INDAH - Pemandangan pantai dengan pasar putih di Pantai Bambahano, Jumat 25 Juni 2021

IDEALISME adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda. Kalimat ini pas untuk untuk menggambarkan geliat sekelompok pemuda di Desa Sabang. Idealisme itu yang mendorong mereka berjibaku membenahi desa. Mengoptimalkan sumber daya desa yang tidak saja memberi nilai tambah pada diri mereka. Tapi juga masyarakatnya. Di atas itu, anak-anak muda ini memberi asupan batin kepada penikmat senja, pemuja pantai dan pemburu kehangatan alam bahari – sesuatu yang tidak bisa diukur dengan uang tentunya. Pemuda yang stereotype sebagai pembuat onar – perlahan dan pasti mulai mengepakkan sayapnya ke sektor produktif.

Sabang sebuah desa kecil berjarak 152 kilometer dari Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah ini, terletak di Kecamatan Dampelas, Donggala. Dengan perjalanan 3 – 4 jam, pengunjung sudah bisa menikmati butir pasir putih bak kristal yang menghampar indah di depan mata.

Namun artikel sederhana ini tidak untuk mengeksplore keindahan alam di desa yang bertetangga dengan Danau Talaga itu. Tulisan soal pasir putih, pantai bening, karang indah dan jalur tracking yang sejuk, ulasannya berserakan dibanyak tempat.

Namun tak banyak yang tahu. Di balik pesona alam pantai dan buih ombak yang lembut menyapa kaki, terdapat tangan-tangan terampil plus ide dan gagasan yang terkontribusi dari anak-anak muda berusia 16 – 32 tahun di desa itu. Cerita sukses wisata bahari di Desa Sabang ini tak bisa lepas dari peran anak-anak ini yang berjibaku di tempat itu. Mereka bukan anak-anak kota yang terbiasa mengulurkan tangan ke orang tuanya, minta dibelikan pulsa data atau nongkrong di kafe, sambil menggibah artis Korea pujaannya.

Mereka adalah anak muda yang terbiasa menyelesaikan tantangan hidupnya dengan caranya sendiri. Ada yang putus sekolah. Ada lulusan SMA yang tak sempat mengecap pendidikan tinggi di universitas. Ada yang kadung dicap sebagai common enemy karena sering berbuat onar.

EVALUASI – Suasana rapat evaluasi terkait pelayanan bagi pengunjung, Jumat 25 Juni 2021

Seperti yang terlihat Jumat 25 Juni 2021, pekan lalu. 14 orang duduk melingkar. Sembilan pria dan lima perempuan duduk santai di atas pasir. Di depannya berdiri, Nawir Pagessa Ketua LPM Desa Sabang dan Handri (32) memimpin rapat evaluasi sekaligus rapat persiapan menghadapi lonjakan pengunjung yang terjadi pada akhir pekan – Sabtu, Ahad. Di lingkaran itu, hanya Nawir Pagessa yang terlihat sudah berumur. Sisanya anak-anak berusia belasan tahun. Namun mereka tampak serius menyimak isi pembicaraan – sambil sesekali membidikan kamera handphone mengabadikan sinar keperakan yang berpendar di atas laut. Sebentar lagi matahari terbenam. Rapat yang berlangsung sejam itu, digelar usai kerja bakti di lokasi Camping Ground – Pantai Bambahano – Sabang.

”Kita selalu menggelar rapat untuk mengevaluasi apa yang harus dan belum dilakukan untuk melayani pengunjung,” ungkap Handri usai rapat, pekan lalu.

Pantai Bambahano dengan pantai eksotiknya, sudah lama dikenal. Enam tahun ditangani dengan managemen seadanya oleh generasi tua, kini Pantai Bambahano yang lain menyebutnya Bambarano, berubah menjadi destinasi wisata pantai yang bisa dibanggakan. Bangga, bukan sekadar indah alam pantainya. Tapi juga managemennya yang berangsur membaik. Walau belum ideal. ”Kami terus memperbaiki managemennya. Pariwisata tak hanya alam indah atau infrastrukturnya. Tapi bagaimana keterlibatan orang-orang di dalamnya,” ungkap Handri memulai pembicaraan.

Handri adalah pemuda lajang. Meninggalkan pekerjaannya di Palu. Pulang kampung. Bersama kawan sedesanya, membenahi infrastuktur pariwisata untuk meningkatkan pendapatan warga pemuda di desanya. Dianugerahi pasir dan laut bening, hutan pantai yang hijau, oksigen yang bebas polusi, membuat Pantai Bambahano menjadi destinasi wisata yang ideal untuk rehat dari kepenatan hidup. Namun sumber daya yang melimpah itu, tidak berarti apa-apa. Ia akan teronggok begitu saja, tak memberi nilai tambah apa-apa jika magajemennya tidak diurus dengan baik.

Berangkat dari kesadaran itu, sekira 20-an pemuda desa, mengorganisir diri dalam Lembaga Pemberdayaan LPM) Desa Sabang yang dipimpin Nawir Pagessa – mantan Komisioner KPU Donggala. Bersama-sama mengerahkan tenaga dan pikiran mereka membenahi alam Pantai Bambahano – menjadi tujuan wisata terbaik di Donggala.

KERJA BAKTI – Kerja bakti membersihkan sampah yang ditinggalkan pengunjung menjadi agenda rutin yang dilakukan setiap sore, Jumat 25 Juni 2021

Menurut Handri, LPM diberi kepercayaan penuh untuk mengelola pariwisata Pantai Bambahano oleh pemerintah desa. LPM membawahi beberapa sektor. Salah satunya adalah sektor pariwisata. Di sini ia dipercaya sebagai ketua sektor pariwisata. Keberadaannya pun belum lama. Baru sekira dua bulanan. Tugas yang diembannya memastikan kenyamanan pengunjung. Memerhatikan fasilitas penunjang. Termasuk menyiapkan sumber daya untuk melayani pengunjung. Ada 20-an orang yang terlibat secara penuh. Puncak kesibukan terjadi pada akhir pekan. Lonjakan pengunjung dalam dua hari itu, jelasnya bisa mencapai ribuan. Pada akhir idul fitri lalu, pengunjung mencapai 11 ribu orang.

Nah hal terberat baginya adalah menyediakan sumber daya manusia yang mumpuni. Pariwisata sebagai bisnis jasa, memerlukan keterampilan pengelola yang memadai. Karena itu unsur manusia menjadi faktor penting. Semangat pemberdayaan yang diusungnya, ia bertekad agar orang-orang tersebut dengan pengalaman nol harus dipaksa bisa.

Ia berprinsip, sumber daya desa harus bisa dinikmati sebesar-besarnya untuk warga desa. Saat merekrut pengelola, ia memprioritaskan pemuda desa yang belum mempunyai pekerjaan. Bahkan ada yang dicap sebagai tukang ribut di desa pun direkrutnya. Tujuannya memberdayakan pemuda, agar para mereka mempunyai penghasilan sendiri. Selain itu, jika mereka disibukan dengan urusan-urusan produktif, akan mengurangi angka kriminalitas desa yang biasa dipicu oleh anak-anak muda yang tidak mempunyai pekerjaan. ”stereotype pemuda desa kan pembuat keributan. Nah ini kita beri dia kesibukan yang positif,” kata Handri menambahkan.

Karena itu, dalam salah satu pertemuan dengan pemerinta desa, ia lantang mengungkapkan, desa jangan terlebih dulu berfikir berapa yang disetor kas desa. Desa harus memprioritaskan pemberdayaan warganya. ”Dipertemuan itu, saya bilang jika perolehan tiket 1 juta. Tidak apa-apa kalau desa hanya kebagian 300 ribu. Asalkan pemuda desanya terberdayakan dulu. Itu juga membantu desa mengatasi warganya dari pengangguran. Kalau semangatnya pemberdayaan, maka pengelolaan wisata Bambahano harus memberdayakan warganya dulu,” ungkap Handri menirukan ucapannya di depan pemerintah desa.

Dari sana, kemudian disepakati pengelola mendapat jatah 40 persen. 10 persen untuk lembaga sosial seperti perbaikan dan pengadaan properti rumah ibadah. Kemudian desa kebagian jatah 50 persen. Jatah 40 persen bagi pengelola lanjut Handri didistribusi bagi 20 orang yang terlibat di dalamnya. Mereka tersebar di bagian loket, pengawasan area parkir, penyediaan air bersih dan keamanan, tukang angkut sampah. Sedangkan kebersihan menjadi tanggungjawab bersama. ”Tiap sore kita kerja bakti,” jelasnya.

Setiap shift bertugas dua hari dalam seminggu – Sabtu-Ahad. Kunjungan tertinggi memang didua hari itu. Minggu berikutnya gantian tim yang lain. Jika pengunjung sedang baik, setiap orang bisa mengantongi Rp200 ribu – Rp300 ribu per orang. Menurut dia, itupun tidak sumber pendapatan di objek wisata itu ditangani oleh LPM. Ada beberapa sumber pendapatan di lingkungan Pantai Wisata Bambahano dikelola oleh desa. Pengelolaan pondok (cottage), sewa lapak, sewa alat kemping dan perahu wisata, pengadaan air bersih, tidak masuk dalam kas pendapatan LPM. Tetapi menjadi kewenangan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Ini sesuai Perdes Nomor, 4/SB/IV/2021.

Mengutip Perdes Nomor 4 tersebut, sewa cottage sebesar Rp250 ribu/malam. Sewa alat-alat kemping, tenda Rp50/malam, hammock Rp10 ribu/malam, charger HP Rp5 ribu hingga penuh, air bersih Rp2500/jerigen (kapasitas 5 liter). Sewa perahu sebesar Rp10 ribu per kepala juga tak masuk dalam klaim mereka. ”Saya ingin kedepannya ini semua bisa dibicarakan sehingga semangat pemberdayaan bisa lebih terasa bagi warga pemuda di sini, tak sekadar jargon semata,” harapnya.

Satu-satunya sumber pendapatan LPM Pariwisata adalah tiket masuk sebesar Rp5 ribu per kepala pada hari biasa dan Rp10 ribu pada Sabtu-Ahad.

MALAM PURNAMA – Pasir putih menghampar menjadi panggung terbuka bagi pengunjung pantai menikmati purnama, Jumat 25 Juni 2021

Bagi Handri dan Nawir Pagessa, masih terlalu banyak ikhtiar yang mereka ingin kembangkan untuk membuat wisata Pantai Bambahano tak sekadar seperti yang terlihat saat ini. Kedepannya, ingin mengembangkan wisata hutan mangrove di sekitar pantai. Wisata perahu Pantai Bambahano menuju Danau Talaga melalui akses sungai. Untuk mewujudkan ini, pihaknya tengah melakukan komunikasi dengan otoritas di desa tetangganya itu. Kelak jika rencana ini terwujud, tak sekadar memberi pilihan bagi pengunjung atas wahana yang beragam. Atau meningkatkan pendapatan desa. Namun terpenting tercipta hubungan mutualisma antarpemuda di dua desa bertetangga itu, yang kadang-kadang bermasalah dipicu oleh hal-hal yang tidak penting. ”Saya melihatnya dari sisi itu. Soal keuntungan ekonomi itu juga penting. Tapi kerukunan bertetangga juga tak kalah penting,” ujarnya memungkasi.

Kepak sayap pemuda Desa Sabang kini makin tinggi. Meninggalkan kenangan kelam para pemuda desa yang diasumsikan tukang onar.
Meninggalkan stempel sebagai pemantik keributan.

Karena itu, jika preambule tulisan ini diawali dengan kutipan Tan Malaka seorang tokoh bangsa yang tak familiar dalam sejarah mainstream Indonesia, maka akhir tulisan ini penting pula ditutup dengan kutipan Nick Love. Seorang sutradara dan penulis film Inggris.

”Dua hal yang merevolusi hidup, pindah ke pedesaan dan jatuh cinta”. ***

Penulis      : Amanda
Foto-foto   : Amanda

Tinggalkan Balasan