MALAM HARI - Suasana perumahan kompleks Espana Residence - Tanjung Bunga - Makassar, Sulsel, pada malam hari

SUKAR bagi siapa pun untuk menerka apa yang terjadi ke depan dalam kehidupan ini. Tidak ada yang tahu, dalam sedetik atau semenit kedepan, seseorang akan mengalami apa. Ia adalah misteri.
Terlalu banyak kejadian tak terduga yang menanti di setiap tikungan kehidupan. Sebuah ikhtiar tak selamanya berjalan sesuai yang diinginkan. Sesempurna apa pun rencana itu.

Agenda perjalanan, Palu – Makassar – Sorong yang sudah disusun dengan yang ketat dan solid, akhirnya gagal. Tepatnya gagal sebagian. Ini bukti soal ketidakbisaan mendeteksi misteri kehidupan tentang apa yang terjadi sebentar atau besok hari.

Tanggal 23 November, masuk Kota Makassar bermodal rapid test yang nonreaktif. Fakta ini membawa kepercayaan diri, bahwa test swab yang bakal dilakukan di salah satu klinik kesehatan terkemuka, di Makassar bakal negatif.

Hasrat untuk mengeksplorasi alam eksotik Distrik Segret – Sorong, terus berkelindan di kepala – bahkan saat tubuh terbenam di atas pembaringan empuk di ketinggian lantai 12 Hotel Best Western Plus, bayangan ini masih terus terbawa. Petatah petitih khas warga di pesisir Segret, dinamika kehidupan mereka, dan manis senyumnya terus saja mengganggu. Bayangan bayangan itu terus saja berkelebat-seolah di depan mata. Seolah nyata adanya.

Waktu terus bergulir. Jarum jam menunjukkan pukul 03.45 wita, 24 November 2020. Tiga jam kedepan, pukul 07.30 wita harus menjalani tes swab – syarat dokumen wajib dalam perjalanan antarprovinsi di era pandemi Covid-19. Tanpa dokumen ini – jangan harap seseorang lolos masuk di wilayah tertentu. Modal kartu tanda pengenal NKRI, dokumen sah yang diakui sejak republik berdiri tak bakal laku – jika Anda tidak ingin mendapat hardikan petugas bandara karena tak mengantongi dokumen bebas Covid-19 dari daerah asal.

untuk membunuh waktu, sembari menunggu hasil swab yang akan diketahui sore nanti, mulai menjajal suasana kota. Menemui kawan fotografer di Makassar. Menikmati kuliner khas kota itu. Sama sekali tidak ada perasaan khawatir. Dari Jakarta, terus memberikan brief sederhana tentang liputan. Dari brief yang disampaikan, sepertinya perjalanan kali ini – lancar-lancar saja. Tema dan plot cerita masih sesuai dengan outline yang disusun semalam.

DI TENDA SWAB – Suasana pengambilan sampel tes swab di halaman Rumah Sakit Universitas Hasanudin. Tes kedua ini dinyatakan tidak terdeteksi SARS CoV-2

Waktu terus bergulir. Siang hari kumpul bersama kolega seprofesi. Sore hari berburu buku di toko buku. Selanjutnya kembali ke hotel. Setengah jam menjelang magrib, saat itu tim dokter kemungkinan telah merampungkan hasil pemeriksaan sampel di laboratorium. Pada pagi hari, saat di pelataran parkir, dokter berjanji akan menyampaikan hasil pemeriksaan via telepon, sore atau malam nanti.

Pada Selasa sore, 24 November, pukul 17.33 wita, fotografer Josua Marunduh mengabarkan, hasil pemeriksaan swab.

”Hasil swab sudah keluar,” katanya dari seberang telepon.

”Dan hanya saya yang bisa berangkat,” tambahnya beberapa saat kemudian.

Dua jam setengah kemudian, pukul 20,30 wita, giliran dokter klinik yang menelepon. ”Sudah tau hasil swab. Kami tidak bisa mengeluarkan surat perjalanan untuk Anda. Anda terkonfirmasi SARS CoV-2. Kami merekomendasikan Anda untuk karantina. Hubungi nomor ini jika ingin berkonsultasi,” katanya dengan nada tegas namun tetap terdengar ramah.

Inilah positif yang tidak positif.
Positif tapi membatalkan rencana perjalanan.

LOGISTIK DI PENGASINGAN – Vitamin yang dikirimkan dari sejumlah kawan diteras rumah

Sadar tidak bisa melanjutkan agenda perjalanan, maka berikutnya adalah memberitahukan situasi ini kepada Raani Ayu – Jurnalis Kompas di Makassar. Situasi yang harus dia ketahui secepatnya – karena malam sebelumnya sempat menggelar welcome party – untuk dua orang kawannya. Dan siapa sangka – beberapa hari berikutnya, hasil swab kawan ini ternyata positif SARS CoV-2.

Sebelum menjalani karantina, sempat mengajukan tawaran ke pihak NGI di Jakarta. Minta diperbolehkan pulang ke Palu dengan modal hasil rapid test yang durasi daluwarsanya mencapai 14 hari. Tawaran yang langsung ditampik. Rumah karantina sudah disiapkan – sampai kondisi benar-benar pulih secara medis. Begitu alasannya, sehingga harapan balik ke Palu pun batal.

Belakangan diketahui dari seorang kawan – NGI tidak mungkin membiarkan kembali dalam posisi pasien terkonfirmasi SARS CoV-2 – dan memilih bertanggungjawab penuh. Termasuk menyiapkan fasilitas karantina sebagaimana standar Kemenkes untuk pasien yang terkonfirmasi virus ini.

CUKUP DI TERAS – Jika sedang ada keperluan di luar sebentar, kurir makanan cukup meletakkannya di depan teras rumah

MENJALANI KARANTINA

Pada 25 November, pukul 12.05 wita, pesan masuk memperkenalkan diri sebagai seorang dokter. Ia dokter dari Medical Pertamina. Meminta hasil pemeriksaan tes swab dan beberapa hal terkait identitas resmi. Dokter ramah ini menawarkan safe house (rumah aman).

Sesaat kemudian masuk pesan dari pengirim yang sama. Mengabarkan alamat tujuan yang dimaksud. Ia mengirimkan peta jalan dan alamat rumah yang dituju. Hingga video pendek berdurasi 10 detik, memberitahukan tempat penyimpanan kunci.

”Nanti jika ada yg kurang fasilitas disana bisa menghubungi bagian aseth ya pak,” tulisnya dalam pesan, sambil mengirimkan nomor kontak bagian aset yang bertanggungjawab terhadap rumah ini.

”Infokan sy jk sdh sampai safe house,” tulisnya lagi beberapa saat kemudian.

”Terima kasih Bu Dok. Seandainya ada keluarga di sini maka lebih memilih dihandle keluarga untuk tidak merepotkan banyak orang,” begitu bunyi WA balasan kepada dokter baik hati ini.

Sampai di safe house, berdiri di pekarangan rumah dengan dominasi off white (putih tulang) dan menara menjulang di sisi kirinya – tiba tiba nelangsa.

Siapa sebenarnya orang-orang yang mengarahkan kesini?
Siapa mereka ini?

Memberi perhatian yang begitu intens dan dalam, pada orang yang sebelumnya tak mereka kenal. Jangankan mengenal, sekadar hubungan kerja saja tidak ada.

Beberapa saat mematung di sana, tiba tiba pengendara ojek menegur. ”Sudah sampai. Bayarannya ki,” tegurnya. Seolah memahami suasana hati yang tengah gundah, ia menawarkan jasa mengambil foto di depan rumah asing itu.

INTERAKSI TERBATAS – Menyandang predikat terkonfirmasi positif SARS CoV-2, disiplin jaga jarak harus dilakukan secara ketat, termasuk dengan kurir pengantar makanan

Bermodal video pendek, selanjutnya adalah menyusuri rumput sintetis yang tertata di halaman. Dua anak kunci akhirnya ditemukan dengan mudah di antara akar bunga. Saat pintu terkuak, suasana rumah tampak baru saja ada yang menyentuhnya. Bau harum semerbak menyapa tamu asing di siang panas itu.

Di sana sini, tampak perabotan tertata rapi. Kursi bantal teronggok dengan anggunnya. Vas bunga walau tak baru, namun tampak sekali ada yang baru memperbaikinya. Atau setidaknya menyentuhnya. Bath up dan dudukan closet tampak bersih mengeluarkan harum yang menentramkan hati. Cermin mungil mengilat. Di sana terlihat sapuan halus mengesankan jika ada tangan cekatan yang membersihkannya – setidaknya sejam dua – jam yang lalu.

Malam pertama di safe house, Humas Pertamina menelpon, sehari sebelumnya pun meminta dikirimkan data pemeriksaan klinik, foto copy KTP dan nama perusahaan tempat bekerja. Ia meminta untuk mengabaikan rasa tidak enak hati – buang saja jauh-jauh perasaan seperti itu. ”Ini soal kemanusiaan. Cepat pulih dan kembali pulang. Sekali kelak kita bertemu di Palu,” demikian pesannya dengan nada ringan.

RANJANG – Selama 14 hari, ranjang ini tidak pernah digunakan. Tidurnya bisa dimana saja asal nyaman

Pada hari-hari selanjutnya, dua orang inilah yang tak lelah menelepon menanyakan keadaan. Sembari terus berpesan, jangan ada pikiran berat, olah raga pagi dan asupan vitamin yang cukup. Hari-hari selanjutnya adalah kiriman makanan dan peralatan lainnya. Ibu dokter ini menyuruh berjemur – membiarkan tubuh disengat panas- berharap bisa menampung vitamin D dari terik surya pagi. Hari kedua dan seterusnya, Pertamina mengirim menu makanan ke rumah. Saban hari selama tiga kali sehari, pengantar makanan, menelpon mengingatkan jika menu makanan sudah sampai. Atau, jika sedang di RS Unhas kurirnya memberitahu makanannya dikaitkan di pintu masuk.

Menjalani karantina akhirnya pilihan yang harus diambil. Tak ada alternatif lain. ”Jika pulang, toh tidak bisa masuk ke Palu,” begitu statemen tegas dari dokter klinik yang memberitahukan status sebagai pasien Covid-19.

Kompleks Espana Residence -Tanjung Bunga, letaknya di luar kota. Perjalanan ke pusat kota dicapai 20 menit pada saat normal. Namun bisa molor 40 sampai 60 menit jika lalulintas sedang macet.

KIRIMAN DARI TEMAN – Kiriman vitamin dan makanan ringan dari kawan di Makassar

Tinggal di kawasan perumahan ekslusif, yang keamanannya dijamin 1 x 24 jam, memberi pengalaman lain.

Kompleks perumahan dimana penghuninya membeli motor, bukan untuk trasportasi utama. Melainkan untuk mengedrop sampah di TPS di dalam kompleks. Atau sekadar membeli rokok dan sabun colek di toserba waralaba yang berjarak 100 meter dari pos satpam.

Empat belas hari di kompleks ini, merasakan bagaimana saat datang dan pergi mendapat anggukan hormat dari penjaga. Merasa diperlakukan sebagai warga kelas satu.

Empat belas hari menyaksikan saban pagi ibu paruh baya datang membersihkan dedaunan kering di halaman rumah.

Empat belas hari, berinteraksi dengan kurir pengantar makanan. Dan hanya berkomunikasi lewat daun pintu tembus pandang. Atau sesekali lewat telepon.

Empat belas hari, selonjoran kaki di atas rumput sintetis yang terhampar di pekarangan, berharap anugerah alam sinar matahari pagi yang menghunjam kulit tanpa ampun.

Empat belas hari ongkang kaki mengikuti debat elit di media online, tentang vaksin Covid yang tampak lebih kental nuansa politiknya daripada isu medisnya.

KAMAR LANTAI DUA – Lantai dua di rumah ini terdapat empat kamar. Memberanikan diri naik di lantai dua saat hari terakhir – menjelang keberangkatan menuju bandara

Empat belas hari menghabiskan data internet menonton serial The Crown di aplikasi bioskop daring – Netflix.

Empat belas hari menerima telepon dan membalas obrolan berisi dukungan moral dari kerabat dekat maupun kawan jauh.

 

Empat belas hari terbebas dari rutinitas ruang redaksi, menguber narasumber yang kadang sok penting padahal asbun, yang kemungkinan berkontribusi terhadap turunnya imunitas tubuh.

Empat belas hari, dimana semangat hidup terjun bebas. Dan merasa tak sedang sendiri walau harus terkurung tembok pengasingan.

INTERIOR MINIMALIS – Desain interior minimalis moderen di rumah ini menawarkan kenyamanan bagi penghuninya

Empat belas hari, menikmati suara renyah dari telepon serta doa doa dari handai taulan, kerabat dekat, kerabat jauh, kolega sepermainan yang puluhan tahun tak bersua, bahkan orang-orang yang kita tak mengenalnya – dia pun tak mengenal kita, bersusah susah memberikan perhatian yang intens dan dalam.

 

Empat belas hari, terasa panjang jika dimaknai sekadar sebuah aktivitas mengurung diri untuk memutus mata rantai virus.

Namun, Empat belas hari adalah tempo yang singkat untuk mengenal meresapi keintiman dan perhatian orang-orang pada saat semangat hidup sedang tidak bagus.

Empat belas hari itu, pun menjadi sadar – ternyata di bumi yang ramai ini, kita sedang tidak sendiri. Entah itu pada saat senang maupun sungkawa.

Dan memang, di tengah kompetisi hidup yang makin keras dan mematikan – di luar sana, berdiri selaksa orang dengan kepeduliannya yang tinggi. Jumlah mereka jauh lebih banyak dari orang-orang dengan hati bebal yang secara sadar menangguk untung ilegal, senilai Rp10 ribu dari setiap dari paket bansos. Bantuan yang dipersembahkan negara untuk warganya yang terdampak pandemi ini, diembat oleh elit yang miskin empati dan kurangajar.

SUARA NETIZEN – Dukungan moral dari netizen

Contoh terbaik bahwa betapa orang-orang baik itu senantiasa ada, adalah, saat di dalam perut pesawat kembali ke Palu, ketika flight attendant sedang demo standar keselamatan penerbangan sipil, telepon yang belum sempat dimatikan, tiba tiba bergetar. Dari seberang sana,  suara kurir pengantar makanan menanyakan alamat rumah. ”Alamatnya di Jalan Costa Del Sol Pak?, makan siangnya saya gantung di pintu ya,” ***

Penulis             : Amanda
Foto – Foto       : Amanda

Tinggalkan Balasan