PETANI TAK DIANGGAP – Yosafat menunjuk tanahnya yang tidak bisa ditanami di Desa Tonusu, Desa Soulopa Bawah 10 September 2022

YOSAFAT Tabasi (59)  tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Semburat kecewa tampak jelas di wajahnya. Dibakar terik pukul 14. 32, Yosafat terlihat tak hanya garang, tapi juga resah dan kecewa. Yosafat adalah warga Tonusu Kecamatan Pamona Pusulemba, Kabupaten Poso. Sejak tiga tahun ini, ia memendam kekesalan. Harapan menyemai masa depan untuk keluarga kecilnya di atas tanah miliknya, harus  pupus tatkala kebun jagungnya seluas satu hektar tak hanya tak mendapat ganti rugi. Tapi juga tak dianggap.

Yosafat bersama 31 petani jagung lainnya di Desa Tonusu – Saulopa Bawa, tanahnya terendam air dari Danau Poso. Sama dengan sawah petani lainnya di sekitar Danau Poso, lahan miliknya tidak bisa ditanami. Air menggenang disetiap jengkal tanahnya. Hilir sungai Poso yang dibendung oleh PT Poso Energy, perusahaan swasta milik Kalla Group mengakibatkan naiknya permukaan air dan menyasar kebun jagung milik Yosafat dan kawan-kawan.

Tampil energik dengan artikulasi suaranya jelas serta intonasi yang terjaga, Yosafat tak punya tongkrongan sebagai tukang protes alias demonstran. Ia memang  ideal sebagai seroang pengajar di sebuah yayasan pendidikan di Kota Tentena. Profesi  yang telah dijalaninya bertahun tahun. Namun itu coba dienyahkannya. Penampilan strerotype sebagai guru yang tampil necis seketika hilang. Ia tampil sangar saat menjadi demonstran – pun saat menyampaikan nasib kawan-kawannya di kepada wartawan, di kebunnya di Saulopa Bawa, Desa Tonusu, Sabtu 10 September 2020.

Bermodal sebagai pendukung berat Rusdi Mastura pada pilkada Gubernur 9 Desember 2020 lalu, ia meninggalkan kampung halamannya Desa Tonusu, menuju Kota Palu. Di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah itu, Yosafat dan kawan-kawan berharap tak hanya dijamu oleh Gubernur. Tapi diterima pula aspirasinya oleh Gubernur pujaannya yang dalam pilkada 9 Desember 2020 lalu diperjuangkannya dengan sungguh-sungguh itu.

Namun harapan untuk diterima oleh Gubernur pilihannya itu tak terbukti. Saat menyampaikan aspirasi ia dan kawan-kawannya tidak diterima Gubernur. ‘’Saya ini pendukung Cudi. Tapi datang di Palu saya diabaikan,’’ katanya kepada jurnalis. Sebagai pendukung maupun sebagai rakyat yang butuh jalan keluar dari pemimpin ia mengaku kecewa dan sikap pemerintah. ‘’Selama kesana,  saya sampaikan aspirasi tapi tidak berhasil’’ ucapnya lagi. Ia termasuk salah satu petani yang terlibat dalam aksi cor kaki di depan Kantor Gubernur,  25 Mei 2022 silam.

Sesaat, ayah dua anak itu, mengangkat kaos lengan panjang yang membelit tubuhnya. Ia menarik kaos kusam yang melekat di tubuh bermandi peluh itu, dari sana menyembul kaos gambar Rusdi Mastura – Ma’mun Amir menggunakan peci hitam.  Sebagai pendukung setia, pengajar bahasa Inggris di beberapa sekolah di Tentena, masih  setia dengan kaos kampanye pilkada itu. ‘’Sekarang masih mendukung Pak,’’ goda wartawan. Ia hanya merespons dengan senyum tipis.

Yosafat melanjutkan. Pada saat kebunnya tak bisa lagi ditanami, maka penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari praktis tersendat. Anaknya yang duduk di semester 4 terancam terhenti melanjutkan kuliah karena ketiadaan biaya. Padahal, di atas sehektar tanah, ia bisa menghasilkan sedikitnya 6 ton jagung yang siap jual. Jika sekilo dihargai Rp4 ribu x 6 ton, penghasilan kotor mencapai Rp24 juta untuk sekali panen. Setahun, petani jagung seperti dirinya bisa  dua kali panen.

PETANI TAK DIANGGAP – Yosafat menunjuk tanahnya yang tidak bisa ditanami di Desa Tonusu, Desa Soulopa Bawah 10 September 2022

Saat berhenti menanam jagung, masalah keuangan pun mulai menghampiri keluarga kecilnya. Honor dari mengajar di sekolah-sekolah di Tentena – menurutnya tidak mampu menutupi kebutuhan anaknya yang kuliah dan sekolah di SMA. Pilihan paling gampang adalah menjadi buruh di kebun tetangga. Dengan upah Rp80 ribu sehari. Itupun tidak saban hari mendapat orderan dari kebun kawannya.

Sebenarnya, petani korban yang nyambi sebagai tenaga pendidik di yayasan tempat mereka bekerja, tak hanya dirinya. Namun sejumlah koleganya enggan bahkan takut bergabung bersama dirinya. ‘’Takut sama pengurus yayasan, nanti dikeluarkan kalo ikut demo,’’ tandas Yosafat mempertegas pilihan sikapnya itu.  Menurut dia perjuangan kolektif harus dilakukan untuk memberi tekanan pada para pihak.

Lalu apa dampak ikutan yang dirasakannya saat ini? Ditanya demikian, sampai hari ini, ia tidak bisa melunasi utangnya di bank yang digunakan untuk modal awal mengolah kebun jagung. Utangnya sebesar Rp70 juta. ‘’Baru dibayar setengahnya. Sisanya belum masih nunggak,’’ katanya. Padahal, untuk memperoleh kredit sebesar itu, ia harus memberikan agunan sertifikat rumah dan kebun.  ‘’Biar KUR tetap saja pake jaminan,’’ ungkapnya terkekeh.

Merasa dirinya sudah kalah tepatnya dipaksa kalah oleh korporasi, Yosafat dan beberapa kawannya mulai pasrah. Menerima berapa pun ganti rugi yang diberikan PT Poso Energy. Toh jika bertahan, lahan tidak bisa lagi digunakan untuk menanam palawija. Maka ia dan kawan-kawannya menawarkan Rp250 ribu per are. Namun tawaran itu, tidak pernah digubris. Di mata perusahaan aku Yosafat, ia dan kawan-kawannya dianggap petani yang tidak terdampak.

Irma Suryani Manager Lingkungan dan CSR PT Poso Energy, membantah klaim Yosafat ini. Pada diskusi zoom, bersama wartawan, Rabu 11 September 2022, bilang, kawasan kebun jagung di Saulopa Bawah – Desa Tonusu, bukan daerah terdampak oleh penutupan pintu air pada 2019 lalu. Karenanya,  lahan petani di Desa Tonusu tidak masuk dalam skema ganti rugi yang dibayar oleh perusahaan yang bernaung di bawah Kalla Group ini.

DISKUSI ZOOM – Suasana pertemuan daring (zoom) wartawan dengan pihak PT Poso Energy, Rabu 14 September 2022

Dilihat dari kontur tanah posisinya lebih tinggi, sehingga tidak dimasuki air. Karena itu, sambung Irma, tanaman palawija di Desa Tonusu tidak termasuk yang mendapat ganti rugi. Bahkan Yosafat dan kawan-kawan sudah mengajukan  klaim yang harus dibayar ke PT Poso Energy. Tapi tidak dilayani.

Sebelumnya, rombongan wartawan melakukan reportase di Desa Tonusu (Soulopa Bawa) di kebun milik Yosafat dan kawan-kawan. Di sana, Yosafat menunjukan garis batas air di pondok kebun  milik kawannya. ”Di sini batas airnya. Koq dibilang tidak masuk air,” sanggah Yosafat.  Tak hanya, Yosafat warga Tentena lainnya juga mengaku melihat langsung  tanaman palawija terendam pada 2019 lalu. ”Ada koq fotonya sama saya,” ungkap petani yang meminta namanya tidak disebut.

Yosafat dan petani lainnya di Desa Tonusu – Saulopa Bawah, berpuluh tahun mengolah tanahnya. Menabur benih demi menuai  masa depan. Harapan itu hilang. Yosafat  berharap beberapa ratus ribu untuk ganti rugi yang timpang. Itu pun pupus. Mereka hanya kumpulan petani yang tak dianggap. ***

Penulis      : Amanda
Foto-foto   : Amanda

artikel terkait: Pemiskinan Pelan – Pelan Berlangsung di Desa Meko

Tinggalkan Balasan