada job. Nol order. Akhir 2020 job ngemsi mulai masuk. ”Sekarang walau masih pandemi, tawaran job mulai datang,” imbuhnya semringah.

Ia dengan bangga bilang, biaya nikahannya  dia talangi dari penghasilannya sendiri. Karena itu, saat ditanya apakah memilih MC atau presenter TV, suami Afrilia ini tampak bimbang. ”Tidak ada pilihan. Dua-duanya adalah passion saya. Gairah saya ada di dua tempat itu,” tegasnya.

Kebetulan semua keluarga mendukung. Keluarga besar, khususnya istrinya Afrilia yang telah memberinya dua anak itu sangat mendukung karirnya. Afrilia yang dipersuntingnya adalah presenter di TV Kalsel. Keduanya bertemu di even TVRI nasional di Makassar. Kenalan. Saling tukar nomor telepon. Komunikasi intens terjalin melalui smartphone. Dalam setahun, dua hingga tiga kali mengunjungi pacarnya di Banjarmasin. Tak kuat menjalani hubungan jarak jauh, memasuki tahun ketiga, keduanya mengikat janji sehidup semati di depan penghulu.

Arya percaya dunia yang digelutinya kini, adalah pilihan tepat untuk sandaran hidup ia dan keluarganya. Lalu, berapa sebenarnya honor seorang Arya sekali ngemsi? ”Ah boleh itu di bilang, te apa -apa,”? ujarnya sangsi.
Jika menggunakan standar seperti Makassar, honor di Kota Palu katanya sangat jauh. Bahkan honor terendah yang diterimanya saat ini, sama dengan yang diterimanya saat menjadi MC pemula di Makassar. Ini belum lagi kalau bicara harga pertemanan, harga keluarga dan harga langganan.

Sebagai profesional, ia menetapkan standar tertinggi di kisaran lima digit. Namun realitasnya tak sampai sebesar itu. Di beberapa event ada yang menembus itu. Tergantung yang punya hajatan. Dalam banyak kesempatan ia menerima honor di angka yang dianggapnya cukup moderat. Tidak mahal tapi tidak juga rendah – seperti hendak mengabaikan profesionalitas seorang MC. Namun ia menambahkan, sebenarnya bukan soal itu yang penting. Baginya setiap upaya yang diniatkan dan dikerjakan dengan istiqamah hasilnya akan terlihat.

Karena itulah, ia pun menyesalkan sejumlah kawan karibnya yang cepat menyerah pada keadaan. Padahal tangga pertama kesuksesan sebenarnya telah dipijak. Ujian berikutnya adalah konsistensi, membuka akses, membina relasi. Maka pada titik tertentu, benih yang ditabur akan dituai. ”Tinggal bagaimana me-maintenance sehingga tetap eksis,” ujarnya filosofis.

IKONIK – Jejak seroang Om Kota yang patut dicontoh. Kehadirannya di studio siaran tak sekadar memenuhi jadwal siaran. Kehadirannya dibutuhkan oleh pendengar setianya, broadcaster sejati

Sampai kapan ngemsi? ”ya sampai saya tidak mampu. Dan sampai orang tidak mau memakai saya lagi,” katanya terkekeh. Ia terilhami dengan sosok Om Kota atau Ayuba Yusuf Lasira. Penyiar senior RRI Sulteng. Ia kagum dengan sosok yang gemar melucu ini. Usianya yang menua namun karirnya di dunia broadcasting tak lekang oleh waktu. Menurut dia, Om Kota sosok yang sangat ikonik dalam dunia penyiaran di daerah ini. ”Ya saya salut dan ingin eksis seperti Om Kota,” harapnya.

Di samping harapan itu, espektasi tertinggi adalah mendirikan Artan School akronim dari Arya Tandju School. Sekolah yang kelak bisa melahirkan presenter muda di kota ini. Ia belum tahu kapan harapan ini akan diwujudkan. Tapi cita cita, itu sudah tersemat sejak dulu di dalam benaknya. Selama ini akunya, ia sudah terlalu banyak ”mengambil” untung di dunia yang digelutinya kini. Maka tak ada salahnya, jika keuntungan yang ia dapatkan diteruskan ke generasi berikutnya. Sama halnya, ketika Pasha Ungu yang meraih nama besar di panggung musik ingin berbagi kesuksesan pada anak muda di Kota Palu. Seperti itulah legasi yang ingin diberikan seorang Arya Tandju pada generasi setelah dia. Refleksi dari kesetiaan yang tak berujung terhadap dunia yang digelutinya kini. ***

 

Penulis       : Amanda
Foto-Foto   : Amanda, Erik Tamalagi, dok FB Info Palu

Tinggalkan Balasan